Palestina dan Peran Umat Islam

by

Disampaikan oleh Ketua KPIPA, Nurjanah Hulwani, SAg, ME pada acara “Echoes of Palestine” di Bandung, 15 Agustus 2026

Sudah puluhan tahun rakyat Palestina mengalami penderitaan akibat penjajahan Israel. 85% wilayah Pelestina telah dirampas oleh zionis, sedangkan 15% yang belum berhasil diduduki berada di Gaza.

Sejak tahun 1948 Masjid Al-Aqsa dinistakan. Penjaga masjid dibom dan dilaparkan oleh penjajah. Penderitaan semakin hebat manakala negara-negara tetangga Palestina memilih sikap bersahabat dengan penjajah.

Di Gaza saat ini ada 354.550 keluarga tinggal dalam tenda yang tersebar di 1.591 titik. Sedangkan 38.500 orang terpaksa tidur di tempat terbuka. Mereka kekurangan bahan makanan sampai ada yang terpaksa memasak kotoran hewan.

Banyak korban bom dan tembakan penjajah yang hingga sekarang terkubur di bawah puing reruntuhan rumah. Yang terluka pun harus menanggung sakitnya jahitan tanpa obat bius.

Namun, mereka tak tinggal diam. Rakyat Palestina yang hanya berjumlah 5,7 juta jiwa tetap berjuang mati-matian untuk merebut kemerdekaan, menyelamatkan tanah wakaf umat Islam. Mereka siang malam melawan penjajah demi mempertahankan Masjid Al-Aqsha agar tidak jatuh ke tangan zionis.

Bayangkan, rakyat Palestina dengan segala keterbatasan mempertahankan harga diri 2 milyar umat Islam.

Membantu Palestina berarti Membantu Para Penghafal Al-Qur’an

Sesungguhnya bentuk kesuksesan penjajah Israel adalah menjauhkan umat Islam dari kepedulian terhadap Palestina. Nyatanya, makin lama umat makin menganggap biasa dengan apa yang terjadi di Palestina. Padahal penjajah tidak pernah berhenti menyiksa mereka.

Membantu Palestina, pada hakikatnya, adalah membantu para penghafal Al-Qur’an dan keluarga penghafal Al-Qur’an. Sebab, Palestina adalah negara yang memiliki banyak sekali penghafal Al-Qur’an.

Di Gaza sendiri, setiap masjid selalu ada lembaga penghafal Al-Qur’an. Maka, membantu Palestina berarti membantu calon penghafal Al-Qur’an dan lembaga Al-Qur’an.

Membantu Palestina berarti membantu masjid dan membantu keluarga syuhada. Membantu Palestina juga berarti membantu memperbaiki jutaan mushaf Al-Qur’an yang rusak akibat dihancurkannya 1000 masjid oleh penjajah.

Ada sebagian penduduk Gaza yang berupaya mengumpulkan Al-Qur’an yang sudah rusak dan memperbaikinya. Mereka kemudian merekrut orang-orang yang mau membantu. Dalam satu hari mereka berhasil memperbaiki lima hingga enam mushaf Al-Qur’an.

Selama Palestina belum Merdeka, Umat Islam Berutang pada Rakyatnya

Dr Yusuf al-Qardhawi, seorang ulama Mesir, mengatakan, “Selama Al-Aqsa dan Palestina belum merdeka, selama itu pula umat Islam seluruh dunia berutang terhadap rakyatnya.” Karena itu, jangan tunda membersamai perjuangan Palestina karena kita tidak tahu kapan akan dipanggil Allah.

Seorang warga Gaza Utara berkata, “Kepada semua orang-orang di dunia ini, akan kami tuntut kalian di hadapan Allah karena kami adalah amanah di atas pundak kalian.”

Syekh Hani Hussein Lafi, seorang dai Gaza, menggambarkan perasaan warganya: “Salah satu beban paling berat adalah merasa ditinggalkan oleh umat Islam. Terkadang perasaan tersebut terasa lebih menyakitkan daripada dahsyatnya perang itu sendiri.”

Aksi Nyata, Harapan Nyata untuk Palestina

Setidaknya ada empat aksi nyata yang dapat kita lakukan, yaitu:

  1. Terus mengedukasi diri dan orang lain.
  2. Tanamkan militansi kepedulian bela Palestina dengan terus bergerak.
  3. Menghimpun kekuatan dana perjuangan Palestina dengan wakaf produktif Palestina dan dana darurat. Kita ingin membantu palestina tidak hanya dari donatur, tetapi juga dari bisnis yang dijalankan melalui wakaf produktif.
  4. Mendoakan Palestina setiap usai solat. Doa untuk Palestina harus diiringi dengan kebersihan diri dari dosa dan maksiat.

Perhatikan apa yang dilakukan seorang da’iyah Palestina bernama Dr Akmal berikut ini.

Suatu hari ia menghadiri sebuah pengajian umum. Pengajian tersebut ditutup dengan doa yang di dalamnya tak satupun terselip doa untuk Palestina. Maka, ia datangi ustadz yang mengisi kajian, meminta agar di setiap kajian selalu mendoakan Palestina.

Di hari yang lain Dr Akmal sedang di bandara. Beliau melihat peta negara yang ditulis dengan nama Israel. Ia segera mendatangi petugas, meminta peta tersebut diganti. Dr Akmal juga mencoret nama Israel di peta itu dan menggantinya dengan Palestina.

Terakhir, saya ingin mengatakan, perjuangan Palestina tidak bisa dijadikan panggung politik atau personal branding.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *