Oleh: Nurjanah Hukwani, Ketua KPIPA
*Disampaikan pada Webinar Kajian Kepalestinaan KPIPA Seri Ke-16
——————————-
Penderitaan Rakyat Gaza Selama Ramadhan
Berbagai penderitaan telah dialami penduduk Gaza selama menjalani bulan Ramadhan. Hasnaa Jibril (58 tahun) mengatakan bahwa ia merebus air kotor untuk membuat sup dari kaktus dan rempah-rempah yang ia kumpulkan dari ladang untuk sarapan.
“Kami menggunakan apa pun yang kami temukan,” katanya dengan wajah sendu.
Kelaparan telah memaksa warga Gaza untuk memakan tanaman herbal yang mereka anggap tidak dapat dimakan sebelum perang. Ketiadaan makanan minuman yang cukup selama bulan suci membuat mereka merasakan seperti puasa tanpa berbuka.
“Sekan kami puasa terus menurus (tidak ada waktu sahur dan berbuka),” imbuhnya.
Penduduk lainnya bernama Al-Ghalayini mengungkapkan, “kami tidak punya apa pun yang bisa membuat kami merasa seperti sedang berada di bulan Ramadan.”
Di sisi lain, lebih dari 1.000 masjid hancur akibat serangan tentara zionis. Israel merampas kebahagiaan rakyat Gaza beribadah ke masjid.
Akibatnya, masyarakat melaksanakan salat tarawih di jalan-jalan dengan penerangan terbatas. Suara azan yang keluar dari pengeras suara masjid di Gaza biasanya dapat didengar dari segala arah. Akibat penyerbuan Israel, suara azan berganti dengan suara dentuman bom dan tembakan.
Menyambut Ramadhan dengan Suka Cita
Meski mengalami penderitaan yang sangat luar biasa di tengah kecamuk genosida, masyarakat Gaza menghadapinya dengan penuh kesabaran dan keteguhan. Al-Qur’an menjadi obat luka lahir batin bagi mereka.
Yang menjadi rahasia keteguhan mereka adalah iman dan Al Qur’an. Mereka berhasil menciptakan sebuah masyarakat yang berpondasikan pada Al-Qur’an. Masyarakat Gaza adalah masyarakat yang sangat berpegang teguh pada Al-Qur’an.
Bahkan dalam video yang ditayangkan ini terlihat bukti yang sangat nyata bagaimana seorang anak di Gaza mengalihkan rasa sakit yang dirasakannya ketika menjalani operasi tanpa bius dengan membaca Al-Qur’an.
Mereka juga memegang prinsip bahwa membela tanah air adalah jihad dan menyerahkan tanah air adalah pengkhianatan.
Bersyukur dan Tetap Teguh Setelah Allah Turunkan Kemenangan
Ketika perjanjian gencatan senjata berlangsung dan tentara Israel mulai menghentikan penyerangan, rakyat Gaza di Palestina tetap teguh menghadapi kondisi di mana kota beserta rumah dan harta benda milik mereka sudah hancur. Bahkan tidak hanya kehilangan harta benda, mereka juga kehilangan banyak sekali orang-orang yang dicintai. Seorang pemuda saat kembali dari tahanan Israel mendapati istri dan anak anaknya syahid.
Mengapa umat Islam wajib membantu Palestina?
Umat Islam di mana pun berada wajib membantu Palestina. Di antara alasannya adalah:
- Masjid Al-Aqsha di nistakan dan dinodai Zionis Israel
- Penduduk Palestina disiksa dan dihina
- Normalisasi negara-negara Arab
Adapun peran yang bisa dilakukan oleh umat Islam untuk membantu Palestina adalah:
- Menunaikannya merupakan bagian dari iman
- Edukasi diri dan umat
- Menghimpun kekuatan umat
- Donasi






