Ini Bukan Akhir Perjuangan: Catatan Perjalanan Global March to Gaza

by

Oleh:​ Nurjanah Hulwani
Ketua KPIPA

Perjalanan saya mewakili KPIPA menuju Global March to Gaza bersama Salman Al-Farisi yang mewakili MINDA, Maryam Rachmayani yang mewakili Adara dan ARI BP, dan Indah Kurniati yang mewakili Adara mengingatkan pada suasana hati saya dan rombongan antara cemas dan harap untuk bisa masuk Gaza.

Pada waktu itu, di awal 2010, selama dua pekan bertahan di Mesir dengan banyak berdoa dan terus berusaha agar bisa masuk Gaza. Namun, Allah takdirkan saya belum bisa masuk. Meskipun belum berhasil, selama 14 hari saya mendapat pelajaran yang sangat berharga tentang bagaimana bisa jatuh cinta terhadap perjuangan Palestina. Pelajaran itu saya dapat dari perempuan Indonesia yang lebih dulu jatuh cinta pada perjuangan Palestina, yaitu almarhumah Ustadzah Yoyoh Yusroh.

Perjalanan dari Mesir tersebut menjadi titik tolak perjuangan saya untuk konsisten bela Palestina. Selama dua tahun saya bergerak dari satu majelis taklim ke majelis taklim lainnya dengan apa yang saya bisa. Ternyata usaha itu membuahkan hasil. Allah mudahkan saya masuk Gaza sampai tiga kali, dua kali di tahun 2012 dan satu kali di tahun 2019.

Saat ini, perjalanan saya ke Mesir untuk mengikuti aksi Global March to Gaza bersama 4.000 aktivis dari 80 negara adalah sesuatu yang saya rindukan. Dengan harapan akan mukjizat Allah; dari hanya sekedar berdiri bersama 4.000 aktivis di depan pintu Rafah, semoga Allah takdirkan kami untuk bisa masuk ke Gaza.

Gerakan Long March to Gaza ini diinisiasi oleh 13 aktivis internasional yaitu; Saif Abukeshek (aktivitis Palestina tinggal di Barcelona, Spanyol), Dr. Hicham El Ghaoui (dokter kemanusiaan dan Emergency Specialist dari Swiss), Samuel Crettenand (jurnalis dari Perancis), Ana Rita (aktivis HAM dari Portugal), Patricia Luevano (Professor dari Mexico), Manuel Tapial (aktivis HAM Spanyol-Kanada), ⁠Dr Yacine Haffaf (dokter bedah dari Perancis), ⁠Dr. Hüseyin Durmaz (dokter dari Turkiye), ⁠Dr. Regula Grabherr Fawzi (dokter dari Swiss), Zwelivelile Mandla Mandela (cucu Nelson Mandela dari Afrika Selatan), Dr Catherine Le Scolan-Quéré (dokter dari Perancis),Mustafa Jayyousi (psikoterapis dari Palestina), Samaan Khoury (aktivis Palestina dari Salvador).

Kerinduan untuk masuk Gaza kali ini jauh lebih besar karena kondisi Gaza yang mengalami penderitaan di luar kemampuan manusia.
Namun kenyataan yang kita saksikan, izin masuk 4.000 aktivis dari seluruh dunia ke Mesir untuk bergerak bersama-sama ke Al-Arish lalu lanjut berjalan kaki selama dua hari sejauh 50 km menuju gerbang Rafah, menghadapi begitu banyak rintangan. Dari tanggal 12-15 Juni 2025 semua aktivis yang masih di luar Mesir maupun yang sudah berada di Mesir menghadapi tantangan untuk bisa melakukan Global March to Gaza.

Saya, tim dan aktivis yang sudah ada di Mesir tidak bisa bergerak dan berkumpul bersama-sama. Semua menunggu di hotel masing-masing karena belum dapat izin dari otoritas Mesir.

