Oleh : Nurjanah Hulwani (Ketua KPIPA)
Sebagian besar perempuan di belahan dunia, jika datang siklus menstruasi, seringkali merasakan nyeri dengan tingkat kesakitan yang beragam. Hal ini merupakan sesuatu yang lumrah terjadi. Dalam keadaan yang baik-baik saja, perempuan yang sedang mensturasi dan mengalami nyeri tidak perlu direpotkan dengan ketiadaan pembalut dan air untuk membersihkan diri. Meskipun terkadang sambil menahan nyeri, perempuan masih bisa melalui hari-hari menstruasi dengan keadaan perut kenyang dan situasi aman.
Namun, dalam situasi yang tidak aman, hari-hari menstruasi harus dilalui dengan jauh lebih berat oleh perempuan Gaza. Bagaimana mereka menghadapi mensturasi dalam situasi agresi Israel sejak 7 Oktober 2023 sampai saat ini?
Pada awal-awal pemboman Israel ke Gaza, 4 bulan sejak 7 Oktober 2023, perempuan Gaza mulai merasakan beratnya berjuang saat datangnya mensturasi. Penyerangan Israel ke Gaza membuat infarstruktur hancur, termasuk kamar mandi yang memadai untuk perempuan. Selama di pengungsian, satu toilet digunakan untuk 850 orang dengan air bersih yang terbatas.
Melihat kondisi seperti ini, perempuan Gaza terpaksa mengonsumsi pil KB. Efek samping mengerikan, seperti nyeri dada, gumpalan darah, sakit kepala, pusing, perubahan siklus menstruasi, menstruasi tidak teratur atau berhenti, penambahan berat badan, retensi cairan dan kembung, depresi dan insomnia, serta disfungsi hati.
Begitu juga keterbatasan pembalut dan kondisi toilet yang penuh sesak, para perempuan terpaksa mengganti pembalut hanya sekali sehari. Ini memengaruhi kondisi psikologis mereka dan meningkatkan risiko infeksi serta jamur di area sensitif.
Haya Hijazi, seorang dokter spesialis kandungan dan ginekolog yang bekerja di beberapa rumah sakit di Jalur Gaza, mengatakan kepada media Daraj bahwa sejumlah wanita Gaza terpaksa tidak mengganti pembalut mereka selama mungkin. Situasi ini berbahaya yang secara signifikan meningkatkan risiko infeksi dan penyakit reproduksi.
“Saya mulai mensturasi ketika saya berada di tempat penampungan yang penuh sesak. Saya hanya punya satu pembalut, jadi saya membungkusnya dengan tisu agar awet,” kata seorang perempuan muda dari Gaza.
“Saya tidak bisa mandi, dan rasa sakitnya luar biasa. Saya menangis dalam diam.”
Ada sekitar 700.000 perempuan dan anak perempuan yang sedang menstruasi yang sulit mendapatkan pembalut. Jalur Gaza membutuhkan lebih dari sepuluh juta pembalut per bulan, namun kurang dari seperempatnya tersedia. Banyak perempuan dan anak perempuan terpaksa menggunakan pakaian bekas, kain robek atau spons. Mereka seringkali menggunakan kembali tanpa mencucinya.
“Saya merobek baju saya menjadi beberapa bagian agar putri-putri saya bisa menggunakannya sebagai pengganti pembalut,” kata seorang ayah empat anak yang mengungsi dari Jabalia di Gaza utara.
Bagi perempuan Gaza, ketersediaan pembalut bukan sekedar barang mewah, melainkan kebutuhan mendesak. Begitu juga yang dikatakan Maysa, pengungsi di Khan Yunis:
“Makanan membuat kami tetap hidup. Tetapi pembalut, sabun, dan privasi membuat kami hidup bermartabat.”
Perempuan Gaza menghadapi siklus mensturasi bukan hanya dalam keadaan ketiadaan pembalut, keterbatasan air dan kamar mandi yang kotor dan penuh sesak, tetapi mereka menjalaninya juga dalam keadaan lapar, keluarga syahid, dan rasa ketakutan karena pengeboman terus menerus. Semua ini menambah penderitaan mental perempuan yang sedang mensturasi.
Sedemikian kejinya penjajah Zionis Israel menghina perempuan Gaza yang sedang mensturasi dengan segala keterbatasan pembalut dan kamar mandi yang memadai. Sebagaimana kita tahu perempuan Gaza adalah sebaik-baik perempuan. Bukan hanya karena kedekatannya dengan Al-Qur’an, tetapi keteguhan mereka mewakili umat Islam melawan penjajah Zionis Israel.
Siapapun muslimah yang belum bergerak membantu Gaza Palestina, Allah akan bertanya kelak di akhirat tentang dimana mereka saat perempuan Gaza dihina penjajah Zionis Israel saat menjalani mensturasi.
Semoga kita diistiqomahkan Allah untuk terus membersamai perjuangan memerdekakan Palestina dan dijauhkan dari kelompok orang-orang yang membiarkan penghinaan Zionis Israel terhadap perempuan Gaza, seperti yang disabdakan Rasulullah Salallahu Alaihi wa Salam:
من أُذل عنده مؤمن فلم ينصره، و هو يقدر على أن ينصره أذله الله على رؤوس الخلائق يوم القيامة
“Barangsiapa yang menyaksikan saudara Muslimnya dihina dan dia tidak membantunya sedangkan dia mampu, maka Allah akan menghinanya dihadapan sekalian makhluk di hari akhirat”. (HR.al-Baihaqi)







