Jakarta (28/9/2026) – Koalisi Perempuan Indonesia Peduli Al-Aqsa (KPIPA) melakukan kunjungan silaturahmi ke pengurus Muslimat Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) di Kantor Pusat DDII, Jakarta, Senin (28/9).
Kunjungan yang dipimpin langsung oleh Ketua KPIPA, Nurjanah Hulwani ini bertujuan untuk mengenal lebih dekat perjuangan Muslimat DDII sekaligus meneladani sosok tokoh-tokoh pendiri DDII dalam gerakan dakwah.
Rombongan KPIPA disambut hangat oleh Ketua Muslimat DDII, Hartini Dg Saido, beserta jajaran pengurus.
KPIPA: Rumah Besar Perjuangan Perempuan untuk Palestina
Dalam pertemuan tersebut, Nurjanah menjelaskan latar belakang pendirian KPIPA.
“Tujuan KPIPA adalah menjadi rumah besar perjuangan perempuan Indonesia dalam membela Palestina. Kami sengaja mengambil tanggal 17 Agustus sebagai tanggal berdirinya KPIPA, untuk mengingatkan setiap merayakan kemerdekaan, bahwa Palestina belum merdeka,” ujar Nurjanah.
KPIPA didirikan oleh 10 ormas perempuan untuk fokus pada isu Palestina. Prinsipnya, ormas mewakili KPIPA mengurus dakwah di dalam negeri, dan KPIPA mewakili ormas mengurus Palestina.
“Di tengah kesibukan mengurus dakwah dalam negeri, kita harus tetap mengurus Palestina. Kita tidak bisa membantu Palestina jika kondisi dalam negeri belum baik, namun sebaliknya kita juga tidak boleh melupakan Palestina,” tambahnya.
Nurjanah juga menjelaskan posisi KPIPA di kancah internasional. KPIPA merupakan cabang dari Global Women Coalition for Quds and Palestine (GWCQP) yang berpusat di Turki dan membawahi 61 negara. Di tingkat regional, KPIPA bergabung dalam Asia Pacific Women Coalition for Quds and Palestine (APWCQP) yang membawahi Indonesia, Maldives, Thailand, dan Malaysia.
“Indonesia harus menjadi contoh dalam membela Palestina. Kekuatan kita ada pada kolaborasi 10 ormas pendiri ini. Jika kolaborasi ini sudah berjalan seperti yang diharapkan, kita akan membuka jaringan lintas agama,” tegasnya.
Nurjanah juga menyampaikan kondisi terkini di Gaza yang memprihatinkan. 70% wilayah Gaza sudah dikuasai Israel. Warga hidup seadanya di tenda-tenda sempit, 1 toilet untuk 850 orang, dan 60 ribu ton sampah menumpuk di mana-mana.
“Perjuangan Palestina tidak hanya di bidang edukasi, tetapi juga dana. Karena itu KPIPA mengelola wakaf produktif dengan mengelola uang wakaf untuk bisnis, dan keuntungannya digunakan untuk perjuangan Palestina,” jelas Nurjanah.
Untuk memperkuat gerakan, KPIPA terus mendorong pembentukan cabang di seluruh Indonesia. Saat ini sudah ada Koalisi Daiyah, Koalisi Perempuan Muda Indonesia Peduli Palestina (KPMIP), Perempuan Seni untuk Palestina (PUSPA), serta cabang di Sumut, Jawa Barat, Depok, dan akan segera buka di Bangka Belitung.
Muslimat DDII: Dari Pengajian Masjid hingga Jaringan Dakwah Nasional
Ketua Muslimat DDII, Hartini Dg Saido, menyambut baik kunjungan delegasi KPIPA dan menjelaskan sejarah panjang DDII dan Muslimat DDII.
DDII didirikan tahun 1967 oleh para tokoh pendiri NKRI seperti M. Natsir dan A.M. Rasyidi yang merupakan tokoh Masyumi. Tokoh-tokoh ini kemudian memutuskan untuk fokus di bidang dakwah. Dakwah DDII bersifat syamil yang mencakup politik, pendidikan, dan ekonomi.
Di era reformasi, DDII mendirikan Partai Bulan Bintang (PBB). Hingga kini DDII konsisten mengirim da’i ke pedalaman. Tahun ini saja 120 da’i ditugaskan berdakwah ke pedalaman.
DDII juga mendirikan Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah (STID) M. Natsir secara gratis. Lulusannya menjadi kader da’i yang dikirim ke pedalaman.
Sementara itu, Muslimat DDII berawal dari pengajian di Masjid Al-Furqan. Tahun 1982 didirikan Muslimat Al-Furqan, tahun 1985 dibuka pengajian rutin, dan pada tahun 2011 resmi didirikan Muslimat DDII dengan akte notaris yayasan.
“Muslimat DDII mendukung dan membantu semua visi misi DDII. Kami membuat kaderisasi daiyah bertahap dimulai dari pusat, mengajak organisasi mahasiswa dan perkumpulan perempuan sebagai kader,” kata Hartini.
Beberapa program unggulan Muslimat DDII antara lain:
- Dakwah Lapak: Dakwah kepada pemulung dengan membawakan sembako dan melaksanakan pengajian.
- Dakwah Lapas: Pembinaan di Lapas dan Rutan Perempuan.
- Program Baiti Jannati: Aktivitas persiapan pra-nikah, konseling keluarga, pembinaan remaja, dan konseling waris.
- Penguatan Kejamaahan: di antaranya Solidaritas Dunia Islam. Bantuan untuk dunia Islam dikelola elalui LAZNAS DDII, termasuk untuk Palestina. Bahkan DDII mendirikan camp di Rohingya untuk membantu umat di sana.
Saat ini Muslimat DDII telah memiliki 17 wilayah di seluruh Indonesia.
Pertemuan diakhiri dengan komitmen untuk memperkuat sinergi antara KPIPA dan Muslimat DDII dalam penguatan dakwah di dalam negeri dan pembelaan terhadap Palestina.







