KPIPA dan Adara Gelar Refleksi Satu Tahun Agresi Gaza

by

Jakarta (6/10/2024) – Koalisi perempuan Indonesia Peduli Al Aqsha (KPIPA) bekerjasama dengan Adara Relief International menggelar peringatan satu tahun agresi Gaza dengan tema “Apa Langkah Selanjutnya untuk Pembebasan Al Quds”. Acara ini digelar pada Ahad (6/10) secara daring dan diikuti oleh ratusan peserta dari berbagai utusan organisasi dan masyarakat umum.

Kegiatan ini menampilkan Ustadz Agung Waspodo sebagai narasumber. Ia adalah pembaca sejarah dunia Islam yang merupakan pustakawan di Pustaka Al Fatih.

Selain itu, acara ini juga menghadirkan tiga bersaudara pemuda Gaza yang menceritakan pengalaman tragedi mereka sejak agresi militer Israel di jalur Gaza. Mereka adalah Shayma (mahasiswa, 21 tahun), Doa (mahasiswa, 18 tahun), dan Malik (pelajar, 16 tahun).

Ketiga kakak beradik saat ini berada di pengungsian Deir Al Balah (Gaza Tengah). Sejak terjadi agresi besar-besaran, mereka telah berkali-kali mengungsi dari tempat asal di Syujaiah. Mereka harus berpindah-pindah karena tempat-tempat pengungsian menjadi sasaran serangan tentara Israel.

“Selain menargetkan para pejalan kaki, tentara Israel juga menembaki ambulans sehingga menimbulkan banyak sekali korban jiwa. Para pengungsi sering melewati jalan-jalan menuju tempat pengungsian berikutnya di bawah todongan senjata tentara Israel,” ucap Malik yang diterjemahkan oleh Nurul Fitriani.

Di awal-awal agresi, untuk mendapatkan beberapa potong roti saja para pengungsi harus antri sejak selesai sholat subuh sampai zuhur. Dan ini hanya berlangsung selama dua minggu. Karena jumlah pengungsi semakin banyak dan stok makanan semakin menipis, akhirnya toko roti tutup. Sejak saat itu mereka mengumpulkan kayu bakar dan ranting pohon untuk membuat roti sendiri.

Dalam kehidupan yang sangat sulit saat ini mereka mampu bertahan karena keyakinan akan agama dan pertolongan Allah. Al-Qur’an menjadi sumber semangat bagi mereka. Keyakinan akan takdir dan balasan dari Allah membuat mereka menjadi sabar dan bertahan.

Selain itu, dalam kondisi yang begitu sulit, mereka tetap berjuang untuk melanjutkan pendidikan. Satu-satunya kampus yang masih berjalan adalah Universitas Islam Gaza yang melaksanakan kegiatan belajar-mengajar secara online.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *