Wathanul Anbiya, Negeri Para Nabi

by

Palestina adalah tempat berdirinya Masjidil Aqsha serta tempat lahirnya para nabi dan rasul yang merupakan milik umat Islam. Karena mereka lah pengaruh risalah kenabian. Di negeri Palestinalah mereka dahulu menjadi penyebar tauhid hingga di Jazirah Arab hingga ke pelosok dunia. Hingga tak salah kalau kita katakan bahwa bumi Palestina adalah negara para nabi.

Palestina dan khususnya Baitul Maqdis bukan tempat biasa. Sangat istimewa! Allah dan Rasulullah SAW yang langsung mengistimewakannya. Mayoritas para rasul dan nabi dilahirkan, dibesarkan, berkarya, dan meninggal di wilayah ini. Risalah Risalah Wahyu juga diturunkan di sini. Peristiwa-peristiwa besar bersejarah sudah terjadi di sini, dan peristiwa-peristiwa besar di masa depan juga dinubuwahkan akan terjadi di sini. Seperti yang sejak belasan abad yang lalu dideskripsikan oleh Allah SWT dalam surah al-Isra ayat 1,

“Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.”

Seperti juga yang Allah jelaskan pada peristiwa yang dialami nabi Musa a.s. dalam surah al-Maidah ayat 21,

“Wahai kaumku! Masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu berbalik ke belakang (karena takut kepada musuh), nanti kamu menjadi orang yang rugi.”

Negeri suci yang dimaksudkan dalam ayat ini adalah Palestina dan Baitul Maqdis. Al-Qur’an menyebutnya muqaddasah (yang disucikan), dan kesucian itu mencakup makna keagungan, keberkahan, dan ketinggian derajat. Ketika nabi Musa a.s dan kaumnya diperintahkan memasuki wilayah ini, beliau berkata kepada mereka, “Sesungguhnya ia adalah tanah yang telah dijanjikan Allah kepadamu melalui mulut bapak kalian Israil (Ya’qub), sungguh itu adalah warisan bagi orang yang beriman diantaramu…”

Kemudian Nabi Musa a.s. memerintahkan mereka berjihad untuk masuk. Mereka pun beralasan dengan berkata, “Sungguh di dalam negeri yang kamu perintahkan kami masuk ke dalamnya dan memerangi penghuninya terdapat kaum yang kejam bertubuh besar dan sangat kuat, sungguh kami tak akan mampu melawan maupun menyerang mereka.”

“Kami tidak akan bisa masuk selama mereka berada di dalamnya. Jika mereka keluar barulah kami akan masuk. Jika tidak, tentu kami tak akan berdaya dihadapan mereka.”

Rekaman peristiwa dan dialog nabi Musa a.s. dan Bani Israil waktu itu di dalam Al-Quran, menunjukkan pentingnya wilayah ini dan orang orang yang berhubungan dengannya. Palestina merupakan negeri tempat para nabi alaihissalam menyebarkan ajaran ajaran Ilahi, sekaligus sebagai tempat hijrahnya mereka. Demikian juga Rasulullah Muhammad SAW, pernah mendatangi negeri ini serta menjalankan ibadah shalat di Baitul Muqaddas.

Nabi Ibrahim a.s., Hijrah ke Palestina

Nabi Ibrahim a.s. dibesarkan di Irak di dalam kondisi masyarakat yang menyembah berhala, yang nyata nyata bahwa berhala tersebut semuanya dibuat oleh ayahnya sendiri. Ayahnya pada waktu itu bekerja sebagai tukang pahat dan termasuk seorang dedengkot kaum paganisme di sana. Namun, Allah SWT berkehendak lain terhadap Ibrahim a.s., ia justru mendapatkan petunjuk-petunjukNya, ia pun sadar bahwa berhala-berhala yang disembah oleh kaumnya tersebut sama sekali tidak bisa mendengar, melihat ataupun mengabulkan doa-doa mereka, demikian juga tidak memberikan manfaat sama sekali.

