Oleh : Nurjanah Hulwani
Ketua KPIPA
Saat ini kondisi perempuan dan anak-anak Gaza menghadapi penderitaan yang melampaui kalkulasi manusia. Jika penderitaan tersebut diberikan kepada gunung, maka gunung itu akan hancur. Dan jika diberikan kepada batu, maka batu itu akan pecah.
Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, sejak 7 Oktober 2023 sampai hari ini (29 Agustus 2025) jumlah korban syahid adalah sebanyak 63.025 orang dan jumlah yang luka parah sebanyak 159.490 orang. Jumlah ini belum termasuk mereka yang tertimbun.
Sejak Gaza di bombardir zionis Israel dengan cara dibuat lapar, PBB mengumumkan secara resmi kelaparan di Jalur Gaza. Sekitar 30% anak Gaza menderita malnutrisi. Sebanyak 1,07 juta (54%) warga Palestina di Jalur Gaza mengalami kerawanan pangan akut (level keempat). Bahkan 4 dari setiap 10 ribu anak di bawah umur 5 tahun meninggal dunia akibat kelaparan. Sebanyak 396 ribu orang menderita kerawanan pangan parah (level 3). (Sumber: Shehab, 23/8/25)
Tidak hanya kematian dan luka parah yang dialami rakyat Gaza akibat kebiadaban penjajah Zionis Israel. Kita juga menyaksikan berulang-ulang video dan gambar-gambar kekejian penjajah Zionis Israel dalam membantai rakyat Gaza dengan bom dan dengan melaparkan mereka, dengan tidak dibukanya pintu masuk bantuan kemanusiaan melalui pintu Rafah oleh Mesir dan Israel.
Kita para muslimah tidak mungkin hanya menjadi penonton atas semua kekejian ini.
Segala penderitaan yang dialami perempuan Gaza adalah bentuk pengorbanan, tidak hanya untuk menghentikan penjajahan di Gaza dan Palestina secara keseluruhan, tetapi juga bentuk pengorbanan untuk mengembalikan kesucian dan kemulian masjid Al-Aqsha.
Jika jumlah rakyat Palestina termasuk perempuan yang berjuang di garda terdepan melawan penjajah adalah 5 juta dan jumlah umat Islam seluruh dunia 1,5 milyar, maka satu perempuan Gaza menanggung beban pundak 300 muslimah Indonesia.
Membantu Palestina bagi setiap muslimah bukan hanya sekedar alasan kemanusiaan, tetapi juga karena kewajiban dari Allah untuk menjaga Masjid Al-Aqsha dan tanah suci umat Islam.
Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan dalam surah Al-Isra ayat 1 tentang kedudukan, kesucian, dan kemulian masjid Al-Aqsha. Kesucian dan kemuliaan masjid Al-Aqsha dinistakan Zionis Israel sejak tahun 1948. Maka umat Islam seluruh dunia termasuk muslimah Indonesia wajib ikut mengembalikannya.
Tanah Palestina adalah tanah wakaf umat Islam yang saat ini sudah 85% dirampas penjajah Zionis Israel. Oleh karena itu, kita wajib merebut kembali tanah Palestina seutuhnya. Rasulullah Salallahu Alaihi wa Salam bersabda tentang azab bagi yang mengambil tanah umat Islam walaupun hanya sejengkal:
مَنْ ظَلَمَ قِيدَ شِبْرٍ مِنَ الأَرْضِ طُوِّقَهُ مِنْ سَبْعِ أَرَضِينَ
“Siapa saja yang merampas sejengkal tanah secara zalim, niscaya ia akan dibebani tujuh lapis bumi.” (HR Al-Bukhari dan Muslim)
Tidak bergeraknya kita untuk mengambil kembali tanah umat Islam yang dirampas merupakan pertanda kita setuju dengan penjajah Zionis Israel.
Diamnya para muslimah atas penderitaan yang sedang dihadapi perempuan Gaza akan menjadi hisab di akhirat. Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menurunkan azab kepada manusia yang menyiksa makhluk-Nya. Rasulullah Salallahu Alaihi wa Salam bersabda:
“Dari Abdullah bin Umar radiyallahu anhu: Bahwasanya Rasulullah Salallahu Alaihi wa Salam bersabda: “Seorang perempuan diazab karena menyiksa seekor kucing yang diikat sampai mati. Allah pun memasukkannya ke neraka. Perempuan itu tidak memberikan makan atau minum ketika mengurungnya. Tidak juga membiarkannya mencari makan dari serangga-serangga di bumi.” (HR. Muttafaqun ‘Alaihi)
Bagaimanakah dengan muslimah Indonesia yang tidak bergerak untuk menghentikan blokade (kurungan) dan kelaparan di Gaza? Hadist ini mengingatkan kita para muslimah untuk bersama-sama berjuang menghentikan genosida dan kelaparan di Gaza serta kita bebas dari azab Allah SWT.
Hal ini juga dipertegas dengan hadist lain mengenai ancaman (kemarahan) dari Allah Subhanahu wa Ta’ala jika kita membiarkan saudara-saudara kita kelaparan.
Rasulullah Salallahu Alaihi wa Salam bersabda: “Tidaklah beriman kepadaku orang yang kenyang semalaman sedangkan tetangganya kelaparan di sampingnya, padahal ia mengetahuinya.” (HR At-Thabrani)
Kata “tidak beriman” merupakan ancaman (kemarahan) dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Pembantaian, genosida dan pembunuhan dengan cara melaparkan rakyat Gaza akan memasuki tahun kedua pada tanggal 7 Oktober 2025 .Sudah waktunya kita menggerakan muslimah Indonesia yang belum bergerak dan menghimpun kekuatan muslimah Indonesia untuk memaksimalkan perjuangan membantu perempuan Gaza.
Ada empat hal yang bisa dilakukan para muslimah Indonesia dalam membantu perempuan Gaza:
- Terus mengedukasi diri, keluarga dan jaringan perempuan tentang permasalahan Palestina;
- Menghimpun kekuatan muslimah dari berbagai profesi untuk bergerak bersama-sama;
- Menghimpun kekuatan dana untuk mengobati yang sakit, mengenyangkan yang lapar,dan memenuhi kebutuhan mendasar di Gaza; dan
- Mendo’akan Gaza dengan mempersiapkan diri dengan kebersihan lahir batin, agar do’a yang kita panjatkan diijabah Allah, tidak dihalangi oleh kemaksiatan diri.
Semoga dengan empat hal di atas, kita tidak termasuk yang diingatkan oleh Abu Ubaidah:
“Wahai para pemimpin Arab dan negeri muslim, kalian akan jadi musuh kami di pengadilan akhirat nanti. Kalian akan berhadapan dengan para korban anak-anak dan orang tua yang tewas dan kelaparan nanti di pengadilan Allah.”
Para muslimah Indonesia yang melakukan sesuatu dengan apa yang mereka bisa seakan sedang menyicil hutang kita kepada rakyat Palestina. Sebagaimana yang disampaikan Dr. Yusuf Al-Qardhawi: “Selama Palestina belum merdeka dan Masjid Al-Aqsha belum kembali kesuciannya ke tangan umat Islam, maka selama itulah umat Islam punya hutang terhadap Palestina.”








