Dalam konferensi internasional aktivis Palestina ke-14 yang digelar di Turki pada Jumat hingga Ahad (25-27/4/2025), Usman Bilal, seorang mantan tahanan yang dipenjara oleh zionis Israel, menceritakan pengalaman pilunya. Berikut kisahnya:
“Di konferensi yang lalu saya menyampaikan update kondisi tawanan lewat rekaman suara dari penjara. Saya tidak menyangka bisa menyampaikam langsung di konferensi hari ini.”
“Berbagai bentuk penderitaan kami alami. Di antaranya berkelahi dengan sipir penjara. Kami dipukul, bahkan disiksa sampai syahid. Sebanyak 64 tahanan syahid karena disiksa.”
“Sejak 7 Oktober kami tidak pernah kenyang dan sengaja dibuat lapar. Puluhan kilogram turun berat badan. Saya turun 30 kg selama dipenjara sejak tufan Aqsa. Kondisi saya sampai saat ini ketahanan tubuh jadi lemah, mudah sakit, dan sengaja dibuat sakit.”
“Selain lapar, tubuh kami juga kotor. Dua minggu baru boleh mandi dan air hanya keluar sekali sehari.”
“Tahanan yang luka tidak diobati dan yang sakit dipindah-pindah agar menular. Mayoritas tahanan menderita penyakit kulit.”
“Kami tidak bisa tidur karena gatal-gatal yang luar biasa. Hanya tertidur sebentar karena keletihan yang sangat.”
Selain Usman Bilal, seorang warga Gaza yang keluarganya syahid akibat dibom oleh Israel, bernama Adham Ied, juga menceritakan kisah sedihnya.
“Takdir saya bekerja di Qatar setahun sebelum peristiwa tufan Aqsa. Saya berusaha berkali-kali untuk kembali ke Gaza sejak 7 Oktober 2023, namun tidak pernah berhasil. 12 kali saya ditahan di bandara Mesir tanpa alasan yang jelas.”
“Tanggal 15 Oktober saya mendapat berita bahwa 15 anggota keluarga dari saudara saya, seluruhnya syahid.”
“Rumah kami ada beberapa tingkat. Hari ke-2 semua membaca Al-Quran dan Solat Duha. Ayah bilang, ia semalam bermimpi semua syahid. Kemudian ayah mengajak keluarga untuk berkumpul dan semua menjalaninya dengan tenang jika kesyahidan menghampiri mereka. Saya ngobrol dengan istri dan anak-anak saya. 10 menit setelah saya nelpon, rumah kami dibom. Orang tua, paman, saudara, keponakan, semua syahid.”
“Anak saya usia 9 tahun dan keluarga yang lain sehari sebelum syahid semua bermimpi di surga.”
“Saya mengalami penundaan berkali-kali untuk masuk Gaza. Mungkin Allah belum menakdirkan saya untuk syahid dan Allah minta saya untuk melanjukan perjuangan keluarga saya membebaskan Aqsa.”