Fenomena kegelisahan Nabi Ibrahim a.s. terhadap umatnya ini bisa kita lihat dalam Firman Allah SWT, “Dan sungguh, sebelum dia (Musa dan Harun) telah Kami berikan kepada Ibrahim petunjuk dan Kami telah mengetahui dia. (Ingatlah), ketika dia (Ibrahim) berkata kepada ayahnya dan kaumnya, “Patung-patung apakah ini yang kamu tekun menyembahnya?” Mereka menjawab, “Kami mendapati nenek moyang kami menyembahnya.” Dia (Ibrahim) berkata, “Sesungguhnya kamu dan nenek moyang kamu berada dalam kesesatan yang nyata.” (Q.S. Al-Anbiyaa’: 51-54)

Ibrahim a.s. kemudian menyendiri dari kehidupan kaumnya yang telah mengalami kerusakan tersebut, lalu ia memutuskan untuk melakukan sesuatu. Ketika orang-orang keluar untuk merayakan hari keagamaan mereka, Ibrahim justru memasuki tempat peribadatan kaumnya dan menghancurkan seluruh patung yang terdapat di dalamnya dan hanya meninggalkan satu patung yang paling besar saja, ia berharap bahwa kaumnya akan mengerti dan menyadari logika kejadian tersebut.

Akhirnya mereka mengetahui bahwa yang menghancurkan “tuhan-tuhan” mereka itu adalah Ibrahim, maka segera ia dipanggil untuk diadili oleh kaumnya sendiri yang akhirnya diputuskan bahwa Ibrahim a.s. harus dibakar hidup-hidup. Namun berkat karunia Allah SWT yang Maha Kuasa, api yang sedang membakar jasad Ibrahim justru berubah menjadi makhluk yang dingin sehingga Ibrahim pun selamat dari maut.

Mereka berkata, “Bakarlah dia dan bantulah Tuhan-Tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak berbuat.” Kami (Allah) berfirman, “Wahai api! Jadilah kamu dingin dan penyelamat bagi Ibrahim,” dan mereka hendak berbuat jahat terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling rugi. (Q.S. Al-Anbiyaa’: 68-70)

Pada perkembangan selanjutnya, tidak ada satu orang pun dari kaum bapaknya itu yang mengikuti seruan Ibrahim a.s. untuk bersama-sama beriman kepada Allah SWT. Waktu itu, yang beriman hanya istrinya yang bernama Sarah, kemudian anak saudaranya yang bernama Luth bin Harun dan Tareh yang beriman akan kenabian Ibrahim a.s. sekaligus seruan-seruannya, akhirnya Ibrahim a.s memutuskan untuk berhijrah bersama dengan istrinya ke Palestina.

“Dan kami selamatkan Ibrahim dan Luth ke sebuah negeri yang kami telah berkahi untuk sekalian manusia.” (QS. al-Anbiya 71). Yang dimaksud dengan negeri di sini ialah negeri Siam, termasuk di dalamnya Palestina. Tuhan memberkahi negeri itu artinya, kebanyakan nabi berasal dari negeri ini dan tanahnya pun subur.

Pada saat itu Palestina dihuni oleh bangsa Kan’an. Kemudian Ibrahim dan istrinya tinggal di Shakeem atau sekarang kota Nablus. Dari sini kemudian ia melanjutkan hijrahnya menuju Mesir, lalu ketika Mesir dilanda musibah kekeringan dan paceklik yang berkepanjangan, Ibrahim a.s. bersama dengan putranya yang bernama Ismail melakukan perjalanan hijrah lagi ke Mekah yang pada saat itu sama sekali tidak ada penghuni dan juga tidak ada sumber mata air. Kemudian ia memutuskan untuk kembali ke Palestina dan meninggal dunia di sana. Nabi Ibrahim a.s. dimakamkan di kota Hebron yang sekarang disebut dengan kota al-Khalil.

Nabi Ya’kub Bin Ishaq Bin Ibrahim a.s.

Nabi Ya’kub a.s. hijrah ke Palestina bersama-sama dengan anak-anaknya. Pada waktu kecil, karena ibunya mengkhawatirkan kondisi Ya’kub dari tindakan saudaranya yang bernama ‘Isou, Ya’kub dibawa ke rumah pamannya yang bernama Laban Men Madzaan Araam. Selama tinggal di sana ia mengembala kambing pamannya dan kemudian ia menikahi putri-putri pamannya yang bernama Liah dan Rahel, ia juga menikahi tetangga mereka yang bernama Zulfa dan Balha, dengan demikian akhirnya nabi Ya’kub memiliki 12 putra.

Lalu ia bersama-sama dengan ke-12 putranya ini hijrah ke Palestina, pada saat itu ia mendapatkan karunia nikmat harta benda yang melimpah, sebagian dari hartanya ia berikan kepada saudaranya. Selama hidupnya Nabi Ya’kub hidup berjauhan dari putranya yang bernama Yusuf. Pada suatu saat saudara-saudaranya mencelakai Yusuf dengan melemparkannya ke dalam sebuah sumur, hal ini sudah mereka rencanakan untuk mengelabui bapaknya (Ya’kub a.s.), mereka mengatakan bahwa Yusuf telah meninggal.

Namun berkat kekuasaan Allah SWT, Yusuf akhirnya diselamatkan oleh kaum pedagang yang sedang mengambil air di sumur tersebut, ia pun dibawa ke Mesir dan seperti yang digambarkan di dalam Al-Quran. Di Mesir Yusuf hidup sebagai orang kepercayaan raja untuk mengatasi permasalahan-permasalahan yang dihadapi Mesir. Sampai pada suatu ketika, Mesir dilanda kekeringan yang sangat lama. Di mana-mana kering kerontang. Tanah pun menjadi tambah berdebu.

Hingga suatu ketika, negara mengumumkan kepada rakyatnya untuk datang guna mendapatkan bahan kebutuhan rumah tangga. Dan rupanya pengumuman itu didengar oleh saudara-saudara dari Yusuf a.s. tersebut. Ia dapati saudara-saudaranya yang dahulu mencelakainya datang ke Mesir untuk mendapatkan sembako. Hal tersebut terjadi karena dengan kepandaian Yusuf hingga membuat mereka membawa ayahnya ke Mesir. Akhirnyanya Ya’kub tinggal di Mesir bersama dengan Yusuf sampai ajal menjemputnya. Nabi Ya’kub dimakamkan di Palestina seperti yang diwasiatkan olehnya sebelum meninggal.

Nabi Isa a.s. Putra Maryam

Seperti para nabi yang pernah menghuni bumi Palestina. Nabi Isa adalah anak Maryam binti Imran a.s. yang lahir tanpa seorang ayah karena memang Allah SWT menghendaki demikian. Kata Isa ini diperkirakan berasal dari bahasa Aram, Eesho atau Eesaa. Yesus Kristus adalah nama yang umum digunakan umat Kristen untuk menyebutnya, sedangkan orang Kristen Arab menyebutnya dengan Yasu’ al-Masih.

Kemudian, ia diyakini mendapatkan gelar dari Allah dengan sebutan Ruhullah atau Kalimatullah. Karena Isa dicipta dengan kalimat Allah “Jadilah!”, maka terciptalah Isa, sedangkan gelar Ruhullah artinya ruh dari Allah karena Isa langsung diciptakan Allah dengan meniupkan ruh ke dalam rahim Maryam binti Imran.

Menurut teks-teks Islam, Isa diutus kepada Bani Israil, untuk mengajarkan tentang keesaan Tuhan dan menyelamatkan mereka dari kesesatan. Muslim percaya Isa telah dinubuwwahkan dalam Taurat, membenarkan ajaran ajaran nabi sebelumnya. Isa digambarkan juga dalam ajaran Islam, memiliki mukjizat sebagai bukti kenabiannya, seperti berbicara sewaktu masih bayi dalam peraduan, memberikan kehidupan pada burung yang terbuat dari tanah liat, menyembuhkan orang yang terkena lepra, menyembuhkan orang tuna netra, membangkitkan orang mati dan meminta makanan dari surga atas permintaan murid-muridnya. Beberapa kisah menyebutkan bahwa Yahya bin Zakaria pernah bertemu dengan Isa di sungai Yordan, sewaktu ya pergi ke Palestina.

Perjalanan dakwah Isa a.s. di tanah Palestina akhirnya berakhir ketika Allah SWT mengangkatnya ke surga. Muslim menyangkal adanya penyaliban dan kematian atas diri Isa di tangan musuhnya. Al-Quran menerangkan Yahudi mencari dan membunuh Isa, tetapi mereka tidak berhasil membunuh dan menyalibnya. Isa diselamatkan oleh Allah dengan jalan diangkat ke langit dan ditempatkan di suatu tempat yang hanya Allah SWT yang tahu tentang hal ini. Al-Quran menjelaskan tentang peristiwa penyelamatan ini. Allah SWT memastikan di mana posisi isa a.s. berada seperti dalam firmanNya, “Tetapi yang sebenarnya, Allah telah mengangkat Isa kepadanya, dan adalah Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (QS. Annisa: 158)

*ditulis oleh Hj. Nurjannah Hulwani, S.Ag
Ketua Koalisi Perempuan Indonesia Peduli Al Aqsha (KPIPA), dalam buku Kumpulan Hikmah yang Berserakan dari Bumi Gaza, Palestina (Sebuah Catatan Perjalanan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *