Al-Quds dalam Bahaya

by

Senin (14 Juni 2018) merupakan hari saat presiden Amerika Serikat Donald Trump akan memindahkan kantor kedutaan besar Amerika di Israel dari kota Tel Aviv ke al-Quds (Yerusalem). Hal tersebut merupakan situasi membahayakan bagi penduduk Palestina di al-Quds. Begitupun, kesucian Masjidil Aqsha akan makin ternodai. Kepindahan tersebut jelas-jelas merupakan sebuah pelanggaran terhadap resolusi Dewan Keamanan PBB tahun 1980 terkait larangan bagi setiap negara untuk menggelar misi diplomatik di Yerusalem.

Hal tersebut juga melanggar resolusi yang terbit tahun 1967, yang juga masih berlaku, bahwa status akhir Yerusalem harus diputuskan melalui negosiasi langsung antara Palestina dan Israel. Kepindahan tersebut juga ditentang 128 negara dalam voting yang dilakukan oleh Majelis Umum PBB pada 21 Desember 2017.

Ada tiga penodaan yang sudah dan akan terus dilakukan oleh Donald Trump dan Zionis Israel. Pertama, menjadikan al-Quds sebagai ibukota Israel. Kedua, mempersiapkan peresmian Kedubes Amerika Serikat di kota al-Quds yang disucikan Allah SWT dengan adanya Masjidil Aqsha yang diberkahi. Ketiga, hari ini bangsa Yahudi telah menandai al-Aqsha untuk memperingati hari sukses mereka mengusir 850.000 warga Palestina pada hari Nakbah (hari penderitaan) pada 15 Mei 1948. Oleh karena itu, jangan biarkan Palestina berjuang sendiri karena apa yang mereka perjuangkan adalah tugas dan perjuangan kita juga. Paling tidak, dengan doa doa yang kita panjatkan untuk mereka.

Semoga apa yang sudah dan akan kita lakukan untuk membantu Palestina mengundang keridoan Allah SWT sehingga Allah SWT pantaskan bangsa Palestina dan umat Islam meraih kemenangan menghadapi Donald Trump dan penjajah Yahudi. Jangan biarkan Palestina berjuang sendiri karena apa yang mereka perjuangkan adalah tugas dan perjuangan kita.

Penjajahan itu Kian Nyata

Rencana untuk membuka kantor Kedubes Amerika Serikat di al-Quds sudah dimulai sejak tahun 1995. Namun, pada era presiden Amerika Serikat Donald Trump baru diwujudkan. Rencana mewujudkan Kedubes Amerika di al-Quds tersebut telah diawali sebelumnya pada 6 Desember 2017, Donald Trump mendeklarasikan pengakuannya atas al-Quds, baik bagian timur maupun barat, sebagai ibukota negara penjajah (Israel).

Gelombang protes dan kemarahan beberapa negara dan umat Islam yang selama ini membersamai perjuangan rakyat Palestina tidak membuat Trump menghentikan langkahnya. Hari Senin, 14 Mei 2018, Donald Trump meresmikan kantor Kedubes Amerika Serikat di al-Quds. Peresmiannya diwakili oleh Wakil Menteri Luar Negeri John Sulivan, Menteri Keuangan Steve Mnuchin, dan putri Trump (Ivank bersama suaminya Jared Kushner). Upacara peresmian tersebut dipilih pada 14 Mei 2018 bersamaan dengan 70 tahun memperingati hari Nakbah -lebih dari 7 juta bangsa Palestina terusir dari rumah dan lahan mereka.

Hal yang sangat menjengkelkan bagi kaum muslimin dan bangsa Palestina adalah baru saja sepekan peresmian Kedubes Amerika Serikat di al-Quds, Dubes Amerika Serikat mulai memperkenalkan gambar area al-Quds, menurut versinya, dengan menghapus gambar al-Aqsha.

Kekejaman Tiada Henti

Zionis Israel bisa mengamputasi kaki-kaki pemuda Palestina dengan peluru sadis mereka, tetapi mereka selamanya tidak akan pernah bisa mengamputasi tekad dan semangat juang para pemuda Palestina untuk merebut kemerdekaan yang sudah dirampas selama 70 tahun lebih. Sepanjang aksi Kepulangan Akbar, (9 Desember 2018) tercatat telah 6.392 masyarakat Gaza yang di tembak tentara Israel. Sebanyak 6.392 masyarakat Gaza yang tertembak itu memiliki satu titik luka yang sama, yakni tentara Israel mengincar kaki bagian bawah dengkul, beytis, dan tulang kering. Tujuannya untuk membuat masyarakat Gaza cacat pada sisa hidup mereka agar tidak memiliki alasan dan kesempatan lagi untuk menghadiri aksi-aksi damai yang akan datang. (The National https://thenational.ae/world/mena/gaza-s-walking-wounded-israeli-snipers-have-shot-6-392-protesters-in-lower-limbs-this-year-1.800691)

Peluru yang digunakan tentara Israel untuk menembaki warga Gaza pada aksi Kepulangan Akbar adalah jenis peluru baru yang lebih mematikan. Tim medis dari NGO international yang melakukan amputasi atas korban penembakan menemukan proyektil peluru dengan bentuk mekar. Mereka menyebutnya peluru kupu-kupu (butterfly bullet). Dinamakan demikian karena karakter peluru jenis ini ketika di tembakan dari senjata sampai melubangi tubuh korban bentuknya masih bulat.

Ketika dalam tubuh, peluru yang awalnya bulat berubah makar dan meledak dalam tubuh, serta menghancurkan sel, pembuluh darah, dan tulang korban. Dampaknya lebih mematikan dan kecil kemungkinan bagian tubuh yang terkena tembakan peluru kupu-kupu dapat diselamatkan. Peluru kupu-kupu yang meledak dalam tubuh korban tersebut juga membuat lubang luka menjadi lebih besar sehingga amputasi adalah pilihan medis yang paling memungkinkan.

Ashraf al-Qedra, Juru Bicara Kementerian Kesehatan Palestina, dalam pernyataannya mengatakan, “Peluru kupu-kupu adalah peluru paling mematikan. Kaki yang tertembak tidak hanya berlubang, tetapi juga hancur dan tidak dapat diselamatkan lagi.” (Al Jazeera https://www.aljazeera.com/indepth/features/palestinians-face-explosive-bullets-dangerous-gas-bombs-180501091514736.html)

Gaza yang Teguh

Keteguhan warga Gaza dalam berjuang menghadapi penjajah Zionis Israel tidak diragukan lagi, bahkan keteguhan mereka membuat penjajah Israel emosi dan kewalahan menghadapi setiap perlawanan yang terjadi. Keteguhan ketika kondisi kehidupan negara dalam keadaan normal (merdeka) itu biasa, tetapi kondisi warga Palestina berbeda dengan kita (Indonesia). Mereka harus menghadapi kesulitan hidup bertubi-tubi, seperti belok ada yang sudah berjalan selama 13 tahun.

Blokade ini juga memicu kesulitan lainnya, seperti kesulitan ekonomi. Tidak heran jika persentase kemiskinan mencapai lebih dari setengah populasi di jalur Gaza, yakni 53%. Sementara itu, kemiskinan ekstrim mencapai 33,8%, ditambah lagi kesulitan dari sanksi pemerintah otoritas Palestina berupa pemotongan 50% gaji karyawannya di Jalur Gaza, selain Tepi Barat. Pengurangan listrik dan bantuan medis, serta ditambah kondisi sulit telah memaksa ribuan orang untuk pensiun dini.

Direktur Jenderal Pembangunan dan Perencanaan Kementerian Pembangunan Sosial, I’timad Tarshawi, menekankan bahwa blokade berkepanjangan merupakan faktor utama yang memperluas kemiskinan di Jalur Gaza. Hal ini mendorong PBB mengeluarkan imbauan (peringatan) bahwa Gaza tidak akan layak huni pada tahun 2020. Kondisi kesulitan hidup yang begitu berat tidak membuat warga Gaza berhenti dan putus asa dalam berjuang melawan penjajah. Sebaliknya, semangat juang sudah tertanam dalam setiap sanubari warga Gaza seperti yang diperlihatkan dalam perjalanan aksi Kepulangan Akbar tahun lalu (2018).

Penderitaan jiwa raga yang dirasakan warga Gaza sudah dianggap bagian dari keseharian yang harus dijalani dengan sabar dan tabah sebagai wujud totalitas pengorbanan untuk memperoleh kemuliaan dunia akhirat. Kemuliaan dunia sudah Allah SWT perlihatkan pada setiap agresi yang dilakukan Zionis Israel, seperti pada Perang Furqan (2008), Perang Hijjartusijjil (2012), Perang Asfu Ma’qul (2014). Allah SWT menganugerahi kemenangan dengan cara yang terhormat. Sementara itu, kemuliaan akhirat sudah Allah SWt berikan, yakni membasahi bumi Palestina dengan darah para syuhada yang tidak terhitung jumlahnya.

Pada aksi damai Kepulangan Akbar tersebut, segala pengorbanan jiwa raga yang dipersembahkan warga Gaza tidak pernah mengalir sia sia, termasuk jumlah warga yang gugur sebanyak 240 orang -dalam aksi damai selamat 10 bulan- dan warga yang luka parah sebanyak 24.000 selama tahun 2018. Namun dalam kurun waktu yang sama, Allah SWT telah menganugerahi kelahiran 57.000 bayi yang sebagian besar berjenis kelamin laki laki, Masya Allah.

*ditulis oleh Hj. Nurjannah Hulwani, S.Ag
Ketua Koalisi Perempuan Indonesia Peduli Al Aqsha (KPIPA), dalam buku Parade Heroik Pembebas Palestina

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *