Palestina di Masa Usmaniyah

by

Oleh: Dr Saiful Bahri

Zionisme, Akar Sejarah dan Istilah-Istilah

6 kaitan zionisme:

  1. Hibbat Zion
  2. Judaism
  3. Theodore Herzl
  4. Negara Israel
  5. Anti Semitism
  6. Holocaust

Zionisme

Pra zionisme (Hibbat Zion) Yahudi
dan Rumania. Rabi Zevi Kalicher dan Judah Alkalai mempromosikan ide untuk bermukim di Palestina sejak 1840. Momen gerakan ini adalah saat terjadinya aksi kekerasan di Rusia dan terbunuhnya Tsar Alexander II pada tahun 1881.

Der Judenstaat (Negara Yahudi) adalah kumpulan tulisan Theodore Herzl yang diterbitkan pada tahun 1896. Buku ini menggembar-gemborkan datangnya era Zionisme. Beberapa artikel dan buku yang mengulas ide tentang Zionisme telah bermunculan sejak awal tahun 1840 dan beberapa kelompok pengusung ide Zionisme.

Rencana Herzl untuk menciptakan sebuah negara Yahudi disertai dengan program-program yang praktis ini mengantarkan gerakan ini pada Kongres Zionis pertama di Basel, Swiss, pada bulan Agustus 1897.

Theodore Herzl, lahir di Budapest, Hongaria, pada tanggal 2 Mei 1860, dari keluarga Yahudi. Pindah ke Wina, Austria, tahun 1878. Ia menjadi sarjana hukum pada 1884 dan bekerja di pengadilan Wina. Akhirnya, ia menemukan bahwa menulis adalah panggilan jiwanya dan meninggalkan pengadilan Askhenazi gerakan Yahudi Polandia, Rusia.

Tahun 1891, Herzl menjadi koresponden untuk koran New Free Press yang bermarkas di Wina. Ia berada di Paris, saat menyaksikan gelombang anti- Yahudi yang menguat karena adanya pengadilan atas Alfred Dreyfus, seorang tentara Perancis berdarah Yahudi. Dreyfus dituduh sebagai mata- mata di internal angkatan bersenjata Perancis. Dreyfus dipecat secara tidak hormat di depan khalayak ramai disertai umpatan terhadap keyahudiannya dalam upacara kemiliteran pada Januari 1985. Kasus Dreyfus memotivasi Herzl untuk mencurahkan pemikiran dan tenaganya dalam membela orang- orang Yahudi.

Pada tanggal 29 hingga 31 Agustus 1897 World Zionist Organization mengadakan seminar internasional 1 di Basel, Swiss. Atas inisiasi Theodor Hertzel bermaksud mendirikan negara Yahudi “Israel” di Palestina. Namun permintaan otoritas Yahudi ditolak Sultan Abdul Hamid II.

Dimulailah konspirasi untuk menjatuhkan Sultan Hamid sebagai entry point mendirikan negara Yahudi tersebut. Melalui al-Etihad wa at- 1914 M Yahudi mendorong berdirinya Turki Baru yg sekuler.

Organisasi Zionis:

  1. Hibbat Zion (Hovevei Zion) 1881 oleh Yahudi Rusia pasca Askhenazi dari Polandia)
    2. Alliance Israelite Universelle (AIU) 1860 di Paris, Perancis, 1874 di Istanbul, Turki.
  2. Jewish Colonization Association (JCA) 1891 di Argentina
  3. Anglo – Jewish Association (AJA)
  4. Organisasi Zionis (ZO), pada tahun 1897 di Kongres Zionis Pertama di Basel, Swiss. Nama organisasi ini berubah menjadi Organisasi Zionis Sedunia (WZO) pada Januari 1960. Organisasi ini merupakan payung bagi pergerakan Zionisme.

Sykes – Picot Agreement (May 1916)

Sykes-Picot Agreement disebut juga Asia Minor Agreement. Kesepakatan rahasia antara Inggris dan Perancis. Negosiasi dimulai November 1915 hingga terjadi kesepakatan di Mei 1916, antara Sir Mark Sykes (Inggris) dan François Georges-Picot (Perancis). Isi kesepakatan: Perencanaan mengeluarkan Palestina dari Wilayah Ottoman.

Balfour, Mencabut Palestina dari Ottoman dan diberikan kepada Zionis.

Deklarasi atau janji Balfour tidaklah muncul tiba-tiba. Sejak perang berkecamuk pada 1914 Lobi Yahudi di Eropa yang terwakili oleh Rothschild telah mengondisikan masa depan Palestina, yang nanti menjadi wilayah mandatori Inggris (saat itu Inggris tidak memilikinya, juga bukan wilayah jajahannya). Palestina, peta dengan nama khusus seperti saat ini tidaklah dikenal ketika masih berada di wilayah Ottoman. Karena saat itu terintegrasi ke wilayah yang dikenal dengan sebutan Syam.

Lobi Yahudi menembus Kabinet Inggris pada Februari 1917 melalui negosiasi tingkat tinggi, melibatkan orang penting dan pemegang kebijakan di kabinet Inggris dan tokoh-tokoh Zionis. Kemudian pada 19/6 Rothschild dan Weismann, mewakili tokoh zionis mengajukan kerangka detil deklarasi publik.

Balfour menandatangi draft final deklarasi tersebut pada 29/10. Maka, sidang kabinet Britania 31/10 menjadi formalitas untuk menjadikannya resmi sebagai sikap negara yang diwakili Departemen Luar negeri dua hari kemudian.

Deklarasi Balfour (2/11/1917) adalah janji pemukiman untuk Bangsa Yahudi di Kawasan yang diberi nama Palestina. Menteri Luar Negeri Inggris, Arthur Balfour, menjanjikan kepada Lord Walter Rothschild, seorang taipan Yahudi di Eropa. Teks deklarasi diterbitkan di media sepekan kemudian.

Deklarasi ini terdiri dari 119 kata, disusun oleh 25 pakar Yahudi Zionis dari berbagai negara. Chaim Weismann – Yahudi terkemuka, salah satu inisiator fanatik Zionisme – sampai turun tangan dengan 17 kali menyebrangi Samudera Atlantik.

Isi Surat Balfour

“Departemen Luar Negeri, 2 November 1917
Tuan Rothschild yang terhormat,
Saya sangat senang menyampaikan kepada Anda, atas nama Pemerintahan Sri Baginda, pernyataan simpati terhadap aspirasi Zionis Yahudi yang telah diajukan kepada dan disetujui oleh kabinet.
“Pemerintahan Sri Baginda memandang positif pendirian di Palestina, tanah air orang Yahudi, dan akan menggunakan usaha terbaik untuk memudahkan tercapainya tujuan ini, karena jelas dipahami bahwa tidak ada suatupun yang boleh dilakukan dan dapat merugikan hak-hak penduduk dan keagamaan dari komunitas-komunitas non-Yahudi yang ada di Palestina, ataupun hak hak dan status politik yang dimiliki orang orang Yahudi di negara negara lainnya.”
Saya sangat berterima kasih jika Anda dapat menyampaikan deklarasi ini untuk diketahui oleh Federasii Zionis.
Salam, Arthus James Balfour”

Lalu keluar mandat sepihak Liga Bangsa-Bangsa (LBB) yang melegalkan penjajahan Inggris. Ini disusul oleh klaim sepihak dari Zionisme melalui LBB yang mengambil alih semua wilayah Palestina.

Palestina di Akhir Masa Usmaniyah

Pada tahun 1867 seorang misionaris Amerika melaporkan Suatu perkiraan populasi Yerusalem dengan jumlah sekitar 15.000 penduduk dengan komposisi 4000 Yahudi dan 6000 Muslim. Setiap tahun terdapat sekitar 5000 peziarah Kristen Rusia. Pada tahun 1874 Yerusalem menjadi pusat dari sebuah distrik administratif khusus, dilepaskan dari wilayah Suriah dan berada di bawah Kewenangan langsung Istanbul yang disebut Mutasarrif Yesrusalem.

