Disampaikan oleh Ustadz Abdul Aziz Abdul Rauf, Lc pada acara “Echoes of Palestine” di Bandung, 15 Agustus 2026
Dari Ibnu Abbas, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Awal dari urusan (pemerintahan) ini adalah kenabian dan rahmat, kemudian kekhalifahan dan rahmat, kemudian kerajaan dan rahmat, kemudian keamiran (kepemimpinan kecil) dan rahmat, kemudian mereka saling berebut kekuasaan seperti keledai yang saling menggigit. Maka hendaklah kalian berjihad, dan sesungguhnya jihad paling utama bagi kalian adalah ribat (menjaga perbatasan), dan ribat paling utama bagi kalian adalah di Asqalan.” (HR Imam At-Thabrani).
Hadits di atas menjelaskan beberapa periode yang dialami oleh umat Islam. Dimulai dari periode pertama yang disebut Rasulullah sebagai periode kenabian dan rahmat.
- Periode Kenabian dan Rahmat
Di masa ini Allah memerintahkan hambaNya untuk menjadi pengikut generasi pertama. Hal ini termaktub dalam QS At-Taubah ayat 100.
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada-Nya. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung.”
Di periode awal ini, Al-Aqsa sudah disosialisasikan melalui surat Al-Isra. Hingga tahun ke-9 H merupakan pemanasan menuju pembebasan Al-Aqsa.
Salah satu cara Allah dan RasulNya untuk menghidupkan cinta umat terhadap Masjidil Aqsa adalah perintah untuk mencintai Masjidil Aqsa yang disandingkan dengan mencintai Masjidil haram dan Masjid nabawi. Simak beberapa hadits berikut ini.
“Shalat di Masjidil Haram bernilai 100.000 kali lipat, shalat di masjidku (Masjid Nabawi) bernilai 1.000 kali lipat, dan shalat di Baitul Maqdis (Masjidil Aqsa) bernilai 500 kali lipat.”(HR. al-Bazzar, Ibnu Khuzaimah, dan at-Thabrani dari Jabir bin Abdullah).
“Janganlah kalian bersusah payah melakukan perjalanan jauh, kecuali ke tiga masjid: yaitu Masjidku ini (Masjid Nabawi), Masjidil Haram, dan Masjidil Aqsa.”(HR. Muslim dari Abu Hurairah).
Dari Maimunah radhiyallahu ‘anha, ia berkata:“Wahai Nabi Allah, berilah kami fatwa tentang Baitul Maqdis.” Maka beliau menjawab, “Ia adalah bumi tempat bertebaran dan tempat berkumpul (mahsyar). Datangilah ia, dan shalatlah di dalamnya, karena sesungguhnya shalat di dalamnya seperti seribu kali shalat di tempat lain.”Maimunah lalu bertanya lagi: “Bagaimana jika seseorang tidak mampu untuk datang ke sana atau menduganya tidak bisa?” Beliau menjawab, “Hendaklah ia mengirimkan minyak untuk menerangi lampu-lampunya. Siapa yang melakukan hal itu, maka ia seperti orang yang shalat di dalamnya.” (diriwayatkan dalam Musnad Ahmad dan Sunan Abu Dawud).
Saat Rasulullah wafat, 75% Al-Aqsa berada dalam genggaman umat Islam.
- Periode Kekhalifahan dan Rahmat
Di periode ini Umar bin Khattab membebaskan Baitul Maqdis.
- Periode Kerajaan dan Rahmat
Di periode ketiga kaum muslimin dipimpin oleh raja dengan sistem Islam. Sejahat-jahatnya pemimpin masa itu masih tunduk pada hukum Islam.
- Periode Keamiran (Kepemimpinan Kecil) dan Rahmat
Karakteristik kepemimpinan di masa ini masih mirip dengan periode sebelumnya, dimana umat Islam masih mendapatkan banyak kebaikan.
- Periode Saling Berebut Kekuasaan
Di periode terakhir, umat Islam dipimpin oleh manusia-manusia yang saling berebut kekuasaan, bagaikan keledai yang menggigit sangat kuat. Dalam QS Al Jumuah, keledai menjadi perumpamaan ketika orang tidak paham dengan hukum Allah. Ia adalah ikon kedunguan. Di masa ini rakyat hidup dalam kesulitan yang luar biasa.
Para sahabat kemudian bertanya apa yang harus dilakukan dalam kondisi seperti itu. Maka Rasul menjawab bahwa umat harus punya fikrah untuk berjuang di jalan Allah. Sebaik-baik jihad adalah dalam kesiagaan (ribath), dan sebaik-baik ribath adalah ketika berada di Atsqalan.
Para ulama mengatakan andaikata kamu berada di sekitar Atsqalan, itu sudah termasuk ribath.
Alangkah ruginya jika kita tidak memiliki ar-ribath (amal soleh dalam kesiagaan) bersama Al-Aqsa. QS At-Taubah ayat 120 menyatakan, bahkan ketika kamu melakukan hal-hal yang membuat orang kafir terluka hatinya, itu pun sudah dicatat sebagai amal kebaikan. Artinya, banyak sekali cara ribath Al-Aqsa yang bisa kita lakukan di zaman sekarang ini.
Ciri khas orang yang merintis ribath:
- Hafal surat Al-Isra
- Berinfaq; berikan infaq yang besar dan terus bertambah.
Para ulama mengatakan bahwa awal surat Al-Isra ayat 1 Allah sedang membahas tentang kemahakuasaanNya. Ia mampu menjalankan hambaNya. Allah menggunakan kata hamba, bukan Rasul. Maknanya, siapa saja yang punya penghambaan yang baik akan mudah diajak untuk peduli Al-Aqsa.
Dalam surat Al-Isra ini kata hamba diulang sebanyak 5x. Maknanya, Al-Aqsa butuh ubudiah yang luar biasa. Caranya adalah dengan membangun penghambaan diri kepada Allah.
QS Al-Isra ayat 1 kemudian ditutup dengan kalimat “Sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan Maha Melihat”. Allah menegaskan bahwa Ia mendengar dan melihat siapapun yang serius dalam pembebasan Al-Aqsa. Maka, lakukan ribath dengan melaksanakan apa yang ada di ayat-ayat selanjutnya.
Kita berharap forum ini bisa membuat kita betul-betul menjadikan Al-Aqsa sebagai sumber kehidupan, minimal dengan mengajak orang yang belum peduli. Kesungguhan kita akan dikembangkan oleh Allah kepada generasi penerus kita. Ini merupakan rahmat dari Allah Swt.