Hari kedua di Mesir, tanggal 13 Juni 2025, para aktivis yang sudah ada di Mesir berencana untuk berkumpul di Ismailiyah. Maka, saya dan rombongan berencana untuk bergerak ke Ismailiyah. Namun, aktivis lain yang belum sampai ke Ismailiyah sudah dihadang polisi Mesir di Distrik 10 Ramadhan, sebuah wilayah antara Kairo dan Ismailiyah. Di sini mereka mendapat perlakuan yang tidak manusiawi; ditahan, dideportasi, dikelilingi polisi, dan didatangkan preman yang melempari aktivis dan memukuli mereka. Di sini sebagian ditahan dan sebagian dipaksa masuk bus menuju bandara untuk dipulangkan ke negaranya masing-masing. Sementara paspor mereka disita aparat dan hanya bisa diambil di bandara Kairo.

Saya dan rombongan yang merencanakan perjalanan pada hari Sabtu setelah subuh (14/6/25), akhirnya terpaksa kembali ke Kairo karena kami mendapat arahan dari panitia untuk kembali di hotel. Menurut mereka, keselamatan kami lebih utama.

Kisah pilu lainnya, seperti yang diungkap di media massa, terjadi pada 200 aktivis dari berbagai negara yang sudah sampai di bandara Kairo. Sebagian mereka ditangkap dan sebagian lagi dideportasi. Yang membuat saya bangga, mereka melakukan aksi bela Palestina di bandara Kairo karena tidak ada waktu lagi untuk melakukan aksi bersama, meskipun saat itu kami masih optimis bahwa Global March to Gaza akan terlaksana.

Kisah Kofilah Sumud (Konvoi Keteguhan)

Konvoi keteguhan terdiri lebih dari 1.500 aktivis yang menggunakan 20 bus besar dan 350 mobil pribadi. Rombongan dari Maroko dan Aljazair mulai berangkat menuju Tunisia sejak 8 Juni 2025. Dari Tunisia, rombongan ini bergerak di tanggal 9 Juni 2025 menuju Libya, dilanjutkan ke Mesir dengan tujuan untuk berkumpul dengan rombongan Global March to Gaza di Al Arish.

Selain berkoordinasi dengan panitia Global March to Gaza, kami juga berkoordinasi dengan panitia Konvoi Keteguhan. Kami berharap bisa bergabung dengan para aktivis ketika mereka sudah memasuki Mesir. Rencananya kami akan menunggu di Alexandria, salah satu kota Mesir yang terletak di pantai Mediterania yang rencananya akan menjadi jalur konvoi menuju Al Arish.

Namun demikian, ternyata rombongan Konvoi Keteguhan mengalami penghadangan di wilayah Libya Timur dan tidak diberikan izin untuk melanjutkan perjalanan. Berkebalikan dengan pemerintah dan warga Libya Barat yang mendukung gerakan ini dengan memberikan BBM dan makanan gratis, otoritas Libya Timur justru menahan pasokan makanan dan obat-obatan untuk rombongan. Akhirnya rombongan terpaksa berkemah sampai 3 hari di wilayah Sirte dan tidak bisa melanjutkan perjalanan ke Mesir. Kami yang menunggu di Alexandria pun tidak bisa bertemu mereka.

Ada lagi kisah mengenai 10 artis Indonesia yang tidak bisa kemana-mana, hanya bertahan di hotel karena dijaga oleh polisi Mesir untuk tidak mengikuti aksi Global March to Gaza.

Penangkapan dua panitia penyelenggara—Hicham El Ghaoui dari Prancis dan Manuel Tapial dari Spanyol—menambah deretan tantangan yang dihadapi para aktivis dalam membela Palestina.

Bukan Akhir Perjuangan

Belum berhasilnya aktivis bela Palestina berkumpul bersama-sama di depan pintu Rafah bukanlah akhir dari perjuangan. Bisa jadi ini ujian kesabaran untuk terus menyuarakan pembelaan pada Palestina di negara masing-masing. InsyaAllah, akan datang saatnya kita bisa bersama-sama membuka blokade dan menghentikan genosida di Gaza secara permanen atas izin Allah.

Berkaca pada pengalaman saya untuk memasuki Gaza di tahun 2010 yang gagal, Allah izinkan saya dan rombongan untuk masuk Gaza di tahun 2012 sebanyak dua kali. Saat perjalanan ke Gaza pada perang Asfu Ma’kul tahun 2014, saya dan rombongan Indonesia tidak berhasil masuk Gaza dan selama 2 pekan menunggu di Mesir. Namun, alhamdulillah, Allah izinkan kami kembali ke Gaza di tahun 2019 saat bulan Ramadhan, setelah satu hari Gaza di bom Zionis Israel.

Dalam aksi Global March to Gaza kali ini, walaupun secara fisik kami belum ditakdirkan bertemu, tetapi hati kami dipertemukan untuk saling menguatkan dan menyemangati untuk terus berjuang di negara masing-masing sampai Palestina merdeka.

Penyelenggara aksi Global March to Gaza menyampaikan kata-kata penutup aksi yang belum Allah takdirkan terjadi ini dengan ungkapan menyentuh:

“Untuk semua 4000 orang yang hadir untuk Palestina. Terima kasih. Keberanian, komitmen, dan cinta yang telah kalian tunjukkan untuk Gaza, untuk Palestina, dan untuk satu sama lain memberikan harapan.

Meskipun aksi di Mesir tidak berjalan sesuai yang kita harapkan, kerelaan kalian untuk meninggalkan segalanya, untuk hadir, dan untuk mengambil resiko begitu besar merupakan pengingat penting atas solidaritas dan cinta yang dimiliki manusia dari setiap bagian di muka bumi untuk saudara-saudari kita di Palestina.

Lebih dari 4.000 orang berkumpul di Mesir dari lebih dari 80 negara. Tapi kita tidak sendiri. Puluhan ribu orang bergabung dengan saluran-saluran Telegram kita, dan jutaan manusia di seluruh dunia sedang menonton—berharap, berdoa, dan mempercayai apa yang sedang kita bangun bersama. Ini bukanlah sebuah peristiwa biasa. Ini adalah sebuah aksi global melawan keheningan dan keterlibatan, yang tercermin bukan hanya pada kehadiran kita di Mesir tetapi di lebih dari 50 aksi solidaritas terkoordinasi di kota-kota dan komunitas-komunitas di seluruh dunia.

Bersama dengan mitra kita di Sumud Convoy dan Freedom Flotilla, aksi ini merupakan sebuah demonstrasi atas cinta mendalam kepada rakyat Gaza dan seluruh Palestina. Di dunia yang terlalu sering memalingkan muka, kamu berkontribusi dalam mengingatkan semua orang bahwa hidup, kemerdekaan, dan martabat Palestina patut diperjuangkan.

Global March to Gaza bukanlah acara yang berlangsung selama 8 hari. Ini adalah gerakan yang tumbuh dan hidup dan bagian dari perjuangan panjang dan gigih untuk melindungi hidup, kebebasan, dan martabat Palestina. Apa yang kita mulai bersama hanyalah sebuah awal. Meskipun jalan di depan akan mengambil banyak bentuk, kami sangat berkomitmen untuk bergerak ke depan secara kolektif, strategis, dan dengan keberanian. Bersama-sama, kami akan melalui setiap jalan untuk mengakhiri kekejian-kekejian di Palestina dan untuk membangun masa depan yang berakar pada keadilan, kebebasan, dan cinta.

Untuk saat ini, kami tidak berencana mengambil langkah-langkah tambahan di Mesir. Fokus kami adalah membantu mereka yang masih berada di negara tersebut, berkoordinasi untuk mengambil langkah global selanjutnya, juga membangun kekuatan jangka panjang pergerakan ini secara lintas batas.​

Dengan terimakasih mendalam dan solidaritas yang abadi
Komite Koordinator Global March to Gaza.”

Terima kasih para pembela Palestina yang bersatu dalam Global March to Gaza dan Konvoi Keteguhan. Dari dua konvoi ini saya belajar bahwa tidak semua muslim menjadi sahabat Palestina dan tidak semua non-muslim menjadi musuh Palestina.
Mari, terus berjuang bersama di negara manapun kita tinggal agar Palestina merdeka!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *