Oleh: Hasanah Ubaidillah, Lc
Dinasti Mamluk (1250-1517)
Mamluk berarti budak atau hamba sahaya yang dimiliki seseorang. Mamluk merujuk pada bentuk tunggal, dan mamalik bentuk jamak.
Dinasti Mamluk terbagi atas dua, yaitu
- Mamluk Mesir (1250-1517)
- Mamluk India (1206-1290)
Para Sultan Dinasti Ayyubiyah (1171–1260)
- 1174–1193 Salahuddin Ayyubi (pertama)
- 1193–1198 Al-Aziz
- 1198–1200 Al-Mansur
- 1200–1218 Al-Adil I
- 1218–1238 Al-Kamil
- 1238–1240 Al-Adil II
- 1240–1249 As-Salih Ayyub
- 1250–1254 Al-Asyraf Musa
Pemerintahan Dinasti Mamluk
Dinasti Mamluk terpecah menjadi dua fase, yaitu:
- Dinasti Mamluk Bahri (1250-1381) yang memerintah selama 131 tahun dan dipimpin oleh 28 sultan.
- Dinasti Mamluk Burji (1382-1517) yang memerintah selama 135 tahun dan dipimpin oleh 37 sultan.
Masa Transisi
Masa transisi terjadi dari tahun 1250 hingga 1260. Sultan yang memimpin pasa masa transisi adalah:
- Sultanah Syajarah Dur
- Sultan ‘Izzuddin Aibak
- Al Asyrof Musa (keturunan Ayyubiyah)
- Sultan Saifuddin Quthuz
- Sultan Nuruddin Ali
Dalam 10 tahun masa transisi, 3 Sultan terbunuh, sedangkan 2 sultan selamat karena masih kecil.
Prinsip Pemerintahan Dinasti Mamluk
- Kekuasaan milik pihak yang menang
- Tidak mengakui pewarisan kekuasaan
- Setiap mamluk berhak berkuasa
Masa Pembentukan dan Kejayaan
Masa Pembentukan dan Kejayaan Dinasti Mamluk berlangsung sejak pemerintahan Sultan Ruknuddin Baybars pada tahun 1260-1277 sampai era Al-Muayyad Syaik tahun 1421. Sepeninggalnya, era kejayaan berakhir disebabkan intensnya konflik internal Dinasti Mamluk, munculnya era Renaisance Eropa, dan munculnya Turki Usmani.
Keruntuhan Dinasti Mamluk
Dinasti Mamluk berakhir pada tahun 1517 dengan terbunuhnya Sultan Thuman Bay di tangan Turki Usmani. Sejak saat itu wilayah Mesir resmi di bawah Turki Usmani dan menjadi salah satu propinsinya. Tokoh-tokoh mamalik masih tetap berpengaruh di Mesir hingga abad ke 19.
Saifuddin Quthuz
Saifuddin Quthuz adalah salah seorang sultan Dinasti Mamluk. Nama aslinya adalah Muhammad bin Mamdud (al-Malik al-Muẓaffar Sayf ad-Dīn Quṭuz). Ia merupakan Sultan Mamluk ke-3 yang memerintah pada tahun 1259 selama 2 dekade. Ia adalah keponakan Jalaluddin Al-Khawarizmi, Raja Khawarizmi yang masyhur dan pernah melawan pasukan Tartar.
Masa Kecil Saifuddin Quthus
Setelah kekalahan orang-orang Khawarzhim dari pasukan Tartar, ia ditawan dan dijual ke Damaskus. Di sana ia dibeli oleh Aybak (Al Malik Al Muizz Izuddin Aybak).
Quthus dan Aybak
Setelah pernikahan Aybak dengan Shajaratu-dur, Saifuddin Quthus pindah ke Mesir bersama tuannya hingga Aybak menjadi raja di sana. Quthus masuk ke dalam keluarga kerajaan Raja Aybak setelah dilihat ketaatannya. Di istana Quthus dikenal sebagai orang yang tidak pernah meninggalkan salat dan tidak pernah menyentuh miras.
Di kalangan orang orang Mesir Quthus dikenal cerdas, berani, salih, dan ikhlas sehingga ia dicintai oleh mereka. Ia ditunjuk sebagai Gubernur Mesir oleh Aybak. Setelah Raja Aybak terbunuh pada tahun 1257 dan digantikan oleh anaknya, Ali Mansur Ali, Quthus masih tetap menduduki posisinya sebagai gubernur.
Perang Ain Jalut
Berdasarkan hasil musyawarah bersama para ulama, Saifudin Quthus menggantikan Mansur Ali Mansur untuk memimpin umat Islam. Pada 12 November 1259 Quthus menjadi Sultan Mesir yang merupakan raja pertama Dinasti Mamalik.
Hulaghu Khan mengirim orang yang mengancam akan menghancurkan Mesir seperti menghancurkan Baghdad pada tahun 1258. Utusan Hulaghu Khan dibunuh karena memata-matai pasukan Islam untuk bangsa Mongol.
Menuju Ain Jalut, pasukan Islam berkemah di luar Acre. Bangsawan Acre menawarkan bantuan. Ksatria Templar memberikan bantuan kepada Mongol. Sultan Qulthus menolak penyerangan terhadap bangsawan Acre karena mereka sekutu Islam.
Sultan Saifuddin Quthus akhirnya syahid pada hari Sabtu, 16 Dzulqaidah 658H.






