Berikut adalah isi webinar online bertajuk Kebenaran di Balik Pengepungan: Berjuang dalam Perang Media di Palestina. Kegiatan dilaksanakan oleh Asia Pacific Women’s Coalition for Quds and Palestine (APWCQP) pada Ahad (1/8/2025) dengan menghadirkan dua narasumber, yaitu Youmna El Sayed (jurnalis asal Gaza) dan Walid Jumblatt Abdullah (pemerhati politik Asia Tenggara dan advokat kemanusiaan dan Palestina).
Sesi paparan oleh Youmna El Sayed
Bombardir yang tiada henti, kelaparan yang disengaja, pembersihan etnis yang terjadi, genosida yang terus berlangsung di Gaza, membuat kita bertanya bagaimana dunia diam saja melihat semua ini. Dan keadaan justru semakin parah, bukannya semakin membaik.
Bahkan makanan mereka jadikan alat pembunuhan. Tiap hari lusinan orang meninggal karena kelaparan. Para penduduk Gaza kebingungan bagaimana memberi makan anak-anak dan orang tua mereka yang lemah yang butuh asupan. Semua lembaga internasional diputus kemampuannya untuk beroperasi di Gaza, termasuk PBB dan UNRWA.
Kematian karena kelaparan para penduduk di Gaza bukan karena alami, tapi memang direncanakan secara sistematis untuk membunuh mereka dengan menyiksa secara perlahan. Padahal sejak awal para penduduk Gaza, khsusunya para anak yang kurang nutrisi dan lemah secara fisik, sudah terancam berbagai penyakit.
Perlu digarisbawahi, bagaimana hal ini tidak diungkapkan oleh para jurnalis dan media berita, bahwa ini adalah senjata pembunuhan. Mereka justru mebuat seolah-olah inj adalah kejadian yang alami. Ini adalah perang sebenarnya, bahwa kelaparan ini adalah alat perang dan pembasmian etnis.
Netanyahu tidak ingin mengakui bahwa ini adalah penjajahan atau pembasmian etnis, namun mereka menyebutnya ‘pengontrolan militer’. Sehingga kita sering mendengar para pemimpin dunia mengatakan bahwa mereka mengakui Palestina. Namun, apa yang sebenarnya apa yang tersisa dari Palestina? Padahal yang tersisa sejak tahun 1948 hanya 47% dan semakin lama semakin mengecil. Jadi Palestina mana yang sebebnarnya mereka akui? Apakah yang dibawah ‘kontrol militer’ Israel atau Palestina hakiki yang rakyatnya memiliki kemerdekaan penuh?
Bagaimanapun, saya memiliki harapan terhadap orang yang memperjuangkan kemanusiaan walaupun sudah 90% Palestina dihancurkan, dan hingga sekarang puluhan ribu anak tidak memiliki orangtua sama sekali untuk merawat mereka.
Harus kita sadari, bahwa kemerdekaan ini akan dicapai. Namun perjuangan sebenarnya setelah kemerdekaan tercapai, siapa yang akan merawat apa yang tersisa dari semua kejahatan ini?
Sesi paparan oleh Dr. Walid Jumblatt Abdullah
Saya adalah Associate Professor di Nanyang University of Technology Singapura. Saya familiar dengan perkara Palestina bahkan dengan keluarga saya, walaupun saya tidak memiliki keluarga disana.
20 tahun ke depan kita akan melihat apa yang saat ini terjadi di Palstina sebagaimana kita melihat Holocaust dulu.
Media sangat bias dalam narasi mereka. Media barat dan media mainstream secara umum tidak berpihak pada Palestina.
Kenapa ini penting diketahui?
Berita buruk adalah kita harus menyadari fakta bahwa media mainstream tidak serelevan dulu. Mereka tetap memiliki fungsi penambah informasi namun tidak bisa kita jadikan rujukan karena banyak pihak-pihak yang mempermainkan narasi yang disampaikan kepada masyarakat. Alasan utamanya bukan hanya karena lobi para penjajah zionis, walaupun itu berperan. Namun lebih banyak lagi adalah pemikiran rasisme dan liberalisme yang dipegang oleh para pemegang wewenang dan kekuasaan di dunia barat.
Saya bisa memahami buruk sangka terhadap Arab dan Muslim oleh para pemeluk agama Kristen, walaupun saya tidak membenarkan. Namun, saya mempertanyak mereka yag bukan berasal dari ras mereka ataupun agama Kristen tetapi tetap pro Israel.
Maka harus kita akui bahwa proyek kolonialisme masih sangat gencar dan laku di saat ini walaupun kita sudah mencapai fase akhir. Apa yang terjadi di Palestina dan peperangan yang kita hadapi sekarang adalah bagian dari proyek kolonialisme global.
Berita baiknya adalah kita mencapai fase akhir karena saat ini pihak zionis kehilangan otoritas moral mereka, dan pandangan masyarakat dunia pelan-pelan sudah berpindah baik antara partai demokrat bahkan partai republik di AS. Pro Palestina mulai banyak.
Saya berasal dari negara yang secara umum pro Israel, karena Israel secara historis mendukung keberadaan Singapura. Walaupun masyarakat muslim yang 15% pro Palestina, namun mayoritas masyarakat Singapura selama ini sebelum oktober 2023 selalu pro Israel. Kini, khususnya dari kalangan muda, mereka mulai kritis terhadap Israel. Ini tidak mempengaruhi Palestina. Namun ini menjadi barometer yang baik bagaimana Palestina semakin memenangkan pertarungan hegemoni kolonialisme ini.
Berita baik kedua adalah bagaimana para jurnalis Palestina seperti Yumna dan Plestia dan berbagai jurnalis ternama dari Gaza mulai muncul dan menjadi orang yang mengimbangi narasi yang diluncurkan penjajah zionis dan media mainstream.
Berita baik ketiga yang harus kita sadari adalah bagaimana mereka sekarang kehilangan hegemoni moral mereka. Maksudnya pemerintah kolonialis bukan rakyat barat yang sejak awal sudah banyak yang pro Palestina.
Pertanyaan 1:
Apa yang sedang diperjuangkan media barat adalah kelaparan yang terjadi secara alami, bukan pembunuhan sistematis. Bagaimana menanggapi hal ini? Selain itu, media mainstream mulai membayar penduduk Gaza yang tidak berdaya untuk mendukung narasi mereka. Bagaimana komentar anda?
Jawaban Youmna:
Sejak dulu propaganda Israel memang dilakukan, bahkan dengan menggunakan rakyat Gaza sekalipun bukan hanya media mainstream. Namun kita harus pahami mereka memang sangat tidak berdaya sehingga banyak rakyat yang menjalani program propaganda itu karena anak-anak mereka kelaparan. Apalagi dengan bombardir yang terus menerus.
Bayangkan seandainya 1000 truk masuk tiap hari, masih tidak cukup memenuhi kebutuhan dasar penduduk Gaza. Mereka butuh obat-obatan untuk kesehatan, bensin, air. Semua kebutuhan dasar mereka tidak punya. Krisis yang dialami oleh mereka sangat parah. Sehingga bisa dipahami bila sebagian kecil rakyat Gaza menjadi alat propaganda Israel, dan itu sudah menjadi alat mereka sejak dulu.
Jawaban Dr. Walid:
Apa yang selama ini dikatakan oleh pemerintah penjajah Israel adalah kebohongan yang nyata, yang seandainya dia merupakan pemerintah lain di dunia, pasti dia akan jadi bahan cemoohan seluruh dunia. Namun kita lihat dunia saat ini, khususnya media mainstream, memperjuangkan narasi penjajah pemerintah zionis ini. Bahkan begitu banyak pelanggaran internasional yang mereka lakukan secara terang-terangan, namun kita melihat media mainstream dengan semangat memperjuangkan narasi penuh kebohongan tersebut.
Pertanyaan 2:
Apa yang Anda lakukan saat ada pihak yang meminta Anda sebagai jurnalis dan aktivis untuk tidak melaporkan kebenaran dan kejahatan disana?
Jawaban Youmna:
Pihak administrasi AS di awal serangan Oktober 2023 meminta Al Jazeera dan para jurnalis mereka untuk ditarik karena mereka terganggu dengan narasi kita yang bertolak belakang dengan mereka. Bahkan saya saat menghadiri undangan program AS DemocracyNow saat masa-masa keluarga jurnalis Wael Dahdouh, mereka mengatakan bahwa laporan mereka tidak akan dianggap tanpa bukti. Bahkan saya saat itu melaporkan apa yang terjadi di Gaza, saya mendapatkan ancaman terhadap bukan hanya diri saya namun juga keluarga saya.
Jawaban Dr. Walid:
Saat ini tuduhan anti-semitis tidak memiliki bobot sama sekali. Tentu sikap anti-semit sesuatu yang buruk. Namun mereka selalu menggunakan hal tersebut untuk narasi mereka, hingga tuduhan anti semit sekarang tidak memiliki bobot. Ini adalah sesuatu yang positif.
Jawaban Youmna:
Saat ini banyak pemimpin-pemimpin negara yang mengatakan mereka mendukung Palestina. Namun sangat disayangkan bahwa di lapangan mereka sama sekali tidak melakukan untuk mendukung Palestina. Bahkan mereka turut aktif mendukung dengan pengiriman senjata kepada penjajah Israel. Jadi ini sangat menyedihkan buat saya, dan menunjukkan standar ganda dan sikap munafik mereka.
Jawaban Dr. Walid:
Saya tahu apa yang saya katakan ini kontroversial, tetapi saya tidak setuju dengan solusi dua negara. Sebab, bagaimana solusi itu bisa diberlakukan saat salah satu negara secara eksplisit melanggar hak-hak negara lainnya? Walaupun secara politis ini bukan sesuatu yang populer. Secara realita ini sangat sulit untuk dilaksanakan. Apa salahnya dengan solusi satu negara saat semua mendapatkan hak yang sama dan adil?
Pertanyaan 3:
Apakah menurut Anda ada organisasi barat seperti ‘Organisasi Pelindungan Jurnalis’ melakukan usaha secara adil dalam meliput pembantaian brutal yang dilakukan saat ini?
Jawaban Youmna:
Ada usaha-usaha dari organisasi-organisasi kemanusiaan dan jurnalisme internasional yang berusaha. Namun sebenarnya apa yang diliput sangat terbatas dan tidak seberapa dengan realita lapangan. Karena saat ini tidak ada jurnalis internasional mampu masuk Gaza untuk meliput apa yang terjadi.
Jurnalis adalah musuh utama Israel. Mereka secara gencar membuat para jurnalis tidak mampu bergerak. Sehingga apa yang dilakukan oleh kita sekarang sebagai jurnalis Palestina bukan karena semata-mata kita Jurnalis, namun sebagai sesuatu yang personal karena bisa dikatakan dunia internasional menelantarkan kita dalam meliput realita yang kita jalani.
Pertanyaan 4:
Menurut Anda kenapa negara-negara seperti Mesir menandatangani kontrak dengan Israel padahal tahu bahwa mereka melakukan kejahatan yang keji?
Jawaban Youmna:
Saya rasa mayoritas motivasinya adalah kepentingan pribadi. Namun walaupun begitu, saya memiliki harapan bahwa saat kita yang masih memiliki kemanusiaan msih bergerak secara gencar sesuai bidang kita, walaupun para pimpinan negara-negara melakukan tindakan yang mengkhianati perjuangan kemanusiaan, kita akan memenangkan perjuangan kemanusiaan dan kebenaran ini.
Jawaban Dr. Walid:
Ya, memang kita harus sadari bahwa para pemimpin dunia Islam seandainya memiliki keinginan untuk menyelesaikan masalah ini, semua sudah berakhir sejak lama. Sehingga kita harus menyadari bahwa mereka bagian dari masalah sehingga kita jangan sampai berharap kepada mereka untuk menjadi sumber solusi.
Pertanyaan 5:
Apa yang bisa kita lakukan sebagai orang biasa untuk memnangkan pertarungan narasi ini?
Jawaban Youmna:
Saat ini kita memiliki akses yang lebih banyak melalui media sosial untuk mengetahui kebenaran yang ada, walaupun media mainstream menyebarkan narasi yang salah. Sehingga tidak ada orang yang bisa beralasan bahwa mereka tidak tahu kebenarannya. Sejarah akan mencatat siapa yang hanya diam dan turut mendukung kejahatan dan genosida ini. Sehingga kita harus menjadi peserta aktif mencari tahu kebenaran dan menyebarkan kebenaran yang terjadi.
Jawaban Dr. Walid:
Iya, saya setuju. Tidak ada alasan bagi orang saat ini untuk bersikap mereka tidak berdaya dan tidak tahu. Kecuali misalnya anda berada di Sudan dan memiliki krisis sendiri, itu sesuatu yang bisa dimaklumi. Namun, bila anda berada di negara yang relatif aman dan anda beralasan tidak bisa melakukan apa-apa, itu tidak bisa dimaafkan.
Share apa yang dilaporkan para jurnalis pro-Palestina, like, dan perjuangkan algoritma. Saya tiap pagi ke NYT dan media aminstream dan memberikan komentar saya untuk memberikan dukungan narasi Palestina yang benar.
Pertanyaan 6:
Siapa yang menjadi jurnalis favorit berbahasa inggris di lapangan (Gaza)?
Jawaban Youmna:
Semua jurnalis adalah jurnalis favorit. Mereka semua hingga sekarang mengorbankan nyawa di lapangan untuk memperjuangkan kebenaran. Hingga saya tidak bisa mengatakan 1 jurnalis favorit saya. Semua adalah jurnalis favorit.
Jawaban Dr. Walid:
Selain Youmna yang menjadi jurnalis favorit saya, saya rasa semua jurnalis patut diberikan apresiasi bahkan yang sudah meninggalkan Gaza saat ini seperti Plestia dan Motaz. Bahkan para Palestina diaspora juga sangat berperan dalam perjuangan narasi ini.
Kalimat Penutup Panelis
Dr Walid:
Hingga sekarang penduduk Palestina tidak kehilangan harapan untuk kemerdekaan. Bagaimana bisa kita menyerah dan putus asa?
Saat kita bilang kita keberatan untuk menyaksikan apa yang terjadi di Palestina, bandingkan dengan mereka yang melalui selama ini, bukan hanya menyaksikan tapi mengalami.
Jadi jangan pakai alasan bergantung kepada pemerintah dan ketidakmampuan sebagai orang biasa untuk tidak melakukan apa-apa. Bahkan mengatakan: ‘Oh mereka akan masuk surga dengan menjalani semua ini’, dan kita hanya menangis berpasrah. Mereka akan masuk surga. Namun, jangan-jangan perkataan itu akan membuat kita tidak masuk surga. Jadi jangan merasa diri anda tidak memiliki kewajiban untuk melakukan semaksimal kemampuan anda untuk mendukung hak-hak Palestina.
Youmna:
Dulu kita merasa bagaimana dunia selama ini menelantarkan kita di bawah ketidakadilan ini. Jadi saat anda mendengarkan kami, turut menyuarakan suara kami menyebarkan kebenaran, mengedukasi masyarakat, itu sangat membantu.
Penjajah Israel sudah lama berusaha untuk menghapus keberadaan rakyat Palestina dengan mengusir kita, menghilangkan identitas kita, mengambil semua hak-hak kita.
Bayangkan hingga saat ini saya tidak memiliki ID sebagai orang Palestina. Yang saya miliki hanyalah tanda verifikasi sebagai tanda pengenal. Jadi, kami sebagai rakyat Palestina tidak memiliki apa-apa. Bahkan identitas diambil.
Maka keteguhan kita untuk melawan penjajahan, memperjuangkan identitas kita melalui edukasi dan bersuara adalah satu-satunya hal yang kita miliki untuk mempertahankan keberadaan kita. Seandainya kita tidak memiliki keteguhan ini, usaha Israel sudah berhasil sejak lama dalam usaha penghapusan etnis.
Saat Ukraina diserang Rusia, semua orang berbondong-bondong memberikan bantuan dan dukungan. Namun selama 70 tahun dunia bungkam terhadap apa yang terjadi pada Palestina.
Tetapi sekarang saya melihat dunia mulai bangun. Saya melihat generasi yang akan memperjuangkan kemerdekaan Palestina saat ini. Generasi yang dituduh orang akan tidur dan hanya akan memperhatikan soal uang, harta, berleha-leha, namun justru mereka adalah generasi yang menggerakkan perjuangan. Generasi yang saat ini juga dari universitas-universitas.
Jangan lupa, boikot juga sangat penting dan sangat berpengaruh pada kemampuan ekonomi mereka. Jadi jangan diam saja dan lakukan apa yang bisa anda lakukan.
Moderator Farwina:
Iya, saya teringat bagaimana perjuangan kemerdekaan Afrika selatan bisa berhasil karena aktivitas boikot di seluruh dunia. Jadi bergeraklah dan jangan diam.
Ayo turut bergabung dengan kami di Koalisi Perempuan Asia Pasifik. Terima kasih sudah mengikuti acara ini.






