Di Forum Perempuan Iman dan Kebebasan IsDF MUI, Ketua KPIPA: Aksi Bela Palestina Harus Terus Dilakukan

by

Jakarta (21/10/2026) – Aksi bela Palestina harus terus dilakukan oleh semua lembaga dan organisasi. Hal itu disampaikan oleh Ketua Koalisi Perempuan Indonesia Peduli Al-Aqsa (KPIPA), Dr Nurjanah Hulwani, saat menjadi Narasumber pada Forum Perempuan Iman dan Kebebasan yang diselenggarakan oleh Islamic Dakwah Fund (IsDF) MUI bekerja sama dengan Komisi Perempuan, Remaja dan Keluarga (KPRK) MUI, Rabu (21/10).

“Aksi-aksi harus terus kita lakukan dalam media apapun, termasuk di media sosial, di ruang-ruang dakwah, juga di forum-forum diskusi formal maupun informal. Semua itu sampai kepada saudara kita di Palestina, bahwa mereka tidak sendiri,” ucap Nurjanah dalam materi bertema “Perempuan Indonesia dan Gerakan Solidaritas untuk Palestina: Dari Kepedulian Menuju Aksi” di Kantor MUI, Menteng.

Ia kemudian memaparkan kondisi Gaza yang tidak baik-baik saja. “Selama tiga tahun hak mendasar anak dan perempuan di Gaza dirampas penjajah Israel. Tidak ada tempat tinggal yang layak, kebutuhan makan minum sangat minim, sarana kesehatan tidak memadai, ditambah hidup tidak tenang karena kapan saja bisa terjadi pengeboman.”

Nurjanah juga menyampaikan terimakasih kepada MUI yang berada di garda terdepan menyuarakan pembelaan terhadap Palestina. Satu bulan setelah penyerangan Israel kepada rakyat sipil Gaza pada 8 November 2023, MUI mengeluarkan fatwa haram membantu Israel dan wajib membantu Palestina.

Selain Nurjanah, forum bertema “Perempuan Lintas Iman dan Bangsa: Solidaritas Kemanusiaan untuk Palestina” juga menghadirkan Sumeyra Akdeniz Ordu (Steering Committee Global Sumud Flotilla), Annisa Theresia Ebenna Ezeria Pardede (Aktivis Kemanusiaan Palestina/Mantan Anggota DPR RI), dan Dr. Maimon Herawati (Aktivis Kemanusiaan/Jejaring GSF Indonesia).

Sumeyra Akdeniz Ordu menceritakan perjalanannya saat memutuskan ikut berlayar bersama aktivis lain dari berbagai negara. Ia mengalami penculikan di perairan internasional, penyiksaan dan dipaksa untuk melepas hijab oleh tentara Israel. Kemampuan berbahasa Inggris dan kekuatan bertahan dari manipulasi pejajah membawanya bisa tetap mempertahankan hijabnya. Bahkan hijab inilah yang dibagi kepada dua orang Turki lain yang dipaksa melepas hijab di penjara.

Annisa Theresia Ebenna Ezeria Pardede yang lebih dikenal dengan Tere menegaskan bahwa pembela Palestina datang dari berbagai latar agama, bangsa, dan profesi.

Sementara itu, Maimon Herawati, menyampaikan bahwa solidaritas yang menjadi gerakan dapat dimulai dengan hal-hal sederhana namun dilakukan secara rutin. Misal, menyebar info Palestina rutin di grup WA, boikot produk penjajah dalam setiap belanja, hingga memasukan do’a dan kabar Palestina dalam setiap acara.

Tampak hadir para pimpinan perempuan wantim & DP MUI, pimpinan perempuan LAZ, ketua Ormas Islam perempuan, influencer Chiki Fawzi, serta awak media.

Kegiatan ini merupakan ruang dialog dan pertukaran pengalaman gerakan perempuan
Indonesia dengan aktivis kemanusiaan serta jejaring Global Sumud Flotilla, sekaligus
mendorong penguatan jejaring kolaborasi dan perumusan langkah kemanusiaan yang
berkelanjutan.

Forum ini diharapkan dapat membangun jejaring kolaborasi antara organisasi perempuan, lembaga kemanusiaan, akademisi, komunitas, dan jaringan solidaritas perempuan Indonesia terus menyadari peran strategis perempuan dalam aksi kemanusiaan Palestina melalui aksi/gerakan yang saling terhubung, menyatu dengan peran-peran keseharian dan berkelanjutan sampai Palestina merdeka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *