Silsilah Pembebasan Baitul Maqdis Pada Masa Dinasti Ayyubiyah

by

Kisah-Kisah Jihad Pasukan Muslimin Mempertahankan Al Quds dari Serangan Tentara Salib

Oleh: Muhammad Syarif, Lc., MA.

Al-Quds Kembali ke Tangan Umat Islam pada tahun 1099-1187

Shalahuddin Al-Ayyubi, pejuang Islam non-Arab menyatukan kekuatan kaum muslimin di Syam dan Mesir demi membebaskan Baitul Maqdis. Cara yang ditempuh perang Arab-Israel namun berakhir gagal karena pan Arabisme.

Perang Hittin pada tanggal 4 Juli 1187 sebagai perang pembuka dari fase lemah menuju persatuan dan kekuatan menggeser kedigdayaan kaum Nashrani/Salib. Pada waktu itu sebanyak 12.000 pasukan muslim berperang melawan 63.000 pasukan Salib. 30.000 pasukan salib tewas dan 30.000 pasukan menyerahkan diri. Tersisa 150 pasukan berkuda pengaman Raja Nashrani yang kemudian menyerah kalah.

Selama dua bulan Sholahuddin melakukan penaklukan kota di sekitar Baitul Maqdis, termasuk kota-kota pesisir pantai di Syam.

60.000 tentara Salib mempertahankan Al-Quds dengan menawan ribuan kaum muslimin hingga terjadi kesepakatan damai dengan membayar uang tebusan.

Kembalinya Al-Quds ke tangan umat Islam di tengah keputusasaan generasi muslim kala itu adalah buah dari optimisme seorang Sholahuddin yang sabar dan ulet mengembalikan kejayaan umat Islam

Al-Aqsha Paska Kekalahan Pasukan Salib

Pada tanggal 27 Rajab 583 H (November 1187) malam Isra’ Mi’raj merupakan awal pertama kali kaum muslimin memasuki Al-Quds dan membersihkan masjid Al-Aqsha dari salib-salib yang dipasang.

Pemerintah muslim pada waktu itu membiarkan gereja Qiyamah tetap berdiri sebagai bukti toleransi Islam terhadap non-muslim. Kemudian meletakkan mimbar Nuruddin Zanki yang wafat sebelum Al-Quds kembali ke pangkuan kaum muslimin. Namun mimbarnya “abadi” sebagai symbol perjuangan. Pun Ketika dibakar pada tanggal 21 Agustus 1969 oleh turis Yahudi asal Australia, Denis Michael Rohan, replikanya dibuat oleh pemahat dunia Islam, di antaranya 5 orang asal Jepara Indonesia. Replika mimbar diletakkan pada tahun 2007.

Lalu dilakukan renovasi Qubbatush Shakhrah di atasnya tertulis: Bismillah, mihrab suci dan pemakmuran Masjidil Aqsha yang dibangun di atas ketakwaan diperintahkan untuk direnovasi oleh hamba dan wali Allah, Yusuf bin Ayyub Abu Mudhaffar.

Pasukan Salib Tersisa di Syam

Paska jatuhnya Al-Quds dari tangan tentara Salib. Pasukan Salib yang tersisa memusatkan diri di Shur, saat ini berada di wilayah Lebanon. Armada laut dari Eropa tiba di Shur menggalang kekuatan menjalankan titah Paus melalui ekspedisi militer Salib ketiga.

Mobilisasi pasukan Salib dari Eropa ke wilayah Akka dilakukan oleh Raja Inggris Richard The Lionheart, Raja Perancis, dan Raja Jerman Frederick Barbarossa. Total 250 ribu prajurit didatangkan dari Eropa.

Akka yang dikepung pasukan Salib, mampu ditembus oleh pasukan Sholahuddin berkekuatan 12.000 pasukan dan bala bantuan armada dari Mesir.

Kekuasaan Shalahuddin meliputi Syam, Mesir, Hijaz dan Yaman. Kecuali Shur, Akka, Tripoli dan Anthakiyah. Khalifah Abbasiyah menolak membantu Sholahuddin karena ketenarannya yang menggeser khalifah.

Akka Target Pasukan Salib

Akka dikuasai oleh kaum muslimin yang berada di bawah kepungan tentara salib selama dua tahun. Pasukan Shalahuddin dari arah lain menyerang pasukan Salib yang mengepung Akka, namun penduduknya tidak kuat hingga mengajukan syarat ke tentara Salib yang akhirnya dikhianati.

Lalu dilakukan perjanjian untuk membebasakan 500 tawanan nashrani dan uang sebesar 200 ribu dinar emas. Faktanya, 3.000 tawanan umat Islam dibantai oleh Raja Inggris di sebuah bukit di luar Akka di hadapan Shalahuddin. Akka kemudian jatuh ke tentara Salib, disusul Haifa dan Qayasira. Arsuf dan Yafa juga runtuh, dan pasukan Salib mengarah ke Al-Quds. Sedangkan pasukan Shalahuddin tidak mendapatkan bantuan dari dunia Islam

Al-Quds Kembali Terancam

Pasukan Salib dengan kekuatan 250 ribu dari Eropa dan 250 ribu di Syam berhasil menguasai kota-kota yang dikuasai Shalahuddin usai perang Hittin, hingga tersisa Al-Quds. Kaum muslim terpusat di Al-Quds yang telah dibenteng. Hingga Raja Inggris (Richard) pesimis, tidak akan sanggup menguasai Al-Quds selama Shalahuddin masih hidup dan memimpin perang dari dalam Al-Quds.

Tahun 1192 perundingan dilakukan sehingga pada kesepakatan Al-Quds sebagai kota Islam dan menyisakan kota Shur dan Yafa di pesisir bagi pasukan Salib. Sampai akhirnya Richard Kembali ke Inggris dan misi ekspedisi salib ketiga untuk menguasai Al-Quds berakhir gagal. Gencatan senjata disepakati, perdamaian terjadi sepeninggalan Richard. Kaum muslimin dan nashrani bisa bermuamalah keluar masuk antar kota yang mereka kuasai.

Akhir Perjalanan Shalahuddin

Shalahuddin membatalkan perjalanan untuk menunaikan ibadah haji setelah menerima surat dari hakim Mesir yang inti pesannya, menjaga dan memperbaiki negeri-negeri kaum muslimin dari krisis ekonomi dan fitnah yang berkobar lebih besar dari ibadah haji.

Pada tahun 1193 Shalahuddin wafat dan dimakamkan di Damaskus. Selama hidupnya, ia berkuasa di Mesir selama 24 tahun dan di Syam selama 19 tahun. 16 tahun di antaranya ia habiskan untuk berjihad menjaga Al-Quds menghadapi tentara Salib.

Akhlaknya dikenang bukan saja oleh kaum muslimin, tapi juga kaum Nashrani Eropa karena sikap bijaknya selama peperangan terjadi. Ketika wafat, ia tidak meninggalkan harta tapi meninggalkan panji jihad yang membersamainya selama 16 tahun sebagai pesan perjuangan kepada kaum muslimin.

Al-Quds Paska Wafatnya Shalahuddin

Sepeninggal Shalahuddin, kerajaan Ayyubiyah dibagi di antara kerabat dan anak-anaknya. Sehingga kerap terjadi konflik saudara yang merugikan kekuatan kaum muslimin.

Al-Aziz bin Shalahuddin yang memimpin Mesir menyerang saudaranya Al-Afdhal bin Shalahuddin yang memimpin Damaskus dan Quds. Perseteruan keduanya didamaikan oleh Al-Adil, paman mereka yang menguasai Yordania, dengan memberi kekuasaan wilayah Hauran kepada Al-Afdhal.

Sepeninggal Al-Aziz, sengketa terjadi, hingga akhirnya Mesir dipimpin oleh Al-Afdhal. Ia kemudian berusaha menguasai Damaskus walau akhirnya gagal.

Melihat pengkhianatan Al-Aziz, akhirnya Al-Adil menguasai Mesir sehingga sebagian besar wilayah Ayyubiyah di bawah kekuasaannya. Al Adil lalu membagi kekuasaan Ayyubiyah kepada anaknya. Al-Kamil Muhammad memegang Mesir, Al Mu’azham Isa memegang Damaskus, Al Asyraf Musa memegang Hauran. Hijaz kemudian menggabungkan diri.

