Dahsyatnya Generasi Al-Qur’an Gaza, Mengungkap Rahasia Ketangguhan Rakyat Palestina

by

Oleh: Dr. Muqoddam Cholil, MA

Maksud dari Generasi Al-Qur’an:

  1. Generasi Al-Qur’an merujuk kepada generasi zaman Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya.
  2. Generasi yang disambung oleh tabi’in dan tabi’it tabi’in.
  3. Generasi yang menjadikan al-Qur’an dan sunnah sebagai panduan hidup, mengimani ayat-ayatnya, dan mengamalkan dalam kehidupan sehari hari. Perintah-Nya dijunjung tinggi dan larangan-Nya ditinggalkan.
  4. Generasi yang berusaha mengembangkan Islam ke seluruh penjuru dunia, penguasa zalim manapun akan dihadapi demi untuk membebaskan manusia dari penindasannya.
  5. Generasi yang berhasil menundukkan kemusyrikan Arab. Persia dan Romawi kalah, rakyat dari negeri yang dibebaskan itu berbondong-bondong masuk Islam.
  6. Generasi yang mencintai kematian sebagaimana mereka musuh mencintai kehidupan.

Generasi Al-Qur’an yang Membebaskan Persia dan Romawi

“Apabila kisra (Persia) telah binasa, maka tidak akan ada kekisraan lagi setelahnya. Apabila Kaisar (Romawi) telah binasa, maka tidak akan ada lagi Kekaisaran setelahnya. Demi Dzat yang jiwaku berada dalam genggaman tanganNya, sungguh kalian akan menginfakkan harta benda dari hasil keduanya di jalan Allah” (HR Bukhari dan
Muslim)

Generasi Al-Quran Menaklukan Eropa

Pelajaran yang bisa diambil:

  1. Ketika Islam kuat Umat Islam masuk ke Eropa sebagai penakluk. Namun ketika Islam lemah, umat Islam masuk ke Eropa sebagai pengungsi.
  2. Ketika Islam berkuasa menegakkan keadilan dan menebar rahmat. Namun jika lemah, umatnya menjadi sasaran penindasan dan kezaliman.

Gaza (Palestina) Sebelum Dakwah Syeikh Ahmad Yassin

Keadaan di Palestina (Gaza) sebelum dimulainya dakwah Syeikh Ahmad Yasin tidak jauh berbeda dengan keadaan negeri-negeri muslim lainnya di dunia Islam. Kondisi saat itu dapat digambarkan sebagai berikut:

  1. Menjamurnya tempat-tempat hiburan seperti bioskop.
  2. Ikhtilath, wanita keluar rumah tanpa menggunakan hijab adalah hal yang biasa.
  3. Di pantai dipenuhi oleh orang-orang yang berwisata walaupun tidak ada yang berbikini, terjadi ikhtilat antara laki-laki dan wanita.
  4. Masjid sepi dari anak-anak muda, isinya orang-orang tua
  5. Sedikit sekali program menghafal Al-Qur’an.

Perubahan nilai Islami mulai bersemi sedikit demi sedikit sejak dimulainya dakwah Islamiyyah yang digaungkan oleh Syeikh Ahmad Yasin dan teman-temannya. Ini terbukti dengan:

  1. Masjid-masjid mulai dipenuhi anak-anak muda yang haus akan Al-Qur’an dan ajaran-ajaran Islam.
  2. Tempat-tempat hiburan seperti bioskop mulai sepi pengunjung karena ditinggalkan.
  3. Para wanita kembali memakai jilbab. Pemandangan ini kami saksikan sendiri di Gaza tahun 2010 dimana tidak ditemui wanita yang tidak berjilbab.
  4. Setiap masjid mempunyai program tahfidz, anak-anak mulai menghafal Al-Quran, hingga Gaza termasuk pencetak huffadz yang besar di dunia Islam.
  5. Orang tua sangat bergembira ketika anak-anaknya tumbuh menjadi pembela Islam dan tanah air.

Siapa Syeikh Ahmad Yassin?

Syeikh Ahmad Yassin sudah yatim sejak usia 3 tahun. Beliau adalah pria keturunan Arab-Palestina yang lahirkan pada 1936 di desa Al-Jaurah, pinggiran kota Al- Majdal, sekitar 20 kilometer sebelah utara Jalur Gaza. Saat usianya belum genap 3 tahun, ayah Yassin wafat. Sejak itu dia tumbuh dan berkembang sebagai anak yatim.

Pada tahun 1948, kelompok-kelompok bersenjata Yahudi mengusir ribuan warga Palestina. Akibatnya, Yassin yang saat itu baru berusia 12 tahun bersama puluhan ribu warga Palestina lainnya pindah ke Gaza. Peristiwa pengusiran itu kemudian sangat memengaruhi gaya pemikiran dan politiknya. Sejak peristiwa itu, Yassin berpandangan bahwa berjuang di atas kaki sendiri jauh lebih berharga dibandingkan harus berpangku tangan pada bantuan negara-negara lain.

Pada tahun 1952, Yassin mengalami sebuah kecelakaan saat berolahraga bersama temannya Abdullah al-Khotib. Mereka main loncat-loncatan dipunggung bersama teman-
temannya seperti rukuk kemudian diloncati atasnya dan jatuh. Kecelakaan itu menyebabkan Yassin mengalami patah tulang leher hingga mengalami kelumpuhan permanen. Meski begitu, dengan segala keterbatasan fisik, akhirnya Yasin dapat menyelesaikan pendidikan Sekolah Menengah Atas pada tahun 1958.

Sejak kecil Ahmad Yassin berjiwa bijak, sabar, dan tabah. Ia tidak menceritakan kalau tubuhnya mengalami luka seperti itu karena
ulah temannya, al-Khatib. Semua itu dilakukannya semata-mata karena tidak ingin hubungan persaudaraan antara keluarganya dengan keluarga teman yang telah melukainya retak. Ia hanya mengaku terluka ketika sedang bermain lompat katak di
sekolahnya. Dia baru bercerita setelah temannya al-Khatib meninggal dunia.

Meski kondisi fisiknya tidak seperti orang normal, karena lumpuh, semangat belajarnya sangat tinggi. Ia adalah seorang kutu buku. Minatnya pada ilmu filsafat, agama, politik, sosiologi, dan ekonomi membuatnya menjadi seorang tokoh. Masyarakat Gaza pun menjulukinya sebagai salah seorang pembicara atau orator tebaik di Jalur Gaza.

Syekh Ahmad Yasin pun dipercaya untuk menyampaikan khutbah setelah shalat Jumat. Setiap kali tampil berpidato atau berceramah, massa menyemut mengelilinginya. Karier pertamanya adalah menjadi guru bahasa Arab pada sekolah dasar di Rimal, Gaza.

Pada tahun 1965, Yassin ditangkap bersamaan dengan gelombang penangkapan besar-besaran yang dilakukan oleh pemerintah Mesir. Setelah menjalani satu bulan di penjara, Yassin akhirnya dibebaskan karena tidak terbukti salah.

Keterlibatan beliau dalam dakwah membuatnya ditahan kembali dengan tuduhan membentuk kelompok bersenjata dan memprovokasi kerumunan.

Pada tahun 1983, Yassin dihukum 13 tahun penjara oleh Mahkamah Militer Israel. Selama masa tahanan, Yassin sering mengalami intimidasi, terutama dalam bentuk kekerasan fisik. Hal ini berdampak pada kesehatannya. Ia mengalami berbagai masalah kesehatan seperti kebutaan pada mata kanan, rabun mata kiri, radang telinga akut, dan penyakit kronis pada usus.

Pada tahun 1985, setelah menjalani penahanan selama 11 bulan, Yassin dibebaskan dalam pertukaran tawanan antara Israel dan Front Rakyat untuk Pembebasan Palestina.

Pada tanggal 1 Oktober 1997, Syekh Ahmad Yassin berhasil dibebaskan melalui perjanjian antara pemerintah Yordania dan Israel. Dalam perjanjian tersebut, ia seringkali dibebaskan sebagai bagian dari pertukaran dengan dua mata-mata Israel yang ditahan di Yordania atas percobaan pembunuhan terhadap kepala Khaled Meshaal.

Pembebasan Syeikh Ahmad Yassin disambut oleh puluhan ribu warga Palestina di Jalur
Gaza. Setelah pembebasan ini, ia melakukan kunjungan ke beberapa negara Arab untuk
mendapatkan perawatan medis. Setelah pulang dari luar negeri, tanpa mengenal kelelahan dan putus asa, Yasin berusaha untuk terus berjuang melawan Zionis Israel

Kebencian Zionis Israel terhadap Yassin mencapai puncaknya. Israel menganggap Syekh Ahmad Yassin sebagai pilar utama perlawanan rakyat Palestina yang perlu segera dihilangkan.

Meskipun kondisinya sudah lumpuh dan penglihatannya terbatas, Yassin masih mampu menginspirasi semangat para pemuda Palestina. Pada suatu pagi, tanggal 22 Maret 2004, Israel akhirnya memutuskan untuk menghabisinya. Saat sedang menjalankan salat subuh, Syekh Yassin diserang dengan misil dari helikopter militer Israel. Serangan itu langsung merenggut
nyawa Syekh Ahmad Yassin dan orang-orang yang sedang menjalankan shalat berjamaah bersamanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *