Nama saya Duha Latif. Saya seorang ibu dari dua anak: Amir (8 tahun) dan Karim (3 tahun). Dahulu saya seorang guru yang mengajarkan kepercayaan sederhana dan harapan yang lembut. Sekarang saya adalah saksi hidup dari kehancuran perlahan-lahan di Gaza.
Kami hidup dalam kelaparan yang nyata, bukan hanya secara kiasan. Setiap potong roti adalah kemenangan, dan setiap sisa kacang yang dimasak adalah bentuk dari harapan terakhir yang kami genggam.
Sebagai ibu, saya menahan lapar agar anak-anak saya tidak melihatnya. Amir bertanya setiap hari, “Bu, kapan kita akan makan pizza lagi?” Saya menjawab, “Sebentar lagi,” sambil tersenyum, meski hati saya hancur sedikit demi sedikit. Karim belum banyak bicara, tapi dia mengejar apa pun yang tampak seperti makanan-seolah nalurinya lebih cepat dari kemampuan bicaranya.
Saya berbicara bukan untuk mengeluh, tetapi untuk mengingatkan kalian bahwa Gaza bukan sekadar sebuah tajuk berita. Ini adalah jiwa-jiwa yang menunggu keselamatan.
Sumber: democracynow. org