Genjatan Senjata dengan Pasukan Salib

Tidak ada perjanjian damai antara muslim dan pasukan Salib, karena bagi Shalahuddin itu sebuah pengkhianatan. Yang ada adalah pemberlakuan gencatan senjata.

Kaum Nashrani di kerajaan Akka, Shur, Tripoli dan Anthakiyah mengundang tentara Salib dari Jerman (1197). Namun karena perselisihan, pasukan yang sudah menguasai Beirut itu kembali pulang dan mengurungkan niat merampas Al-Quds.

Perjanjian gencatan senjata pertama dengan Nashrani berlangsung selama 3 tahun, dilanjutkan perjanjian kedua 6 tahun dan ketiga 7 tahun. Masa gencatan senjata kedua belah pihak menyiapkan pasukannya untuk perang lanjutan.

Pada tahun 1218 Al-Adil meninggal dunia, dan kesempatan ini dimanfaatkan pasukan salib untuk merampas Al-Quds

Runtuhnya Al-Quds untuk Kedua Kalinya

Terpecahnya Kerajaan Ayyubiyah paska dipimpin Al-Adil dimanfaatkan pasukan Salib dari Eropa. Mengawali serangan melemahkan Mesir melalui propinsi Dimyath. Mengancam kekuasaan Al-Kamil di Mesir dan menawarkan damai dengan syarat Al-Quds diberikan ke tentara Salib.

Saat itu kaum muslimin di Timur wilayah Abbasiyah menghadapi serbuan tentara Mongol-Tatar, sehingga tidak dapat membantu Mesir. Syarat tentara Salib akhirnya diterima Al-Kamil.

Pasukan Salib yang dipimpin oleh John Debrin “Raja Quds yang dinantikan” dititahkan Paus menguasai Mesir. Mereka mengepung Dimyath selama 17 bulan dan bergerak ke Kairo (1219) dengan bala bantuan dari Eropa. Namun kaum muslimin di Mesir melawan, merobohkan jembatan dan memasang jebakan di sungai Nil menuju Kairo. 3 tahun upaya tentara Salib menemui kegagalan hingga akhirnya menarik pasukan menuju Akka.

Al-Quds Jatuh Tahun 1229

Frederick II bergelar “Buangan Gereja” karena menolak titah Paus untuk menggalang agresi Salib ke Al Quds, datang ke Kerajaan Nashrani di pesisir Palestina. Ia menikahi Ratu Isabella, putri dari John Drebin. Ia lalu mendeklarasikan sebagai Raja Quds yang dinantikan, meski Quds sama sekali belum dijajah kaum Nashrani (1227). Al-Quds dan Syam saat itu dibawah Al-Kamil yang menggabungkannya dengan Mesir setelah Al-Mu’azham meninggal.

Ambisi Al-Kamil ingin menguasai wilayah lain yang dipimpin saudaranya membuat ia membuka kerjasama dengan pasukan Salib pimpinan Frederick II dengan menggadaikan Al-Quds. Padahal pasukan Salib hanya berkekuatan 500 pasukan.

Tahun 1229 gencatan senjata Al-Kamil dengan Frederick II disepakati selama 10 tahun dan Al-Quds dan kota lainnya diserahkan ke pasukan Salib. Dunia Islam gempar akan pengkhianatan Al-Kamil ini.

Kondisi Kaum Muslimin

Selama gencatan senjata, Frederick II tidak mendapatkan bala bantuan dari Eropa, yang saat itu terjadi perpecahan akibat perselisihan para Raja. Frederick lalu akhirnya terpaksa kembali ke Jerman.

Kerajaan Ayyubiyah khawatir akan serangan Kerajaan Khawarizm yang berambisi menguasai Irak. Khawarizm akhirnya kalah dari Mongol dan Ayyubiyah berseteru dengan Saljuq.

Kondisi di Andalusia juga melemah. Puncaknya, Cordoba runtuh jatuh ke tangan kerajaan Nashrani pada tahun 1236.

Al-Asyraf yang menguasai Damaskus meninggal, kekuasaan diberikan ke anaknya, Al-Adil Ash Shoghir dan Ash-Sholih Ayyub. Keduanya terlibat saling serang, hingga mengundang Kerajaan Khawarizm untuk membantu menyerang saudara sendiri.

Al-Quds Kembali ke Umat Islam

Pada tahun 1238 Al-Kamil meninggal dunia, satu tahun sebelum gencantan senjata berakhir. Pasukan Salib melanggar perjanjian dengan membangun benteng di Al-Quds. Hal ini menyebabkan Kerajaan Ayyubiyah dipimpin An-Nashir Dawud penguasa Yordania melakukan serangan.

10.000 pasukan dari pihak Khawarizm diperbantukan,m. Sebagian besar mereka adalah tentara bayaran. Akhirnya Al-Quds dapat kembali ke kaum muslimin setelah 10 tahun dijajah Salib.

Di Mesir pasukan muslim juga melawan pasukan Nashrani. Sebanyak 1800 pasukan Nashrani tewas, sisanya dibawa ke Mesir yang dikuasai Al-Adil Ash-Shogir.

Al-Quds Kembali Runtuh Ketiga Kali

Konspirasi terjadi di Mesir, sehingga Al-Adil dilengserkan dan Mesir dipimpin oleh Ash-Sholih Najmuddin Ayyub (1240).

Penguasa Al-Quds, An-Nashir Dawud dan penguasa Damaskus, Ash Sholih Ismail berselisih dengan Raja Ash Sholih Najumuddin Ayyub. Merasa terancam, keduanya meminta bantuan dari kaum Nashrani dengan syarat Al-Quds diberikan kepada mereka.

Kota Al-Quds akhirnya jatuh Kembali ke tangan Nashrani tahun 1243. akibat pengkhianatan terutama oleh Sholih Ismail. Kota suci itu pun jatuh dimasuki tanpa perlawanan dan dinistakan oleh tentara Salib. Puncaknya, terjadi pertempuran antara pasukan Salib dan pasukan Sholih Ismail melawan pasukan Sholih Najmuddin di Gaza

Al-Quds Kembali ke Umat Islam

Ketika pertempuran akan berkecamuk di Gaza, pasukan Shalih Ismail membelot, dan melawan balik. Sehingga kekuatan tentara Salib dan kekuatan Sholih Ismail menjadi lemah dan kalah.

Di sisi lain., pasukan Mesir meraih kemenangan. Sebanyak 30.000 prajurit Nashrani dibunuh, sehingga perang ini disebut dengan perang Hithin jilid 2.

Raja Shalih Najmudi Ayyub mengejar pasukan Nashrani hingga ke Akka dan menguasai Syam termasuk Palestina. Damaskus juga dapat ia kuasai. Dengan demikian, ia berhasil menyatukan Kembali kerajaan Ayyubiyah.

Raja Shalih Ayyub dalam upayanya menguasai Al-Quds menggunakan bantuan Khawarizm. Setelah satu tahun dikuasai Salib, akhirnya Al-Quds Kembali ke umat Islam. Kondisi ini berlangsung sampai akhirnya Inggris memasuki kota itu tahun 1917.

Akhir Dinasti Ayyubiyah

Sholih Najmuddin Ayyub wafat, lalu istrinya yang merupakan Syajartud Dar mengambil alih kekuasaan. Ia berasal dari Mamalik atau budak dari Turki. Kepemimpinannya diingkari Kerajaan Ayyubiyah, namun mendapatkan baiat dari para Mamalik dan amir di Mesir.

Syajartud Dar kemudian menikah Izzudin Albek dari Mamalik, sehingga tahta beralih dan pertanda berakhirnya Dinasti Ayyubiyah di Mesir. Sedangkan di Syam masih berlangsung kekuasaan dari Ayyubiyah hingga Raja terakhir Asyraf ibn Yusuf (1249-1250) yang kekuasaannya jatuh setelah serangan tentara Mongol, Hulagu Khan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *