Oleh: Banna Sari, S. Ag.
Lini Masa 471 tahun Palestina dalam pangkuan Islam:
- 51 H/637 M: pembebasan Al Quds di masa Umar bin Khattab
- 661M-749 M: masa Dinasti Bani Umayyah
- 749 M-1095 M: asa Dinasti Abbasiyah
Konvensi Umar dan Tatanan Hidup Damai di Bawah Naungan Islam
- Palestina di bawah kekuasaan Islam saat itu berkembang menjadi sebuah wilayah yang multikultur. Umat Islam, Nasrani, dan Yahudi yang berdiam di wilayah Palestina hidup berdampingan secara damai dan tertib. Sejak awal menaklukkan wilayah Palestina, penguasa Islam tidak pernah memaksakan agamanya kepada penduduk setempat. Mereka tetap diperbolehkan menganut keyakinan lama mereka dan diberi kebebasan beribadah.
- Sejalan dengan pergantian dinasti yang memerintah, Palestina berturut-turut berada di bawah berbagai kekuasaan mulai dari Dinasti Umayyah, Dinasti Abbasiyah, Dinasti Seljuk, Dinasti Fathimiyah, kaum Salib Eropa, Dinasti Mamluk, dan Turki Usmani. Yang terakhir ini menguasai Palestina selama dua abad (1516-1917).
Masa Dinasti Bani Umayyah
Ini merupakan masa pemakmuran Masjid Al Aqsa. Pemimpin pertama Bani Umayyah adalah Mu’awiyah bin Abi Sufyan, sahabat yang turut serta membebaskan Al Quds di masa Khalifah Umar bin Khattab. Sumpah jabatan diambil di kota Al Quds.
Berikut pembangunan yang dilakukan pada masa itu:
- 685 M: pembangunan Kubah Silsilah
- 685-691 M: pembangunan Masjid Kubah Ashshakhrah
- pembangunan pintu Arrahmah dan pintu Attaubah, pemerataan Masjid Al Qibli
- Pembangunan Istana Dinasti Bani Umayyah, pintu akses yang disebut Al Muzdawij.
Masa Dinasti Bani Abbasiyah
Pada masa ini pemakmuran Masjid Al Aqsa difokuskan pada renovasi karena kejadian alam seperti gempa bumi.
- 136 H: renovasi Masjid Al Qibli, Abu AJ’far Al Manshur
- 163 H: renovasi kembali pada masa Khalifah Al Mahdi
- 169 H: izin tenovasi gereja masa Khalifah Harun Al Rasyid
- 216 H : renovasi Kubah Shakhrah, pembuatan mata uang Al Quds masa Khalifah Al Makmun
- 301 H : penambahan tiang-tiang penyangga Kubah Shakhrah, penambahan pintu-pintu dan melapisinya dengan emas pasa masa Khalifah Al Muqtadir Billah
Masa Kelemahan Dinasti Abasiyah
Pada masa ini Dinasti Fathimiyah mengambil alih penguasaan Syam (Palestina, Suriah dan Hijaz). Kemudian terjadi peralihan kekuasaan oleh Dinasti Seljuk.
Beberapa peristiwa penting:
- Renovasi Masjid Al Aqsa dilanjutkan
- Salah satu pemimpin Dinasti Fathimiyah, Al Hakim Bin Amrillah, (986-1021 M) memulai terjadinya kekacauan yang pada akhirnya memicu perang salib.
- Di periode berikutnya, saat kekuasaan Al Quds beralih ke Dinasti Turki Seljuk yang berhasil menggantikan kekuasaan Khalifah Fatimiyah di wilayah Yerusalem pada 1070, Dinasti Turki Seljuk menerapkan kebijakan baru yang oleh umat Kristiani dari Eropa sangat membatasi kebebasan beribadah mereka.
- Penguasaan ekonomi saudagar muslim di Asia Kecil. Posisi para pedagang Eropa mulai terancam oleh para pedagang Muslim. Pada abad ke-10 para saudagar Muslim menguasai hampir seluruh jalur perdagangan di Laut Tengah.
Perpecahan dan Perselisihan di Tubuh Umat Islam
Pada tahun 485 H/ 1092 M, Sultan Maliksyah dari Kesultanan Seljuk wafat. Kemudian terjadi perang saudara antara kedua anaknya, Mahmud dan Berk Yaruk. Lalu pada tahun 489 H/ 1096 M terjadi perang saudara antara Emir Ridwan dari Aleppo dan Emir Duqoq dari Damaskus.
Perang Salib Meletus, Awal bencana Di Tanah Suci
Peristiwa yang terjadi menjelang perang salib:
- Al Hakim menyerang dan membunuh orag- orang Nasrani dan menghancurkan gereja- gereja di Al Quds, termasuk gereja al Qiyamah (The Holy Sepulchre)
- Faktor lainnya : Adanya lapisan masyarakat miskin di Eropa yang memerlukan bahan pangan. Sumber bahan pangan berada di wilayah-wilayah penguasaan kaum muslimin
- Seruan Paus Urbanus II : “Pergilah kalian! Buatlah kecemasan terhadap orang Barbar itu. Bersihkan tanah suci dari tangan orang- orang kafir. Rebutlah diri kalian karena tanah suci terdebut penuh dengan susu dan madu , sebagaimana dikatakan dalam kitab Taurat.”
- 1095 Awal Meletusnya Perang Salib
- 1099 M Al Quds jatuh ke tangan Pasukan
Salib - Dukungan Dinasti Fathimiyah yang berkhianat
Pembantaian Kaum Muslimin dan Penodaan Tanah Suci
Saat Pasukan Salib Memasuki Al Quds terjadi pembantaian terhadap penduduk Kota Al Quds. Mereka menyembelih siapa saja tanpa membedakan laki-laki atau perempuan, anak-anak atau orang tua. Masjid Al Aqsa menjadi benteng terakhir.
Kesaksian Pendeta Raymond : “Aku kesulitan berjalan di antara mayat- mayat yang tersebar kecuali dengan berat hati untuk melangkah. Banjir darah hingga mencapai ketinggian lutut kaki.”
Gustave Le Bon Mengutip kesaksian Raymond Douglas: “Kaum Nasrani telah berlebihan dalam menumpahkan darah di Haikal Sulaiman, hingga tubuh-tubuh mayat tenggelam dalam darah. Tangan dan kaki dapat berenang. Para tantara tidak dapat menahan bau uap yang keluar dari tubuh-tubuh mayat tersebut.”
Di masa penguasaan kaum salib, Masjid Kubah Ashshakhrah menjadi Temple Domini. Ashakhrah dilubangi untuk mengalirkan darah hewan sembelihan. Batu dipecah dan dijual seharga emas, lalu dii atas batu ditancapkan palang salib. Sementara, Mushalla Al Marwani dijadikan kendang kuda (Solomon Stable).
Kebangkitan Dinasti Zankiyah : Upaya Membebaskan kembali Al Quds
Pada masa ini muncul sosok Attabik Imaduddin Zanky bin Aq Sanqar (berkebangsaan Turki) yang bekerja untuk pemerintahan Maliksyah, Bani Seljuk loyalis Bani Abbasiyah. Ayahnya Aqs Sanqar adalah gubernur Halb (Aleppo) tahun 1085- 1094 M. Pada tahun 1127 Imaduddin menguasai Baghdad, Mosul, Sanjar, Jazirah bin Umar, dan Hiran. Lalu pada tahun 1128 ia berhasil merebut kembali Aleppo. Imaduddin mendirikan kerajaan Attabik
dengan Ibukota Mosul. Ia juga berhasil merebut Kota Ruha (Edessa) wilayah yang sebelumnya dikuasai pasukan salib.
Nuruddin Mahmud bin Zanky, Pelanjut Strategi Sang Ayah
Nuruddin menyatukan Negeri Syam. Ia menguasai Mesir dan menggabungkannya dengan Syam. Puncaknya, Nuruddin berhasil membebaskan Palestina. Hal ini diawali dengan aksi Nuruddin Zanky mengutus Asaduddin Syirkuh (paman Shalahuddin). Sang paman mengajak Sahalahuddin turut serta. Inilah awal kepemimpinan Shalahuddin
Peran Najmuddin Ayyub, Ayahanda dan Ibunda Shalahuddin
Najmuddin Ayyub adalah seorang penguasa Tikrit (bagian Iraq). Ia ingin menikahi gadis yang sevisi dan misi yang sama-sama untuk melahirkan generasi pembebas Al Aqsa.
“Aku menginginkan istri yang salihah yang bisa menggandeng tanganku ke surga dan melahirkan anak yang dia tarbiyah (didik) dengan baik hingga jadi pemuda dan ksatria serta mampu mengembalikan Baitul Maqdis ke tangan kaum muslimin.”
Suatu hari, Najmuddin duduk berbincang bersama seorang Syaikh di masjid Tikrit. Datanglah seorang gadis memanggil Syaikh dari balik tirai dan Syaikh berbicara dengan gadis itu. Tanpa sengaja Najmuddin mendengar Syaikh berkata pada gadis itu.
“Kenapa kau tolak utusan yang datang ke rumahmu untuk meminangmu?”
Gadis itu menjawab, “Wahai, Syaikh. Ia adalah sebaik-baik pemuda yang punya ketampanan dan kedudukan, tetapi ia tidak cocok untukku.”
Syaikh berkata, “Siapa yang kau inginkan?”
Mendengar hal itu sang gadis menjawab dengan lantang, “Aku ingin seorang pemuda yang menggandeng tanganku ke surga dan melahirkan darinya anak yang menjadi ksatria yang akan mengembalikan Baitul Maqdis kepada kaum muslimin.”
Suatu saat Najmuddin berkata pada anaknya, Shalahuddin, yang masih kecil, “aku menikahi ibumu bukan untuk membuatmu bermain-main dengan anak-anak seusiamu. Akan tetapi, aku menikahi ibumu agar engkau membebaskan al- Quds!”
Peran Madrasah Nidzamiyah dalam Pembentukan Generasi Shalahuddin
Ruang lingkup islah:
- Membentuk generasi baru ulama dan murabbi
- Melahirkan sistem pendidikan dan pengajaran baru:
- Filsafat pendidikan
- kurikulum pendidikan
3. Menghidupkan misi amar Ma’ruf Nahi Munkar
4. Mengkritik penguasa yang zalim
5. Memberantas Materialisme, praktik keagamaan yang pasif, Dan meluruskan persepsi masyarakat tentang dunia dan akhirat
6. Menyeru kepada keadilan sosial
7. Memberantas aliran-aliran sesat
Shalahuddin, Sekilas Kisah Awal
Ia bernama Yusuf bin Ayyub, keturunan Bani Ayyub (Kurdi). Shalahuddin dibesarkan dalam lingkungan budaya Turki di daerah Syria. Ia memiliki pengalaman militer dalam pengarahan Nuruddin Zanki, dan ditempatkan sebagai Vizier (Menteri Tinggi) untuk Mesir pada tahun 1169. Kemudian ia menjadi gubernur Mesir 1171. Pada tahun 1173 Shalahuddin menggantikan Nuruddin yang telah wafat sebagai sultan.
Faktor-Faktor Kemenangan
- Pribadi yang zuhud; gemar bersedekah
Shalahuddin Rahimahullah adalah seorang raja, tetapi beliau tidak memiliki serta tidaklah meninggalkan dalam perbendaharaan pribadinya (berlimpah) emas dan perak melainkan 74 Driham Nashiriyah serta satu “jumput” emas (Tyre). Ketika Shalahuddin Rahimahullahu Tal’ala wafat, tidak terkumpul (dari hartanya) yang dapat dikenakan atasnya (hukum) zakat (karena sedemikian kecilnya).
Beliau telah menghabiskan sedikit harta yang pernah dimilikinya untuk sedekah.
- Pribadi yang menjaga salat berjama’ah
Ketika beliau sakit, dipanggillah sang Imam
sendirian menemuinya. Shalahuddin memaksakan dirinya untuk bangkit dari tempat tidur agar dapat salat berjama’ah dengan sang Imam. Beliau Rahimahulahu Ta’ala sangat tertib menjaga salat berjama’ah.
- Kedalaman aqidah & kefahaman yang lurus
Kefahaman Shalahuddin atas aqidah sangat dalam sehingga beliau dapat mengatasi perdebatan atas kefahamannya. Perkataan beliau terkenal bijaksana walau tidak selalu menggunakan istilah khusus Fugaha. Shahaludin dirahmati Alah Ta’ala dengan
aqidah yang lurus. Ini terlihat dari banyaknya
zikir kepada Allah Ta’la, dimana beliau
mempelajrai aqidah melalui dalil yang diajarkan secara teruji dan mendalam dengan
para Masyaikh.
- Shalahuddin belajar dari kekalahan dan kehilangan
Ketika Sultan Shalahuddin kembali dari peperangannya beberapa saat sebelum tiba di Mesir, sampailah berita wafat ayahnya, yaitu Najmuddin (Ayub). Beliau menjadi rapuh sedih atas kenyataan tidak merawat ayahnya menjelang wafat. Beliau bergerak cepat untuk mengepungnya dan menyerang Bangsa Franks (Pasukan Salib) dalam beberapa pertempuran. Namun Shalahuddin kembali dari pertempuran tanpa suatu kemenangan pada kali pertempuran ini.
Faktor Keadaan Muslim Mesir di Masa Fathimiyah
Pelemahan ketika Mesir dikuasai Fathimiyah. Pada masa kekosongan kepemimpinan, Negara mengadakan berbagai cara pengumpulan dana dengan prinsip yang tidak bisa dibenarkan. Negara menetapkan berbagai jenis pajak yang petugasnya (berlaku seperti) perampokan”. (Al Kailani p. 78: Ibnu Katsir Al Bidayah XII: 299).
Para jamaah haji pun dikenakan banyak macam pajak oleh negeri-negeri yang mereka lintasi, sebagaimana dilakukan oleh Syi’ah Fathimiyah di Mesir terhadap haji dan Maghrib (al Kailani, p. 78).
Perpecahan dan Melemahnya Kekuatan Musuh
Pada tahun 1180 Crusader State Mengalami stagnasi perluasan wilayah. Kingdom of Jerusalem menjadi terisolir karena embalinya Edessa ke pangkuan Islam, dikuasainya kembali Antioch oleh Bizantium, dan independensi County of Tripoli secara politik. Saat itu kekuatan politik raja Yerusalem berpindah ke tangan barons. Sedangkan posisi Templars dan Hospitallers secara militer semakin menguat.
Pada Jumat 27 Rajab 583/ 2 Oktober 1187, Shalahuddin memasuki Al Quds dengan kemenangan gemilang. Ia memboyong mimbar Nuruddin Zanki ke sana.








