Kumpulan Hikmah dari Bumi Gaza (Bagian 1)

by

Cerita yang dideskripsikan di bawah ini merupakan tebaran hikmahNya di alam semesta. Hikmah yang bermakna tentu akan menginspirasi insan yang memungutnya. Dibutuhkan keuangan waktu Anda untuk meraih kumpulan hikmah yang begitu berharga dari bumi para nabi, Palestina.

Bumi Gaza, Bumi Para Penghafal Quran

Hampir 100% penduduk Gaza adalah pecinta Al-Quran. Mulai perdana menteri, pejabat pemerintahan, dan masyarakatnya hampir sebagian besar hafal Quran. Hidup dalam tekanan dan situasi perang yang dialami warga Gaza memicu dan memacu semangat mereka untuk mendalami ajaran Islam. Dari 1,8 juta penduduk Gaza, terdapat lebih dari 20.000 orang apa Al-Quran.

Menurut data dari diskusi yang diselenggarakan oleh Asia Pacific Community for Palstine, terdapat lebih dari 20000 orang yang hafal Al-Quran di Gaza, kebanyakan dari mereka adalah anak anak. Selama saya di Gaza awal dari ketakjuban saya adalah ketika saya menyaksikan langsung penduduk Gaza yang teramat dekat hubungannya dengan Al-Quran. Saya ambil contoh dua muslimah penghapal Quran yang menampar batin saya atas kelalaian saya selama ini terhadap Al-Quran:

  1. Sosok ibu rumah tangga namanya Fathiyah Ghatos. ibu 57 tahun ini buta huruf. Mulai menghafal Quran di usia 50 tahun. Namun, karena kecintaannya pada Al-Quran, dirinya yang buta huruf tidak menghalangi dirinya untuk bisa merasakan indahnya hidup bersama Al-Quran. Atas izin Allah Subhanahuwata’ala, wanita ini dalam kurun waktu enam tahun berhasil menjadi hafizah (hafal Qur’an 30 juz). Saya jadi ingat salah satu ayat dalam surat Al Ankabut di ayat yang terakhir, “Barangsiapa bersungguh-sungguh di jalan Allah, niscaya akan Aku tunjukkan jalan jalan Ku.” Sebuah pembuktian dari janji Allah dan kesungguhan hambanya yang telah menghasilkan sebuah hasil yang dahsyat.
  2. Ummu Ibtisam, sosok kepala sekolah TK dan koordinator dari 16 TK di Gaza berusia 50 tahun. Tutur katanya yang lembut dan dengan senyumnya, dengan bahagia ia katakan, “Alhamdulillah saya sudah hafal 25 juz, insya Allah sepekan lagi hafalan saya bertambah 5 juz dan insya Allah awal bulan depan akan diwisuda bersama sama yang lain yang juga telah berhasil menghafal 30 juz.”

Sungguh dua sosok hafizah tersebut membuat jiwa raga saya bergetar dan air mata penyesalan yang teramat dalam yang saya rasakan terhadap kelalaian saya selama ini dengan Al-Quran. Saya merasa malu dengan Allah Subhanahuwata’ala. Saya mempunyai kekayaan yang namanya kemerdekaan, waktu saya berlalu tanpa banyak hafalan yang saya miliki. Sepanjang perjalanan hingga menuju penginapan, batin saya menjerit minta diampuni dan dipanjangkan umur agar sisa umur saya bisa dipergunakan untuk membayar ketaatan saya yang tertunda, diantaranya “hubungan” saya yang kurang harmonis dengan Al Qur’an.

Selama di Gaza saya penasaran dan banyak bertanya kepada beberapa pengelola Tahfidzul Quran tentang rahasia mudahnya penduduk Gaza mengafal Al Qur’an. Ketika saya ada di Gaza angka para penghafal Quran sudah mencapai 50 ribu, dan sepekan setelah saya kembali ke Jakarta akan ada wisuda musiman bagi 25 ribu penduduk Gaza yang mampu menghafal Quran 30 juz dalam waktu 2 bulan.

Melihat keberhasilan Gaza sebagai wilayah di dunia yang memiliki penghapal Quran terbanyak dengan jumlahnya sebanyak 50 ribu orang, ada dua hal yang menjadi kunci utamanya:

Keteladanan pemimpin dan pejabat negara. PM Ismail Haniyah adalah seorang Hafiz dan dapat Sanad, para menteri pun tidak sedikit yang juga hafal 30 juz Al-Quran. Sering diadakan mukhayyam tahfiz.

Terdapat lembaga khusus yang fokus mengelola tahfiz Quran secara profesional dan didukung penuh oleh negara. Masyarakat sangat antusias bahkan untuk mendaftarnya pun harus antre. Lembaga ini memiliki cabang di setiap provinsi, bahkan sekarang bidang perempuan penghapal Quran sudah berdiri sendiri (independen) menjadi lembaga tahfiz Alqur’an sehingga tak tidak perlu lagi guru tahfiz dari kaum laki laki.

Kesalehan Anak-anak Gaza

Pendidikan langsung di medan jihadiah membuat anak-anak Gaza tumbuh dengan pemahaman agama yang matang yang jika dilihat faktor usia kita tidak menyangka usia anak-anak memiliki pemahaman agama seperti orang dewasa. Selama lima hari di Gaza, saya betul-betul kagum dan terbersit dalam batin saya betapa belum maksimal dan seriusnya saya dalam berjuang mendidik anak anak saya. Kesalahan orang tua dan anak-anak di Gaza mengevaluasi kinerja saya sebagai orang tua selama ini.

Kalau saya boleh berandai-andai, saya akan mohon kepada Allah SWT agar anak-anak saya kembali seperti saat usia balita agar saya bisa merevisi, mengevaluasi, dan meluruskan cara cara saya yang salah dalam mendidik anak. Karena berandai-andai dalam Islam itu tidak boleh, yang bisa saya lakukan adalah dengan memanjatkan doa memohon ampun atas kelalaian, kesalahan, dan kekhilafan saya dalam mendidik anak. Saya juga berdo’a agar dipanjangkan umur sehingga saya bisa menjadi anak-anak lebih baik lagi dari usia saya yang tersisa.

Pertama saya perhatikan saat saya berkunjung ke salah satu sekolah play group di Gaza, anak usia sekitar 2,5 tahun melafalkan surah Ar-Rahman dengan fasih dan lancar dan percaya diri sekali membacanya di depan orang banyak.

Setiap saya berkunjung ke lokasi saat saya ke pengungsian, keluarga asy-Syahid Ahmad Ja’bari, ke pantai yang disana saya bertemu dengan anak anak Gaza. Pertanyaan saya yang sama ke anak-anak Gaza tentang apa cita-cita nya, jawaban mereka sama semua walaupun berbeda anak dan lokasi. Mereka hanya memiliki dua cita cita; saya ingin menjadi hafiz atau hafizah atau menjadi syuhada. Jadi seolah mereka memiliki tagline: “ga gaul kalo ga hafal Quran dan ga syahid.”

Soal keberanian mereka, hampir semua anak-anak Gaza yang saya temui raut wajah keberanian terlihat dengan jelas, saat saya minta untuk membaca salah satu surah yang mereka hafal. Dengan semangat mereka perdengarkan kepada saya dan seolah mereka ingin menunjukkan bahwa mereka begitu mencintai Al-Quran dan begitu harmonis hubungannya dengan Al-Quran.

Keberanian mereka saya dapati kembali saat saya mengunjungi beberapa orang yang ada di pengungsian. Kebiadaban Zionis Yahudi yang merampas tanah tanah mereka yang menyebabkan mereka tinggal di tempat tempat pengungsian yang sangat tidak layak jumlahnya sampai 1,4 juta penduduk. Di malam hari saya mendatangi salah satu rumah yang sangat sepi ukuran 3×3 m2 yang dihuni oleh seorang janda dengan lima orang anak yang sudah besar-besar. Saya berbincang dengan dengan salah satu anak yang terkecil, kurang lebih masih usia SD.

Pertanyaan saya hanya satu ke anak tersebut, “apa yang kamu tahu tentang Yahudi?” Dengan gagah dan lancarnya dia menjawab, “Yahudi itu merebut negara kami, membunuh anak anak, menghancurkan rumah-rumah kami, dan membuat kami tidak tenang. Saya harus melawan Yahudi sampai syahid.”

Terakhir saya banyak bicara dengan dua anak Gaza kakak beradik, perempuan dua-duanya. Yang satu namanya Zanah Soyah usia 10 tahun dan adiknya Hudail Soyah usia 8 tahun. Selama seharian keduanya bersama saya hari terakhir saya di Gaza. Saya kagum melihat keduanya yang tidak punya rasa minder saat memperlihatkan kemampuannya dalam bernasyid (semua lagu yang didendangkan bersyair tentang Al Quds). Kalau sudah bosan bernasyid, keduanya ganti dengan memperlihatkan hafalannya dan juga mengganti dengan membaca puisi yang temanya bebaskan Aqsha.

Kematangan dan kedewasaan cara berfikir keduanya terlihat jelas dalam tulisan tangan yang mereka goreskan untuk anak anak Indonesia, seperti yang tertulis di bawah ini:

Kami ingin bilang kepada anak anak Indonesia, “hafalkanlah Al-Quran, pelajarilah manhajnya agar kalian bisa datang ke Gaza dan bersama sama dengan kami membebaskan Masjid al Aqsa.” Salam kami untuk kamu semua anak-anak Indonesia. (Zanah Soyah usiaku 10 tahun)

“Salamku untuk semua anak Indonesia dan aku memohon doa dari kalian semua dalam kurung anak anak Indonesia untuk kemenangan dan pembebasan Al Quds (dari rampasan Zionis Yahudi).” Hudail Soyah usia 8 tahun.

Meneladani Tiga Tokoh Syuhada di Gaza

Asy Syahid Syaikh Ahmad Yasin

Syaikh Muhammad Said Mursi dalam Tokoh-Tokoh Besar Islam Sepanjang Sejarah, mengungkapkan, Syaikh Ahmad Yasin lahir pada tahun 1938. Ada pula yang menyebutnya lahir pada 28 Juni 1937. Namun, dalam Paspornya tercantum 1 Januari 1929. Syaikh Ahmad Yasin sendiri pernah mengaku terlahir pada 1938.

Beliau mengawali dakwahnya dengan melakukan pembinaan di lingkungan there dekat secara intensif. Cacat tubuh tidak menghalangi semangat beliau untuk memperbaiki masyarakat Gaza. Pembinaan yang intensif dalam kurun waktu yang cukup lama beliau sudah banyak mematik buah dari kerja keras nya berdakwah yaitu dengan melahirkan kader kader mujahid yang terhimpun dalam Brigade Izzuddin Al-Qassam, hadirnya Hamas sebagai simbol perlawanan terhadap kebiadaban Zionis Israel.

Dari kalangan masyarakat yang ada pada saat itu, Syaikh Ahmad Yasin adalah sosok yang telah berhasil menghadirkan keteladanan. Keteladanan inilah yang ditiru oleh semua kalangan. Kondisi cacatnya yang hanya bagian kepala yang berfungsi dengan kegiatan ibadah dan perjuangan yang ia maksimalkan yang melebihi dari aktivitas orang yang sempurna fisik nya, menjadi teguran keras bagi kita yang selalu mengeluh dalam meniti jalan dakwah. Diantara keteladanan yang menjadi inspirasi saya untuk berjuang menjadi pribadi yang lebih baik.

Kedekatan Syaikh Ahmad Yasin dengan Al-Quran ketika saya mendatangi rumahnya dan masuk ke dalam kamar tidurnya, sungguh menggetarkan batin saya. Kamar yang berbicara yang didalamnya terdapat mushaf Quran yang cukup besar dengan disanggah kayu untuk memudahkannya saat membaca dan juga saat sholat tahajud.

Berbeda dengan orang pada umumnya kamar tidurnya dilengkapi dengan televisi dan barang barang yang lebih banyak untuk kesenangan fisik. Syaikh Ahmad Yasin selain sudah hafal 30 juz dan setiap ada waktu yang kosong beliau selalu menyibukkan diri dengan Al Qur’an serta keteladanan amal syaikh yang terkait dengan Al-Quran banyak diikuti oleh keluarga dan penduduk Gaza yang rata rata hafal 30 juz Al-Quran. Sehingga tidak mengherankan jika membuat bumi Gaza dijuluki dengan “Bumi Penghafal Quran.”

Keteladanan beliau dalam berdakwah begitu memberikan pengaruh yang besar untuk lingkungannya. Suasana Gaza sebelum Syaikh Ahmad Yasin berdakwah sungguh carut marut kondisi masyarakatnya. Bioskop berdiri di mana-mana, masjid-masjid tidak diminati pada pemuda, hanya orang-orang yang sudah uzur dan buta sajalah yang mengisi masjid-masjid tersebut.

Gaza saat itu menjadi sarana empuk bagi Zionis Yahudi untuk melancarkan serangan ghazwul fikri wa tsaqafi (perang pemikiran dan wawasan) untuk menghancurkan pemuda Gaza, diantaranya warga Gaza yang diberi pekerjaan oleh Mahmoud Abbas tidak boleh bekerja tetapi hanya menerima gaji saja, karena kalau diberi ruang untuk bekerja, Mahmouf Abbas khawatir mereka bangkit untuk membela negeri nya. Dalam kondisi seperti itulah Syaikh Ahmad Yasin mengawali dakwahnya secara bertahap.

Awalnya yang mengikuti taklimnya bisa dihitung dengan jari, tetapi dengan perjalanan waktu, yang mengikuti taklim terus bertambah, buah kesabaran beliau dalam menyampaikan fikrah-fikrah Islami terlihat dengan jelas saat saya berada di bumi Gaza. Tidak ada satu bioskop pun di sana dan suasana di masjid tidak jauh berbeda seperti suasana di bulan Ramadhan. Masjid di Gaza selalu penuh di setiap solat lima waktu. Jamaahnya pun bukan hanya dari kalangan orang tua namun jumlah anak mudanya ternyata justru memenuhi shaf-shaf di masjid.

Hal mengharukan batin saya adalah ketika mengingat kisah detik-detik syahidnya yang juga bisa menjadi teladan kita semua. Serangan roket Israel yang berkali-kali menghantam dirinya terjadi saat ia menuju ke rumahnya usah menjalankan sholat subuh di masjid yang jaraknya dari rumah Syaikh Ahmad Yasin sekitar 100 m. Beliau syahid dalam keadaan puasa sunnah Senin dan dalam kondisi sedang bertasbih sedang menuju rumahnya. Kondisi cacat fisiknya tidak menjadi alasan untuk tidak mendirikan sholat berjamaah di masjid. Kisah Syaikh Ahmad Yasin sesungguhnya menyadarkan kita yang sempurna secara fisik. Coba kita renungkan, selama hidupnya, Syaikh Ahmad Yasin tidak pernah absen dari sholat berjamaah di masjid.

Ada satu petikan hikmah dari Syaikh Ahmad Yasin yang bisa menyemangati kita dalam berjuang berjuang di jalan Allah Subhanahuwata’ala, “rahasia kegagalan bukan karena kurangnya sumber daya manusia, kurang sempurnanya fisik kita, atau kurangnya perlengkapan kita tetapi disebabkan karena kita jauh dari Allah.”

Abdul Aziz Ali Abdul Hafidz el-Rantisi

Lahir pada 23 Oktober 1947 di desa Yabna, terletak antara Asqolan dan Yafa. Keluarga Rantisi mengungsi ke jalur Gaza dan menetap di Kamp Pengungsi Khan Yunis setelah terjadi perang (Nakbah) 1948. Saat itu usia Dr. Rantisi baru menginjak usia enam bulan. Rantisi tumbuh ditengah-tengah sembilan saudara laki-laki dan dua orang saudara perempuan.

Alhamdulillah, saat saya di Gaza, saya berkesempatan bertemu dengan istri juga berkesempatan mengunjungi makam beliau. Dr. Rantisi menemukan kesyahidannya pada 17 April 2004. Semua rakyat Palestina merasa kehilangan dengan meninggalnya asy-Syahid Palestina yang tidak pernah terlewatkan dalam hidupnya untuk membela hak-hak terzalimi dan orang-orang terusir dari negerinya sendiri (rakyat Gaza Palestina).

Dr. Rantisi pernah mengungkap sepenggal kalimat tentang kematian yang sangat menyentuh hati, “apakah kalian takut dengan kematian? Kita semua sedang menanti akhir kehidupan kita. Kematian adalah sesuatu yang pasti, baik dengan Apache, kanker, ataupun dengan yang lainnya. Akan tetapi, aku sangat ingin mati dengan Apache (pesawat tempur Zionis).”

Apa yang menjadi harapan dan cita-citanya tentang pilihan kematiannya, Allah ijabah ijabah tepat 17 April 2004, beliau menjemput kesyahidannya dengan serangan bom yang dilontarkan oleh Zionis Yahudi melalui pesawat Apache.

Sungguh pelajaran yang menyentuh lubuk sanubari saya yang paling dalam. Keteladanan asy-Syahid tersebut mengajarkan kepada kita bahwa kita harus membuat rancangan tentang kematian kita kelak. Benar apa yang diungkapkan Ummu Mus’ab istri Syaikh Shiyam saat saya berkunjung ke rumahnya, beliau mengatakan, “jika kalian ingin syahid kalian harus meniatkan, hidup kalian terus diperbaiki dari segala maksiat dan selama kalian hidup jangan lepas dari jalan dakwah jalan perjuangan fi sabilillah.”

