Jakarta (24/1/2024) – Sejumlah pengurus Koalisi Perempuan Indonesia Peduli Al Aqsa (KPIPA) melakukan kunjungan silaturahmi ke Komisi Perempuan Remaja dan Keluarga Majelis Upama Indonesia (KPRK MUI) pada Rabu (24/1/2024). Utusan KPIPA beserta tamu dari Palestina disambut di Aula Majelis Ulama Indonesia, Menteng, Jakarta Pusat.
Silaturahmi dihadiri oleh Ketua KPRK MUI (Dr. Siti Ma’rifah) didampingi Sekretaris KPRK MUI (Ariyana, S.Ag) beserta pengurus, Ketua KPIPA (Nurjanah Hulwani, S.Ag., M.E), Ketua Koalisi Daiyah Internasional untuk Al Quds dan Palestina (DR. Sajidah), Sekjen Global Women’s Coalition for Al Quds and Palestine/GWCQP (Ustadzah Rabab Awad), dan Public Relation GWCQP (Dr. Badriyah).
Ketua KPRK MUI, Siti Ma’rifah, menyatakan bahwa MUI memberi apresiasi atas keberpihakan pemerintah Indonesia kepada kemerdekaan Palestina.
“Fatwa MUI No. 83 Tahun 2023 menyatakan bahwa hukum dukungan kepada Palestina adalah wajib bagi setiap muslim, diantaranya dengan menghindari/memboikot transaksi produk yang terafiliasi dengan zionis Israel, melakukan sholat gaib untuk korban syahid Palestina, mendistribusikan zakat/shadaqoh ke Palestina, dan menggalang dana,” tuturnya.
Siti juga menyampaikan bahwa KPRK merupakan bagian dari MUI sebagai perjuangan perempuan Islam untuk pemberdayaan perempuan menjadi keluarga yang maslahat dan generasi muda yang berkarakter dan bermartabat.
Ketua KPIPA, Nurjanah Hulwani, mengatakan bahwa ada kesamaan gerakan yang dilakukan oleh KPRK dengan KPIPA. MUI memberikan kekuatan perjuangan yang berada dalam garda terdepan fatwa boikot dalam upaya memutus penjajahan ekonomi, memimpin aksi nasional bela Palestina, dan memberikan bantuan kepada Palestina.
“Atas nama anak dan perempuan Indonesia, kita ingin menunjukkan bahwa kita bersama mereka. Data terakhir hari ini angka pembantaian saudara kita di Gaza adalah 26.000 orang meninggal dunia, 70% nya adalah perempuan dan anak,” tegas Nurjanah.
Selanjutnya, Ketua Koalisi Daiyah Internasional untuk Al Quds dan Palestina, DR. Sajidah, menekankan bahwa permasalahan keluarga tidak bisa dipisahkan dari permasalahan masyarakat.
“Perempuan wajib berperan dalam perjuangan pembebasan Baitul Maqdis. Setiap kita punya kelebihan masing-masing. Kalau kita bekerjasama dalam lembaga maka pengaruhnya akan lebih masif dengan tidak mengecilkan nilai individu,” pesannya.
Sementara itu, Sekjen Global Women’s Coalition for Al Quds and Palestine (GWCQP),
Ustadzah Rabab Awad, menyampaikan bahwa Koalisi Perempuan Global untuk Al Quds dan Palestina telah memiliki cabang di 57 negara. Mereka bertujuan memberikan kekuatan perjuangan rakyat Palestina untuk mendapatkan kemerdekaan.
Ia juga menyampaikan jika rakyat Palestina sangat perhatian dengan ilmu dan perjuangan. Mereka menyadari bahwa kemerdekaan bisa dicapai dengan ilmu/teknologi dan kekuatan fisik.
Senada dengan itu, Public Relation GWCQP, Dr. Badriyah, menyebut bahwa kita adalah Duta Palestina. Perempuan Indonesia adalah pelopor dalam pembelaan Palestina, sangat melek, tidak buta dengan kondisi saudaranya di Palestina.
“Kita telah melaksanakan amanah dari Allah sebagai khalifah di muka bumi dan amanah dari Rasulullah untuk menjaga tempat-tempat suci umat Islam. Semoga kita tetap konsisten melakukan pembelaan sampai Palestina meraih kemerdekaan,” harapnya.
Silaturahim ini diharapkan akan mengeratkan hubungan dan mempersatukan gerakan kaum perempuan Indonesia terhadap perjuangan Palestina secara lebih masif dan berdampak luas bagi kemerdekaan Palestina.






