Jakarta (7/10/2025) – Ketua Koalisi Perempuan Indonesia Peduli Al Aqsha (KPIPA), Nurjanah Hulwani, memenuhi undangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam acara Konsolidasi Nasional Civil Society Indonesia pada Selasa (7/10). Konsolidasi bertujuan untuk merumuskan pandangan dan sikap terhadap situasi terakhir dan memperkuat dukungan Indonesia untuk kemerdekaan Palestina.
Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional, Prof. Sudarnoto Abdul Hakim, menyebut beberapa titik kemenangan yang dicapai Palestina setelah tufanul Aqsa 7 Oktober 2023.
“Pertama, keberhasilan menjebol keangkuhan Israel yang selama ini mitosnya tak terlalahkan. Kedua, kekuatan perlawanan telah berhasil bertransformasi dari kekuatan lokal menjadi global baru yg tdk saja mempengaruhi fikiran global tapi juga berhasil membangun empati global. Kemudian melalui Afrika Selatan melakukan upaya pengadilan internasional hingga ICC mengeluarkan fatwa,” ujarnya.
Ia berharap setelah KTT New York ada langkah yang lebih terang bagi perjuangan Palestina. “Perjuangan badai Aqsa telah membuahkan hasil dan kita berusaha menyempurnakan kemenangan ini. Mari sama-sama berpikir apa yang akan kita lakukan untuk percepatan,” imbuhnya.
Senada dengan itu Ketua KPIPA, Nurjanah Hulwani, mengingatkan pentingnya masyarakat bersatu menghentikan genosida.
“Dua tahun tufanul aqsa mengingatkan kita pentingnya umat Islam dan masyarakat dunia untuk lebih maksimal dan menyatukan langkah agar genosida di Gaza segera dapat dihentikan,” kata Nurjanah.
Sementara itu Sekjen MUI, Dr. Amirsyah Tambunan, mengimbau semua pihak memberikan solusi konkrit terhadap persoalan Palestina, baik melalui ikhtiar menghimpun pembiayaan maupun doa. “Juga secara global kita terus memperkuat diplomasi dan komunikasi sehingga lahir solusi yaitu Palestina yang merdeka dan berdaulat,” ucapnya.
Selanjutnya Wakil Ketua MPR RI, Dr. Hidayat Nur Wahid, menyampaikan sejarah terjadinya tufanul Aqsa tanggal 7 Oktober 2023.
“Pada tanggal 23 September 2023 Netanyahu berpidato di PBB dengan membawa peta baru timur tengah, di mana tidak ada Palestina. Dan tidak ada satu negara pun yang mempermasalahkan pidato tersebut. Inilah kenapa perlawanan Palestina melakukan koreksi besar. pada tanggal 7 Oktober untuk mengingatkan bahwa palestina masih ada,” jelasnya.
Dua tahun kemudian, lanjut Nur Wahid, pada tanggal 23 September 2025 Netanyahu berpidato lagi. Hampir semua peserta sidang melakukan walk out meninggalkan ruang sidang. 12 negara baru mengakui palestina sebagai negara. “Alih-alih Palestina hilang, justru pendukungnya semakin banyak. Dan sekarang didukung oleh 2 negara anggota DK PBB dan 2 lagi negara besar yang selama ini sangat memusuhi, yaitu Kanada dan Australia.”
Namun, ia juga mengingatkan bahwa ketercerahan semakin penting utk digarisbawahi agar arah kemenangan yang sudah di depan mata jangan sampai dirampok, termasuk oleh draft perjanjian yang diajukan oleh Amerika. Jika dibiarkan, bukan hanya Palestina tidak merdeka tetapi berpindah dari penjajahan Israel ke penjajahan teknokrat yang dipimpin Blair.
Di sesi akhir, Dr Fahmi Salim mengutip 11 refleksi terkait tufanul aqsa. Di antaranya, meruntuhkan narasi terorisme islam, terjadinya revolusi dunia dan narasi internasional, retaknya hegemoni AS di Timur Tengah, adanya krisis internal Israel, konsolidasi proses perlawanan regional n global, representasi Palestina kembali ke tangan Palestina, kebangkitan negara Islam dan global south, hingga spirit umat dan kebangkitan islam.
Acara konsolidasi diakhiri dengan pembacaan deklarasi dukungan umat Islam Indonesia untuk pembebasan Palestina. Wakil-wakil ormas Islam, majelis-majelis agama, lembaga filantropi dan bela Palestina, akademisi, tokoh (agama, sosial, politik), pejabat publik, aktivis perempuan, dan media bersama-sama merumuskan deklarasi.