Hingga tahun 188 puluhan tidak terdapat satupun panti asuhan Resmi dia Yerusalem, sebab para keluarga pada umumnya saling merawat satu sama lain. Pada tahun 1881, Panti Asuhan Diskin didirikan di Yerusalem dengan datangnya anak-anak Yahudi yang menjadi yatim piatu karena suatu pogrom Rusia. Panti asuhan lainnya yang didirikan di Yerusalem pada abad kedua puluh yaitu Panti Asuhan Blumenthal Zion (1900) dan Rumah Yatim Umum untuk Perempuan (1902).

Palestina Masa Transisi

Tahun 1914-1918 meletus Perang Dunia 1. Setelah melalui perundingan yang alot, akhirnya disepakati bahwa wilayah jajahan Inggris (Selatan Palestina dan Selatan Iraq) dikembalikan sesuai kehendak rakyatnya. Sebagian besar masih menginginkan berada dalam wilayah Turki Usmani.

Palestina berada dalam jajahan Inggris sempurna pada Desember 1917 M. Jerussalem diduduki pada 09 Desember 1917, sepekan setelah deklarasi Balfour.
Maka proyek migrasi besar-besaran dilakukan. Tahun 1918 migrasi 55.000 jiwa (8% total penduduk) dan tahun 1948 migrasi 646.000 jiwa (31.7% total penduduk)

Pada 27 Januari hingga 10 Februari 1919 diadakan seminar Arab Palestina sebagai respon pembagian wilayah penjajahan. Terlaksana 7 kali seminar sampai tahun 1928. Muncullah Gerakan Nasional Palestina. Dan pada tahun 1924 Daulah Usmaniyah mengalami keruntuhan.

Palestina Modern

Pada tahun 1917 hingga 1948 Yerussalem ditaklukkan oleh Inggris dan berakhir dengan pemberian kemerdekaan kepada Israel pada 14 Mei 1948, tetapi jalan masuk ke Tembok Barat atau bukit Bait Allah masih tertutup bagi mereka. Mayoritas penduduk Israel adalah penganut Yahudi. Sebagian kecil penduduknya adalah Arab Muslim yang merupakan warga Arab-Israel (16%), dan ada beberapa persen beragama Kristen.

Adapun Palestina sebagian besar adalah Muslim dan sebagian kecilnya beragama Kristen-Arab Palestina. Di daerah Betlehem, hampir 30 % penduduknya beragama Kristen/Katolik.

Bangsa Yahudi

Bangsa Yahudi kehilangan interaksi secara langsung dengan tanah Palestina selama lebih dari 1800 tahun. Perkembangan populasi Yahudi dari sejak kembali masuk ke Palestina sekitar tahun 1771 sampai tahun 1918 jumlah Yahudi yang migrasi adalah 2.368.000 (dari Rusia dan Eropa Timur). Hanya 55.000 saja yang bisa masuk Palestina hingga 1918.

Sultan Abdul Hamid menggagalkan migrasi besar-besaran Bangsa Yahudi. Sisanya migrasi ke Amerika Serikat, Eropa Barat, dan Amerika Selatan, dengan rincian sebagai berikut:
– 1799 M : 5000 orang
– 1876 M : 13.920 orang
– 1914 M : 80.000 orang
– 1918 M : 55.000 orang
Pasca Perang Dunia 1 jumlah populasi menurun karena perang.

Perkembangan Populasi Yahudi di Palestina dari Tahun ke Tahun

  • Tahun 1799 5.000
  • Tahun 1876 13.920
  • Tahun 1914 80.000
  • Tahun 1918 55.000
  • Tahun 1948 M 646.000

Pada tahun 1947 melalui Resolusi Majelis Umum PBB nomor 181 yang dikeluarkan pada tanggal 29 November 1947, wilayah Palestina dibagi atas 3 bagian, yaitu Palestina seluas 11,780 km atau 44,8%, Israel dengan luas 14,400 km atau 54,7%, dan Al-Quds seluas 274 km atau 0,5%.

Palestina di Akhir Masa Usmaniyah dan Era Turki Baru

Sultan Abdul Hamid, Benteng Terakhir Baitul Maqdis

Pada tahun 1874 Sultan Abdul Hamid menaiki tahta dan memerintah Kesultanan Usmaniyyah bersamaan dengan naiknya kemapanan eksistensi Yahudi di Perancis dan mulai menyebar ke beberapa negara Eropa lainnya. Empat tahun kemudian, pada 1878 gerakan Yahudi di Rusia membentuk sebuah organisasi yang dinamakan “Ahibba Shuhyûn” (Hibbat Zion). Dengan bekerja sama Yahudi-Yahudi Eropa mereka melobi Sultan Abdul Hamid II untuk memberikan izin bagi mereka untuk melakukan migrasi ke wilayah-wilayah Turki Usmani.

Lobi ini cukup berhasil, mengingat bahwa Bangsa Rusia adalah tetangga “baik” bagi Kesultanan Usmaniyyah. Sultan Abdul Hamid II mengizinkan bangsa Yahudi untuk memasuki wilayah Turki Usmani, tetapi beliau mengecualikan wilayah Palestina. Orang-orang Yahudi dilarang keras untuk bepergian apalagi migrasi ke wilayah Palestina.

Bangsa Amerika yang belum memiliki pengaruh seluas saat ini kemudian ikut melobi Sang Sultan. Tapi Sultan Abdul Hamid II kukuh dengan pendapatnya, “Saya tak pernah mengizinkan Bangsa Yahudi untuk tinggal dan menetap di Palestina selama Kesultanan Usmaniyah berdiri”

Maka bangsa Yahudi berbondong-bondong ke Usmaniyah. Namun, mereka tetap tidak diperbolehkan memasuki Palestina. Dalam kurun 1881 – 1914 M diperkirakan jumlah migrasi bangsa Yahudi mencapai lebih angka dua juta jiwa. Kebanyakan dari daratan Rusia.
Kemudian Eropa, Amerika Utara dan Selatan.

Meski dilarang memasuki wilayah Palestina, orang-orang Yahudi secara diam- diam tetap memasuki wilayah Palestina bagian utara tanpa seizin Sultan. Bentrokan fisik terjadi antara penduduk pribumi dengan pendatang ilegal yang memaksa untuk membuat pemukiman. Bentrokan terjadi antara para petani Palestina dengan para pendatang gelap tahun 1886 M. Tanpa mereka sadari orang-orang Yahudi tersebut sudah mendirikan beberapa unit pemukiman.

Sultan Abdul Hamid II membuat kebijakan mengawasi Palestina di bawah tanggungjawabnya langsung. Beliau juga membuat keputusan mengusir orang-orang Yahudi untuk keluar dari Palestina. Keputusan ini kemudian ditentang Eropa dan mereka kembali melakukan lobi kepada Sultan untuk membiarkan Yahudi tetap berada di Palestina

Sultan Abdul Hamid II merespon dengan mengeluarkan surat keputusan dan undang-undang menghentikan izin migrasi Bangsa Yahudi ke wilayah-wilayah Kesultanan Usmaniyah. Hal ini diberlakukan sejak tahun 1888.

Merespon keputusan sang sultan, Yahudi-Yahudi Eropa menggalang dana untuk membebaskan tanah di Palestina yang akan diproyeksikan dan digunakan sebagai pemukiman bagi mereka di masa yang akan datang.

Pada tahun 1892 M, Kesultanan Usmaniyah lebih keras dalam merespon hal tersebut. Sultan mengeluarkan undang-undang dan peraturan untuk melakukan pengusiran – kembali- kepada orang-orang Yahudi dari Palestina. Kali ini diikuti dengan larangan keras menjual tanah Palestina, seluas atau sekecil apa pun untuk orang-orang Yahudi.

Pada tahun 1897 Kesultanan Usmaniyah menghadapi peperangan dengan Kerajaan Yunani. Meski tidak kalah, peperangan ini menguras energi dan keuangan Kesultanan Usmaniyah. Di tengah krisis keuangan tersebut, Hertzel menyeru kepada para milyader Yahudi di Eropa untuk mengumpulkan uang yang berjumlah sangat fantastis.

Melalui Duta Usmaniyyah di Viena, Austria, dana dari Yahudi Eropa tersebut ditujukan kepada Sultan Abdul Hamid II untuk mendapatkan izin membeli beberapa meter tanah di Palestina. Sang Sultan sangat marah dengan tawaran yang melecehkan kewibawaannya, merendahkan maruahnya, menghina kebesaran agamanya.

Beliau pun menolak tegas seraya mengatakan, “Sesungguhnya saya takkan pernah bisa membiarkan sejengkal tanah pun dari Palestina, karena itu bukan milikku. Itu milik rakyatku, bangsaku. Mereka berjuang terus menerus demi tanah tersebut serta menjaganya dengan darah mereka”.

Penolakan tersebut membuat orang-orang Yahudi terpukul. Segera pada tahun 1898 M mereka mengadakan kongres internasional kedua di Basel, Swiss, untuk mengatur ulang strategi pasca penolakan Sultan Abdul Hamid II. Setelah usaha dan desakan dari luar untuk melobi dan menaklukkan Sultan Abdul Hamid II gagal total, gerakan zionisme yang diprakarsai Hertzel tetap diteruskan setelah penggagasnya meninggal. Hertzel meninggal pada tahun 1904.

Kaum Zionis memanfaatkan orang-orang Yahudi yang “sudah terlanjur” berada di dalam jantung-jantung kekuasaan Usmaniyyah. Mereka melakukan aksi-aksinya dengan merusak moral muda-mudi, serta memecah belah umat Islam. Melalui sebuah yayasan bernama “Turki al-Fatâh” yang dilindungi dan diamankan eksistensinya oleh yayasan yang kemudian berubah menjadi partai; “Al-Etihad wa at-Taraqqi” yang dipimpin oleh Mustafa Kemal Ataturk. Gerakan demoralisasi tersebut terstruktur rapi menyerang generasi muda umat Islam.

Pada tahun 1909 M tepatnya pada bulan Juli di tahun tersebut, melalui Parlemen Turki, Sultan Abdul Hamid II digulingkan. Beliau dipaksa meletakkan jabatannya sebagai sultan dan menyerahkannya kepada Sultan Muhammad Rasyad dan kemudian dilanjutkan oleh anaknya Abdul Majid Wahiduddin. Praktis, Kesultanan Usmaniyah seperti boneka yang bisa dikendalikan. Bagaikan seorang lelaki tua yang terbaring di rumah sakit. Tak mampu melakukan apa-apa meski wujudnya ada.

Susunan pemerintahan stregis yang terdiri dari tiga belas kementrian, tiga pos penting di antaranya diduduki oleh orang-orang Yahudi, hanya satu saja menteri berasal dari Arab padahal sebagian besar rakyat Kesultanan Usmaniyah adalah Bangsa Arab. Sedang sembilan sisanya dimonopoli secara internal orang-orang dekat istana di Turki.

Selesailah kisah Sultan Abdul Hamid II. Ia menjadi pesakitan dan kemudian dipengasingan. Dijauhkan dari hingar bingar politik dan hiruk pikuk kekuasaan. Beliau pun meninggal tanpa iring-iringan kemewahan dan penghormatan jenazah sebagaimana laiknya seorang sultan. Tapi setidaknya beliau tak melakukan sebuah kesalahan yang kelak tak termaafkan oleh sejarah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *