Disampaikan oleh Wakil Ketua KPIPA, Hasanah Ubaidillah, Lc, MPhil, pada acara “Echoes of Palestine” di Bandung, 15 Agustus 2026
Ribath berarti komitmen menjaga agama, tanah air, ajaran Islam, tempat suci umat Islam terutama 3 masjid utama. Landasan ribath ada dalam QS Ali Imran ayat 200
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu, kuatkanlah kesabaranmu, tetaplah bersiap siaga di perbatasan (negerimu), dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.
Saat ini umat Islam berada di titik paling rendah. Kenyataan paling menyakitkan adalah 2 milyar umat Islam tidak bisa memberi makan 2 juta saudaranya di Palestina. Maka, beruntunglah kita jika di saat ini diberi kesempatan terbaik untuk melakukan ribath.
Syarat ribath adalah takwa sehingga mendapatkan keberuntungan. Kita tidak bisa membantu secara maksimal jika tidak menjadikan takwa sebagai perhiasan. Pastikan bahwa seluruh anggota badan terbebas dari maksiat.
Tugas kita adalah menjaga agar azan bisa terus berkumandang di semua tempat. Sementara itu, saat ini di Hebron tidak boleh solat di masjid.
Definisi Murabithah
Murabith (atau murabit) secara bahasa berarti orang yang menjaga atau menetap di suatu tempat perbatasan. Ia berasal dari akar kata rabatha yang artinya mengikat atau menambatkan. Kata ini digunakan bagi:
- Orang yang bersiaga dan berjuang di jalan Allah, seperti berjaga di garis depan wilayah Islam atau melindungi tempat suci umat Muslim.
- Orang yang “mengikat” hatinya dengan ketaatan kepada Allah SWT, konsisten menegakkan salat berjamaah, dan tidak pernah putus untuk terus menuntut ilmu serta membela agama.
- Orang yang menjaga dan melindungi wilayah perbatasan negara dari ancaman musuh.
- Orang yang bersiaga penuh menjaga, meramaikan kompleks Masjid Al-Aqsa, dan mempertahankan eksistensi Islam/umat Islam di kompleks Masjid Al-Aqsa, menjaganya dari gangguan atau serbuan kelompok zionis di Palestina.
Menjaga perbatasan seharusnya didahului dengan menjaga ibadah. Ribath dalam ibadah yang diajarkan Rasulullah tertera dalam hadits berikut
Dari Abu Hurairah ra, bahwasanya Rasulullah Saw bertanya kepada para sahabat: “Maukah aku tunjukan kepada kalian terhadap suatu amalan yang dapat menghapus kesalahan-kesalahan dan mengangkat derajat?” Para sahabat menjawab: “Tentu, wahai Rasul. Kemudian beliau menjawab: “Menyempurnakan wudhu dalam kondisi kedinginan, memperbanyak langkah ke masjid, dan menunggu shalat berikutnya setelah shalat, maka itulah ribath.”(H.R. Muslim)
Minimal ada tiga amalan yang senantiasa diamalkan Nabi saw, yaitu menyempurnakan wudhu, memperbanyak langkah ke masjid, dan menunggu waktu solat.
Ribath di Jalan Allah
“Dari Sahl bin Sa’d al-Sa’idi ra: “Bahwasanya Rasulullah Saw bersabda: “Bersiap siaga satu hari di jalan Allah lebih baik daripada dunia dan seisinya. Dan tempat cambuk salah seorang di antara kalian di surga lebih baik dari dunia dan seisinya. Dan berangkatnya seseorang pada waktu pagi atau siang di jalan Allah itu lebih baik dari dunia dan seisinya. (HR. Bukhari)
Ribath di Masjid Al-Aqsha
Kronologi Ribath Masa Kini di Masjid Al-Aqsa
- Umat Yahudi Beribadah di Masjid Al-Aqsa
Di awal pendudukan, ada fatwa dari pemimpin agama Yahudi yang mengharamkan umat Yahudi masuk Masjid Al-Aqsa. Fatwa ini berlaku sampai datangnya sapi merah yang akan disembelih untuk menyucikan masjid. Umat Yahudi yang berani masuk masjid pada waktu itu ditangkap oleh polisi Israel.
Sejak tahun 1967 kunci gerbang Masjid Al-Aqsa bagian barat sudah dikuasai zionis.
Selanjutnya, di Intifada kedua pada tanggal 28 September 2000, penjajah melarang renovasi Masjid Al-Aqsa dalam bentuk apapun. Mereka kemudian berupaya untuk menguasai bagian timur.
Berdasarkan konvensi internasional, Masjid Al-Aqsa dikuasai oleh umat Islam, sedangkan umat agama lain tidak boleh beribadah di dalamnya. Namun tahun 2000 umat Yahudi mulai masuk masjid dan melakukan peribadatan. Puncaknya mereka memasukkan hewan kurban ke dalam masjid.
Sejak itu, lahirlah gerakan dari umat Islam Palestina untuk mendatangkan orang meramaikan Al-Aqsa agar tidak kosong sehingga menutup peluang penguasaan Zionis atas Masjid Al-Aqsa. Saat ini penjaga Masjid Al-Aqsa tinggal 20 orang. Yang lain sudah dipenjara, disiksa, diculik, dll.
UNESCO menyatakan bahwa Masjid Al-Aqsa tidak ada hubungan dengan orang Israel. Tidak terdapat bukti sejarah yang menghubungkan antara Masjid Al-Aqsa dengan Yahudi. Bahkan, semakin banyak dilakukan penggalian, semakin banyak ditemukan peninggalan peradaban Islam.
- Tokoh Gerakan Islam Dilarang Masuk Masjid dan Halaqah Al-Qur’an Diserang
Sejak tahun 2007 penjajah mengejar tokoh-tokoh terkemuka Gerakan Islam. Tokoh-tokoh tersebut dilarang memasuki Yerusalem dan Masjid Al-Aqsa, seperti ketuanya Raed Salah, dan wakilnya, Kamal Khatib.
Maka, pada awal 2008 Gerakan Islam meluncurkan proyek “Teras Ilmu / مشروع مصاطب العلم ” di atas 36 teras batu yang terletak di halaman Masjid Al-Aqsa sehingga masjid tetap ramai.
Tahun 2010 muncul gerakan “ribat” (menjaga masjid) yang dilakukan oleh warga Al-Quds yang memutuskan untuk melawan penjajah.
Namun, tahun 2011 penjajah mulai melakukan penyerangan terhadap halaqoh Taklim di Masjid Al-Aqsa. Jumlah murobith dan murobithoh saat itu mendekati 1.200 orang.
Di awal tahun 2013, zionis menutup sumber daya lembaga-lembaga yang mendukung Al-Aqsa, menyita hartanya, serta menutup lembaga-lembaga tersebut.
- Undang-Undang Larangan Takbir dan Membaca Al-Qur’an di Depan Masjid Al-Aqsa
Tahun 2014 Menteri Kebudayaan Israel, Miri Regev, mengajukan Rancangan Undang-Undang ke Knesset (parlemen Israel) yang isinya: Siapa pun yang meneriakkan takbir (mengucapkan “Allahu Akbar”) di dalam Masjid Al-Aqsa dihukum dengan denda sebesar 50.000 shekel (USD13.000). Usulan ini tidak disetujui. Hukuman yang berlaku adalah denda sekitar 500 – 5000 shekel (sekitar USD165 – 1.650). Bisa juga diusir dan dilarang masuk Masjid Al-Aqsa.
Tanggal 3 September 2015 polisi penjajah menyebarkan Daftar Hitam lebih dari 50 perempuan Palestina yang dilarang masuk Masjid Al-Aqsa. Mereka juga menempatkan barikade dan pos pemeriksaan di seluruh pintu masjid.
Pemukim ilegal Yahudi diperkenankan masuk lewat pintu Maghoribah. Sedangkan semua laki-laki muslim yang akan masuk Masjid Al-Aqsa harus menyerahkan kartu identitas. Laki-laki yang membaca Al-Qur’an di pintu atau gerbang Masjid Al-Aqsa kartu identitasnya disita atau ia ditangkap.
Ribath Dilarang
Pada 9 September 2015 Menteri Pertahanan Israel, Moshe Ya’alon, mengeluarkan keputusan yang menyatakan Murabitun sebagai “organisasi terlarang”. Mereka dianggap mengacaukan keamanan di Al- Aqsa, menimbulkan bahaya bagi wisatawan, pengunjung, dan jamaah di tempat tersebut.
28 Jan – 8 Maret 2019 bertepatan dengan Hari Perempuan Internasional diluncurkan Gerakan Kita Semua Maryam untuk menyoroti penderitaan perempuan Al-Quds dan berkontribusi dalam mendukung mereka untuk membantu meringankan ketidakadilan yang mereka hadapi.
Kehidupan Murabithah
Keseharian Murabithah tak lepas dari mengurus rumah dan suami, membesarkan anak-anak, memasak, dll. Istimewanya, mereka tidak pernah melupakan rumah pertama dan terpenting, yakni Masjid Al-Aqsa.
Setiap hari para Murabithah masuk Masjid Al-Aqsa sekitar pukul 07.00 sebelum pemukim illegal datang sekitar pukul 8:00 pagi. Mereka membawa anak sehingga sejak kecil anak sudah dibiasakan dekat dengan masjid dan pengajian serta perjuangan. Wanita penjaga masjid ini meninggalkan Masjid Al-Aqsa sekitar pukul 15.00 setelah kaum pria pulang kerja dan menggantikan posisi mereka.
Aktivitas di dalam Masjid Al-Aqsa
Para Murabithah mengadakan halaqah (kelas) membaca Al-Qur’an, bahasa Arab, fikih, dan tilawah bersama di pelataran. Saat ada rombongan pemukim Yahudi atau tentara yang masuk, para Murabithah serentak mengumandangkan takbir (“Allahu Akbar”) sebagai bentuk protes damai dan penegasan bahwa tempat tersebut adalah tempat ibadah umat Islam.
Sering terjadi tindakan anarki dari tentara penjajah. Namun, para murabithah terus bertahan dan bertakbir hingga para penyusup ketakutan. Jumlah penyusup berkurang karena rasa takut dan panik yang ditimbulkan oleh teriakan para Murabithah.
Peran Murabithah
Mereka mendukung laki-laki Palestina dalam perjuangan mengingat pembatasan ketat dan risiko penahanan yang sangat tinggi bagi pria Palestina. Selain itu juga kaum pria tidak bisa hadir karena kewajiban mencari nafkah.
Mereka juga memperkenalkan dan mendokumentasikan Masjid Al-Aqsa yang diberkahi dan menyampaikan beritanya kepada umat Muslim di seluruh dunia agar mereka mengetahui tentang perjuangan dan apa yang terjadi Masjid Al-Aqsa.
Perjuangan ini membuat musuh marah.
•ذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ لَا يُصِيْبُهُمْ ظَمَاٌ وَّلَا نَصَبٌ وَّلَا مَخْمَصَةٌ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَلَا يَطَـُٔوْنَ مَوْطِئًا يَّغِيْظُ الْكُفَّارَ وَلَا يَنَالُوْنَ مِنْ عَدُوٍّ نَّيْلًا اِلَّا كُتِبَ لَهُمْ بِهٖ عَمَلٌ صَالِحٌۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُضِيْعُ اَجْرَ الْمُحْسِنِيْنَ
Yang demikian itu karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan, dan kelaparan di jalan Allah; tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir; dan tidak menimpakan suatu bencana kepada musuh, kecuali (semua) itu akan dituliskan bagi mereka sebagai suatu amal kebajikan. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik. ( At-Taubah; 120)
Para Murabithah menyiapkan makanan dan minuman di halaman Al-Aqsa, terutama “Maqluba” dan “Mahshi”. Akhirnya penjajah secara khusus melarang masuknya kedua hidangan tersebut di area masjid.
Pesan simbolis Maqluba:
- Pesan Kedaulatan: Mengukuhkan identitas dan tradisi kuliner asli Palestina di tanah Palestina.
- Pesan Politis: Simbol harapan bahwa situasi politik yang menjajah mereka suatu saat akan “dibalikkan” (flipped/overturned). Para penjajah akan terguling dan keadilan akan tegak kembali.
Di tengah perjuangan tersebut, dilaksanakan pula pernikahan di Masjid Al-Aqsa. Motto yang mereka angkat: “Pernikahan kami dimulai dari pintu langit”. Ini bertujuan untuk memotivasi para pemuda dan pemudi menikah di Masjid Al-Aqsa.
Mengenal Murabithah
Di antara Murabithah yang terkenal adalah Hanadi Halawani, Khadija Khweis, Aida Al-Sidawi, Samah Mahamid, Aya Abu Nab, Maali Eid, Hajja Nafisa Khweis, dan Nour Mahamid.
- Hanadi Halawani
Hanadi Halawani merupakan Murabithah dan guru Al-Qur’an sejak 2007. Ia berasal dari Baitul Maqdis, Palestina. Lahir di wilayah Wadi al-Joz, Yerusalem, pada tahun 1980. Hanadi memiliki 4 anak dan 1 cucu. Saat masih berusia 8 tahun neneknya menyampaikan harapan agar Hanadi menjadi guru Al-Qur’an di Masjid Al-Aqsa.
Ia menjadi salah satu tokoh wanita yang paling sering menjadi target pengejaran Polisi Zionis. Mulai menjadi target zionis sejak 2011 saat jadi guru Al-Qur’an di Masjid Al-Aqsa. Lalu dideportasi atau dicekal dari Masjid Al-Aqsa sejak 2012. Sejak itu ia mengajar Al-Qur’an dan memberikan ijazah Qiro’ah melalui zoom.
Pendidikan formal yang dijalani adalah S1 jurusan Social Service Al-Quds Open University dan S2 jurusan Demokrasi dan Hak Asasi Manusia dari Universitas Birzeit. Sedangkan pendidikan Non Formalnya, santri di Darul Qur’an tahun 2007 dan memperoleh sanad Qiro’ah.
Tahun 2015 di Bulan Ramadan ada larangan masuk Masjid Al-Aqsa. Hanadi memutuskan untuk menggelar buka bersama dengan suami, anak-anak, dan Murabithah lainnya di Gerbang Silsilah, gerbang terdekat dari Masjidil Aqsa.
Saat di penjara ia membuat nasi Maqlubah yang menyulut kemarahan sipir penjara. Ketika berkesempatan pergi ke luar negeri ia memasak nasi maqlubah di Turki dan Bahrain. Sejak 2015 ia terkenal dengan inisiatif “Maqluba Baitul Maqdis”, yaitu memasak hidangan tradisional maqluba untuk para jamaah di depan gerbang Al-Aqsa saat mereka dilarang masuk.
Kartu identitasnya disita sejak tahun 2023. Akibatnya, beliau tidak bisa mendapatkan akses asuransi kesehatan, tidak bisa pergi ke Tepi Barat, dll yang memerlukan kartu identitas. Ia hanya bisa menggunakan SIM. Salah seorang anaknya ditolak pengajuan pembaharuan kartu identitas karena statusnya sebagai anak dari Hanadi.
Hingga saat ini beliau sudah lebih dari 25 kali ditangkap. Lebih dari 5 kali mendekam di penjara antara 2 pekan sampai 1 tahun. Menjalani interogasi lebih dari 62 kali. Lebih dari 12 kali rumahnya digeledah dan isi rumah dirusak.
Sejak 2021 Hanadi dilarang bepergian ke luar negeri oleh Israel. Alasannya, kepergiannya ke luar negeri membahayakan keamanan Israel.
Ia juga dilarang posting di media sosial dan melakukan wawancara dengan media masa. Dilarang pula berhubungan dengan beberapa tokoh Baitul Maqdis dan tokoh Palestina, khususnya Syekh Raid Solah, Syekh Kamal Khatib, Khadijah Khuweis, dan Aida Saidawi, baik secara lagsung, lewat telepon ataupun media sosial. Saat suami Khadija Khuweis (DR Ibrahim Abu Ghalia) wafat, Hanadi dilarang menghadiri takziyah.
Kisah Penangkapan 9 Okt 2023
Polisi meledakkan pintu rumahnya tanpa surat perintah penangkapan. Alasannya, karena sekarang kondisi perang. Isi rumah beliau diobrak-abrik dan dihancurkan, lebih parah dari penggeledahan-penggeledahan sebelumnya. Semua HP disita, juga buku catatan, bros, barang-barang remeh yang nanti jadi bukti alat teroris.
Polisi penjajah menginjak Al-Qur’an dan mencaci maki Rasulullah Saw. Mereka masuk tanpa izin dan dalam kondisi Hanadi tidak berhijab. Wajah dan kepalanya diludahi hingga basah. Dibenturkan kepalanya ke tembok rumah, lalu diancam akan diperkosa dan dibunuh.
Putrinya baru 10 hari melahirkan operasi Caesar. Bayinya diambil. Sang ibu digeledah. Dilarang berpakaian dan menyusui bayi yang menangis. Dipukul dengan laras senjata sehingga jahitan operasi pendarahan. Dibawa ke kantor interogasi di hari berikutnya.
Suaminya ikut dijebloskan ke penjara, ditahan selama beberapa hari untuk diinterogasi. Mobil digeledah dan isinya dipreteli.
Kisah di penjara
Di dalam penjara Hanadi disetrum listrik. Ia dipaksa berdiri selama lebih dari 5 jam dalam kondisi tangan dan kaki diikat borgol besi. Lalu digeledah dan dipukuli oleh polisi laki-laki.
Ia juga menagalami pelecehan, diperiksa telanjang dalam kondisi diborgol kaki dan tangan oleh polisi perempuan. Kemudian diletakkan di sel penjahat kriminal seperti bandar narkoba atau pembunuh.
Di penjara itu tawanan perempuan hamil, orang tua, remaja, semua dipukul, disiksa dan disemprot gas air mata di dalam sel. Kerudung mereka dirampas dari kepala. Tidak ada selimut dan mereka dilaparkan. Makanan yang diberikan sangat sedikit dan rusak, sedangkan air juga sedikit dan tidak sehat.
Mereka seringkali diisolasi sendirian dalam penjara sehingga penghuni penjara lainnya tidak tahu nasib temannya. Jumlah penghuni sel biasanya 2 kali lipat dari standar kapasitas sel.
Cobaan 2026
Januari 2026 pengadilan menjatuhkan hukuman 3 bulan penjara dan masa percobaan 3 tahun. Juga denda sebesar 1.200 shekel (USD380) disamping denda lain sebesar 5.000 shekel (USD1.600) yang ditangguhkan selama 3 tahun.
Feb 2026 Hanadi dilarang bepergian ke luar negeri dan surat perintah perpanjangan larangan ditandatangani langsung oleh Netanyahu.
- Khadijah Khuweis
Khadijah lahir tahun 1977 di wilayah Thur/Bukit Zaitun, Al-Quds Timur. Ia menyelesaikan S1 Universitas Al-Quds Jurusan Quran dan Islamic Studies, S2 Usuluddin Hebron University, dan S3 Usuluddin (Tafsir) Najah National University lulus 2025.
Khadijah ibu dari lima anak—Safaa yang tertua dan Fatima yang termuda.
Ia merupakan mantan guru Tarbiyah Islamiyah di sekolah. Pensiun dini dari mengajar sejak 2014 dan memutuskan untuk fokus ribath di Masjid Al-Aqsa.
Sejak kecil ia menemani ayahnya salat di Masjid Al-Aqsa, bersekolah di sekitar komplek Masjid Al-Aqsa dan tumbuh di lingkungannya. Rumahnya 1 km dari Masjid Al-Aqsa.
Harga Perjuangan
Khadijah mulai ribath sejak 2014. Namun, selama lebih dari 10 tahun ia dilarang masuk Masjid Al-Aqsa kecuali beberapa hari saja. Semakin sering dilarang, makin bertambah keyakinannya akan kebenaran perjuangan dan semakin kuat keteguhannya menjaga Masjid Al-Aqsa.
Lebih dari 30 kali ia ditangkap. Dilarang bepergian lebih dari 5 tahun. Dilarang masuk Tepi Barat. Asuransi Kesehatan dirinya dan anaknya dibekukan lebih dari 4 tahun. Harus bayar mahal kalau berobat di Rumah Sakit atau klinik di Kota Al-Quds.
Khadijah juga dilarang berhubungan dengan beberapa tokoh Baitul Maqdis dan Murabithah.
Tahun 2024 Suaminya wafat setelah 1,5 tahun berjuang melawan kanker dalam kondisi sedang menyelesaikan studi doktor yang ke dua.
Keluarga Ribath
Khadijah muda ingin punya suami yang belajar ulum syariyah, hafal Al-Qur’an, dan bertakwa. Keinginannya dikabulkan Allah. Datanglah seorang pemuda sarjana Usuluddin jurusan dakwah, tapi miskin tidak punya rumah. Mantan tawanan. Warga Tepi Barat.
Hanya ta’aruf sekali pertemuan berbincang tentang Qur’an, buku, dan kampus, mereka langsung sepakat.
Pasangan ini berumah tangga sambil menyelesaikan S1. Kondisi ekonomi sedang sulit. Kadang makan hanya dengan minyak dan zaktar. Kadang tidak punya uang untuk beli obat anak yang sakit. Meskipun begitu, sang suami mampu menyelesaikan Master Balghoh dan juga Master Fikih. Juga menyelesaikan Doktor bidang Nahwu dan shorof.
Dipisahkan oleh Tembok Rasial
Suaminya selalu mendukung aktivitas dakwah dan jihad Khadijah, sekaligus penghibur. Tidak mengindahkan cibiran orang yang menganggapnya sebagai suami lemah yang dikendalikan istri. Menjadi ayah sekaligus ibu bagi anak-anaknya saat sang istri tidak di rumah.
Allah beri kemudahan mereka tetap bisa bersama selama 17 tahun meski suami bukan warga Al-Quds. Ia ditangkap beberapa kali dan dilarang masuk Kota Al-Quds. Sedangkan Khadijah dilarang pergi ke Tepi Barat. Mereka hidup terpisah selama setahun. Dipisahkan oleh tembok rasial. Sempat bertemu sekali saat beliau secara sembunyi-sembunyi bisa masuk ke Masjid Al-Aqsa. Akhirnya mereka bisa bersama lagi di tahun terakhir pernikahan. Waktu kebersamaan itu diisi dengan berobat dari satu Rumah Sakit ke Rumah Sakit lain di Kota Al-Quds.
Dinamika Perjuangan
Di hari libur Khadijah membawa anak-anak ribath di masjid. Ia sengaja membawa anak-anak tiap hari ke Masjid Al-Aqsa di Bulan Ramadan untuk menumbuhkan rasa cinta dan kepemilikan terhadap Masjid Al-Aqsa.
Setelah ribath, ia masak untuk keluarga, memeriksa apakah anak-anak melakukan tugas rumah, apakah mereka membaca wirid Qur’ani atau murojaah. Lalu ia mencuci pakaian dan merapikan rumah.
Saat di penjara tahun 2017, suaminya juga ditangkap. Anak-anak selama 15 hari tanpa ayah dan ibu. Selama 2 hari Khadijah solat tanpa kerudung dan gamis.
Tahun 2021 putranya Ahmad Ibrahim Abu Gholiyah lulus SMA dengan hasil kelulusan 96,1, meski di tahun itu ibunya 2x ditangkap, adik laki-lakinya terluka, adik perempuannya dilarang masuk Masjid Al-Aqsa. Ahmad tetap belajar karena ingin membahagiakan ibunya yang telah berkorban segalanya untuk Masjid Al-Aqsa. Ia berusaha mengatur waktu antara belajar dan ribath di Masjid Al-Aqsa.
Juli 2023 putranya Yusuf lulus SMA dengan nilai rata-rata 85,9.
Tahun 2025 sidang doktoral Khadijah dilakukan secara online karena serdadu zionis menghalanginya untuk sampai ke kampus di Nablus.
Kisah penangkapan
25 Oktober 2023 serdadu dalam jumlah banyak mengepung dan menyerbu rumah kontrakan Khadijah di waktu fajar. Mereka merampas HP dan mengobrak-abrik rumah. Tangan Khadijah diborgol ke belakang badan untuk pertama kalinya. Sebelumnya selalu di depan. Kaki diborgol dan kepala didorong ke bawah hingga hampir kena tanah.
Ia dilemparkan ke jeep dengan mulut disumbat, dipukul dan dicerca sepanjang jalan. Kerudungnya ditarik ke depan hingga tidak bisa melihat sampai akhirnya terlepas tidak berkerudung. Kondisi ini lebih parah dari pada penangkapan 2017. Saat itu kerudung dirampas di dalam penjara. Tapi penangkapan 2023 mereka merampas kerudung di luar penjara. Beliau berteriak terus-menerus hingga diberi kesempatan memakai kerudung dan menutup perutnya yg terbuka.
Tawana Era Topan Aqsa
Khadijah dituduh berafiliasi dengan berbagai organisasi, seperti ISIS dll. Tapi semua tuduhan tidak ada buktinya. Ia diinvestigasi dan diinterogasi di beberapa tempat. Pemeriksaan telanjang di tiap pos pemeriksaan.
Selama di penjara kurang dari 2 bulan berat badannya turun 6 kg. Air dari keran keruh. Menunggu setengah jam baru bisa diminum. Penjengukan dan berkomunikasi dengan keluarga dilarang. Hanya sekali bertemu pengacara.
Meski mengalami berbagai penyiksaan dan penawanan, ia tetap yakin pada akhirnya kebenaran yang akan menang. Janji Allah pasti terjadi. Semuanya tebusan bagi pembebasan Masjid Al-Aqsa.
Berita pembebasan lewat tukar menukar tawanan diterima pihak kelurga pukul 14.30. Keluarga menunggu sejak asar. Khadijah diturunkan dari mobil penjara jam 3.30 dini hari di pos pemeriksaan dekat rumahnya. Lalu berjalan kaki bersama saudara laki-lakinya yang menjemput sampai ke rumah.