Jujur saja ungkapan Ummu Mus’ab tersebut terus melekat dalam pikiran saya ini. Lagi-lagi saya berdo’a untuk dipanjangkan usia. Entah dari mana awal mula perasaan cinta syahid muncul dalam sanubari saya. Saya malu berdo’a untuk mendapat kasih kan kesyahidan saat saya berada di Gaza karena belum ada prestasi saya dalam dakwah dan perjuangan seperti yang dilakukan para syuhada sebelum mereka menjemput kesyahidannya. Jangankan saya berjuang untuk ummat, untuk diri sendiri, nilai raport saya masih banyak yang merah.

Karena itu, pekerjaan utama saya sepulang dari Gaza adalah membirukan nilai raport hubungan saya dengan Allah dahulu sambil terus melanjutkan kerja kerja kebajikan yang saya lakukan selama ini lebih baik dan lebih maksimal lagi saya harus berjuang secara maksimal. Mengutip pernyataan Imam Ahmad rahimahullah bawa istirahat seorang pejuang Islam adalah ketika telapak kaki kita sudah berada di surga. Karena itu, dunia adalah tempat berjuang dalam beramar ma’ruf nahyi munkar.

Asy-Syahid Said Shiyam

Asy-Syahid adalah seorang salah seorang pemimpin senior Hamas yang juga menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri Palestina dibawa pimpinan Perdana Menteri Ismail Haniyah. Asy-Syahid bersama anak dan sepupunya beserta sembilan orang lainnya gugur akibat serangan rudal pesawat F 16 Zionis Israel Kamis sore, Sabtu 17 Januari 2009.

Saat saya berziarah ke makam di Gaza, saya melihat makam beliau dijadikan satu dengan anak dan sepupunya dalam satu makam. Muhammad Sayid Shiyam anak beliau yang berusia 22 tahun syahid bersamanya dalam kondisi memeluk dirinya dan tubuhnya hancur yang tersisa cincin yang masih melingkar di jari tangan anaknya. Cincin tersebut kini dipegang ibunya Ummu Mus’ab sebagai bukti kesyahidan putranya.

Ummu Mus’ab menceritakan kisah yang dialaminya bersama anaknya sebelum kesyahidan menjemput suami dan anaknya. Jauh sebelum anaknya tumbuh dewasa saat anaknya ada di bangku sekolah dasar saat menjelang waktu ujian Ummu Mus’ab menasehati anaknya untuk belajar, “kamu harus belajar sungguh-sungguh agar kamu mendapatkan ijazah sebagai bukti kelulusan mu.”

Muhammad menjawab, “ummi… yang paling aku inginkan melebihi keinginanku mendapatkan ijazah tanda kelulusan, aku menginginkan ijazah yang paling tinggi yaitu kesyahidan.”

Kisah ini menguatkan saya bawa untuk menjemput kesyahidan memang harus diniatkan dan dirancang, seperti yang diniatkan oleh Muhammad Said Shiyam. Tiga hari sebelum kesyahidan, Muhammad bercerita kepada ibunya bahwa ia ingin menikah dengan bidadari, Ummu Mus’ab menganggap ucapan anaknya hanya omongan biasa ditambah lagi di hari yang sama saat ia bersama putranya melihat tempat pengantin saat melewati jalan.

Muhammad berkata kepada ibunya, “bu aku ingin menikah dengan ayah.” Ummu Mus’ab menanggapi dengan senyum sambil berkata, “bercanda kamu ya… mana mungkin kamu menikah dengan ayah.” Saat kesyahidan menjemput suami dan anaknya, Ummu Mus’ab baru bisa mengetik kisah yang dialaminya kepada anaknya tiga hari sebelumnya sebagai tanda bahwa anaknya akan syahid bersama suaminya.

Asy-Syahid Said Shiyam, asy-Syahid Syaikh Ahmad Yasin,, dan asy-Syahid Abdul Aziz Rantisi serta Syaikh Ismail Haniyah adalah sosok profil ayah teladan yang selalu membawa anak-anaknya dalam aktivitas dakwah. Mereka, para syuhada tersebut, mendidik langsung putranya di meja di medan jihad yang pengaruh pendidikanya lebih membekas daripada sekedar bicara yang sifatnya teori. Kesyahidan Syaikh Said Shiyam bersama anaknya sebagai simbol bahwa mujahid dan mujahidah di Gaza sudah berhasil mendidik diri dan keluarganya masuk dalam barisan fi sabilillah.

*ditulis oleh Hj. Nurjannah Hulwani, S.Ag
Ketua Koalisi Perempuan Indonesia Peduli Al Aqsha (KPIPA), dalam buku Kumpulan Hikmah yang Berserakan dari Bumi Gaza, Palestina (Sebuah Catatan Perjalanan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *